Melestarikan Lingkungan Kerja Galangan Kapal

Kegiatan di galangan kapal berpotensi menjadi sumber pencemaran lingkungan

Salah satu tanggung jawab dalam bekerja adalah menjaga kelestarian lingkungan. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kerusakan akibat dari aktivitas produksi perusahaan.

Kewajiban terkait lingkungan diatur dalam undang-undang Nomor 32 tahun 2009. Namun mengalami beberapa perubahan di dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

Terlepas dari adanya undang-undang atau peraturan dari pemerintah yang mengatur tentang lingkungan, sebagai makhluk sosial, manuasia secara dasarnya telah memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungannya.

Lingkungan yang terdiri atas udara, air dan tanah harus dipastikan tidak rusak. Ketiga unsur ini menjadi tanggung jawab bersama, agar tetap terjaga kelestariannya.

Udara

Di dalamnya terkandung kurang lebih 30 persen oksigen yang merupakan kebutuhan hidup manusia. Kesehatan manusia akan terpengaruh dari kondisi udara yang dihirupnya. Dan bukan hanya manusia, hewan dan tumbuhan juga akan tepengaruh dari dampak udara yang buruk.

Di muka bumi ini, manusia adalah yang paling bertanggung jawab menjaga udara agar tetap sesuai komposisinya. Hal yang mungkin merusak kualitas udara adalah masuknya zat seperti gas-gas, maupun partikel-partkel padat.

Semua zat yang mengganggu keseimpbangan komposisi udara disebut sebagai pulutan. Sumber polutan bisa dari kegiatan manusia, atau pun secara alami. Polutan yang berasal dari alam tidak banyak yang mampu dikontrol.

Namun yang terpenting adalah polutan yang muncul dari kegiatan manusia. Alat transportasi, pabrik, pnggalian mineral, pengoperasian tenaga pembangkit listrik, pemusnahan bahan residu/ sampah dari kegiatan sehari-hari dan sebagainya.

Air

Sebagian besar penyusun bumi adalah air. Ia juga merupakan kebutuhan pokok manusia dan semua makhluk hidup. Bisa dibayangkan bumi tanpa air bersih.

Kegiatan manusia yang tidak memperhatikan lingkungan adalah faktor utama penyebab tercemarnya air. Manusia harus bijaksana dalam hal ini.

Mulai dari perambahan hutan, pengerukan permukaan tanah, kegiatan pertambangan, industri dan aktivitas lainnya yang dapat menjadi sumber zat pencemar air.

Tanah

Tempat segala jenis tumbuhan yang menjadi sumber makanan bagi manusia dan hewan adalah tanah. Kerusakan tanah berarti ancaman bagi kelangsungan hidup manusia, hewan dan tumbuhan.

Masuknya materi sintetik yang dihasilkan oleh pabrik tidak mampu diuraikan oleh mikroorganisme di dalam tanah. Material sintetis lama kelamaan akan menumpuk di atas permukaan tanah.

Limbah mengandung bahan kimia juga mencemari tanah. Tumbuh-tumbuhan akan menjadi sulit untuk hidup. Sumber makanan akan terbatas. Kurangnya tumbuhan juga akan berpengaruh terhadap menipisnya kadar oksigen di udara.

Pencemaran Lingkungan pada Aktivitas Di Galangan Kapal

Bahan berupa B3 terkadang perlu digunakan dalam aktivitas kerja galangan kapal

Berbagai macam kegiatan di galangan kapal dapat menjadi sumber pencemaran lingkungan. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini tentu akan memberikan dampak buruk dalam jangka panjang.

  • Debu blasting dan pasir sisa blasting
  • Sisa cat untuk kegiatan coating
  • Kaleng-kaleng bekas cat
  • Sampah logam
  • Limbah cair dari kegiatan cleaning tangki
  • Bagian-bagian bekas perbaikan mesin kapal

Upaya Pengendalian Pencemaran

Dari sekian banyak pencemaran yang muncul dalam kegiatan pembangunan, perbaikan atau pun pembongkaran kapal, diperlukan adanya upaya agar lingkungan tidak menjadi rusak karenanya.

Melalui penerapan keselamatan kerja dan lindungan lingkungan, dilakukan pengelolaan sumber pencemar lingkungan dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Mengumpulkan zat zat pencemar
  • Melakukan threatment terhadap zat pencemar sesuai dengan jenisnya
  • Melakukan upaya reduce, yakni mengurangi timbulnya sumber pencemar
  • Memanfaatkan ulang zat yang berpotensi menjadi pencemar tersebut
  • Dan yang terakhir adalah bekerja sama dengan pihak pengelola yang memiliki izin untuk menangani limbah secara resmi

Sajian Warta Berkualitas untuk Masyarakat Cerdas

Media massa adalah salah satu sumber informasi yang sangat berpengaruh kepada cara pandang masyarakat, berita-berita berkualitas akan memberi sumbangsih positif pada peningkatan kecerdasan dan pola pikir.

Proses Membaca di Media Massa

Ketika saya (mungkin juga anda) membaca sebuah tulisan, tentu berharap menemukan nilai dari apa yang dibaca tersebut. Adalah sebuah hal yang sia-sia ketika selesai membaca, namun kita tidak lebih paham atau bahkan justru menjadi semakin bingung.

Bahan bacaaan yang baik adalah yang mampu menjadi sumber data dan informasi, tempat di mana orang-orang yang membacanya mendapatkan pencerahan. Dan salah satu sumber bahan bacaan adalah media massa.

Membahas tentang media massa, ada beberapa kriteria bagi sebuah media untuk dikatakan baik. Menurut Komala, dalam ejurnal yang ditulis oleh Silvia Riskha Fabriar dengan judul Etika Media Massa Era Global, menyatakan bahwa media harus:

  • menyampaikan berita yang benar, komprehensif dan cerdas,
  • menjadi forum, bukan sebatas penyampai berita tetapi merupakan wadah untuk pertukaran pendapat, komentar dan kritik,
  • dapat memberikan gambaran khas dari kelompok masyarakat guna menghindari konflik sosial akibat isi berita yang disajikan,
  • bisa menjadi instrumen pendidik masyarakat, sehingga dapat menjelaskan tujuan dan nilai-nilai masyarakat,
  • mampu membuka akses ke berbagai sumber informasi dan kemudian menjadi lumbung data yang diperlukan oleh masyarakat atau pun pemerintah.

Dari Kacamata Pembaca

Kriteria-kriteria yang disebutkan di atas adalah versi para pakar di bidang ilmu komunikasi massa. Berikut ini adalah beberapa hal yang menurut pandangan kacamata saya (sebagai pembaca) perlu untuk dipenuhi oleh media massa sebagai sumber informasi;

Tulisan yang baik, mengarahkan pola pikir pembaca menjadi lebih bijaksana

1. Menyajikan Fakta, Bukan Fake

Maraknya kepentingan dari berbagai pihak yang ingin mengambil keuntungan pribadi, menyebarkan berita-berita bohong (hoax) untuk menggiring opini, sehingga kita sulit membedakan mana benar dan mana yang bohong.

Informasi yang disebarkan melalui media sosial, yang tidak jelas sumbernya bermula dari mana, sangat berpotensi menimbulkan kegaduhan dan konflik horisontal. Media massa diperlukan dalam hal ini sebagai mistar, untuk meluruskan informasi yang simpang siur.

Sebagai pembaca yang selalu diliputi rasa ingin tahu, saya pribadi sangat berharap berita yang saya baca dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Saya berharap, informasi yang saya dapat dari media adalah data faktual.

2. Kemudahan Akses

Di Era Industri 4.0, yang mana informasi bergerak dengan cepat sehingga apa yang terjadi di berbagai belahan dunia, dalam hitungan detik dapat segera diketahui. Hal ini menyebabkan timbulnya ketergantungan pada kecepatan akses terhadap informasi. Kita berharap data apa pun yang diperlukan, dapat segera sampai ke tangan.

Kecepatan dan kemudahan akses adalah salah satu kriteria yang diperlukan oleh media massa untuk era sekarang ini. Kita bisa lihat, jumlah masyarakat yang memiliki smartphone hari ini semakin meningkat. Ini adalah peluang bagi media massa untuk melebarkan sayap, menebarkan informasi-informasi yang mencerdaskan bagi masyarakt.

Dunia bergerak dengan cepat saat ini. Segala sesuatunya ditawarkan dengan mudah dan cepat. Orang bisa bertransaksi jual beli hanya dengan sambil berbaring di kamar. Alangkah ironisnya jika media massa sebagai penyampai informasi penting, tertinggal dari kemudahan-kemudahan seperti itu.

3. Core Value

Sangat disayangkan, sebagian media massa di era sekarang ini cenderung mementingkan keuntungan sendiri. Kebanyakan media massa tidak memikirkan apa dampak bagi masyarakat dari setiap berita yang ditayangkan.

Tak jarang media berusaha menaikkan rating dengan menyuguhkan sesuatu yang sama sekali tidak bermanfaat, bahkan menyesatkan. Kita lihatlah berita-berita yang menggunjingkan kehidupan pribadi orang atau tokoh tertentu.

Sebagai orang Islam, saya ingin mengutip salah satu pesan kitab suci dalam agama saya yang artinya seperti ini;

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.

(QS. al-Hujuraat: 12).

Prinsip dasar atau core value dari sebuah media massa sangat penting.  Media massa diharapkan mampu mengambil peran untuk membangun masyarakat madani. Jika tidak didasari oleh niat yang mulia, maka media akan menjadi sumber rusaknya tatanan masyarakat dan negara.

Pengalaman Saya Membaca Koran Kaltim

Seorang karyawan yang bekerja di lokasi perusahaan dengan jarak yang jauh sekali pun dapat dengan mudah mengakses berita melalui media massa online.

Saya baru mengenal Koran Kaltim. Pengalaman membaca berita dari media yang berbasis di kota Tenggarong, Kalimantan Timur ini sebenarnya baru saya mulai ketika seorang teman menyarankan untuk ikut kompetisi menulis.

Kebutuhan untuk mengenal media massa ini membuat saya perlu melakukan eksplorasi terhadap isi tulisan-tulisan di dalamnya. Dan setelah menelaah berbagai tulisan yang disajikan, menurut saya slogan: KORANKALTIM.COM Cerdas Bersama rakyat adalah kalimat yang pas.

Kehadiran media ini menurut saya adalah sebuah jawaban dari tingginya kebutuhan masyarakat akan sumber informasi yang dapat dipercaya dan sebagai kendali terhadap berita-berita bohong alias hoaks.

Berikut adalah beberapa poin positif yang saya temukan selama menelusuri tulisan di Koran Kaltim:

1. Sumber Berita Terpercaya

Di tengah maraknya gempuran berita-berita hoaks, baik melalui media sosial maupun media massa abal-abal, maka diperlukan adanya sumber berita yang faktual. Berita bohong yang disebarkan secara massive seringkali mempengaruhi persepsi di tengah masyarakat. Jika tidak ada sumber berita yang dapat dipercaya, maka akan menyebabkan keresahan.

Dengan sertifikat verifikasi dari Dewan Pers yang diterbitkan pada 31 Oktober 2019 membuktikan bahwa Koran Kaltim telah memenuhi semua persyaratan undang-undang dan peraturan pers. Sehingga dengan demikian, berita yang dimuat dalam media ini tentu dapat dipercayai kebenarannya.

2. Rubrik yang Menarik

Mengusung slogan Cerdas Bersama Rakyat, Koran Kaltim berusaha menghadirkan berita-berita yang hangat dan informatif untuk disajikan kepada para pembacanya. Cakupan informasinya meliputi berita-berita terbaru yang diulas dalam kolom Headline.

Rubrik yang lengkap, mulai dari berita olahraga, kesehatan, gaya hidup, pendidikan dan ulasan berita dari daerah-daerah dalam kawasan Kalimantan Timur dan Utara menjadikan media yang didirikan pada tanggal 22 November 2006 ini layak menjadi rujukan sumber informasi.

3. Judul yang Relevan

Saya senang ketika meng-click sebuah judul tulisan dan isi yang dibahas memang sesuai dengan apa yang tergambar pada judul. Mungkin anda pernah mengalami hal yang sama, di-php-kan alias diberi harapan palsu oleh judul sebuah tulisan?.

Beberapa kali saya temukan berita yang membuat judulnya “dipaksakan”. Judul dipelintir sedemikian rupa sehingga menarik pembaca, namun isi yang disajikan berputar-putar tanpa ada sangkut pautnya sama sekali dengan judulnya.

Setelah membaca sebanyak tiga puluh tulisan, baik berita terbaru maupun yang lama, saya melihat Koran Kaltim tidak melakukan hal seperti itu (baca: membuat judul PHP). Semoga media ini tetap konsisten untuk cerdas dalam memilih judul yang menarik dan tetap sinkron dengan isi tulisannya.

Saya ingin mengambil contoh berita yang diterbitkan pada hari Minggu, 08 November 2020 dengan judul berita Diskominfo Kukar Ajak Awak Media Kenalkan Desa Budaya Lekaq Kidau.

Di dalam berita tersebut memang benar-benar menggambarkan tentang desa yang dicantumkan pada judulnya. Dan dari berita di atas, sebagai pembaca saya dapat mengetahui tentang adanya sebuah desa yang menarik untuk dikunjungi sebagai destinasi wisata budaya.

Tak Ada Gading yang Tak Retak

Kesempurnaan hanya milik Tuhan, media ini juga tidak lepas dari segala kekurangannya. Tanpa bermaksud mengungkit-ungkit kesalahan, sebaliknya saya ingin menyampaikan saran perbaikan dari seorang pembaca kepada media.

Selain typo (salah pengetikan), kaidah penulisan, panjang berita yang terlalu singkat juga menjadi perhatian saya. Sebagai pembaca, ketika menemukan sebuah judul tulisan atau berita, saya akan memiliki ekspektasi mengenai apa yang akan tersaji di dalam tulisan tersebut.

Sangat disayangkan apabila ulasan topik yang menarik seakan terhenti di tengah jalan, belum sampai pada titik klimaks. Sebagai pembaca, tentu berharap mendapatkan informasi yang lebih luas dan mendetail terhadap suatu pembahasan.

Saran dan Harapan

Terlepas dari kekurangan yang disebutkan di atas, saya berharap Koran Kaltim di usia yang ke-14 ini semakin baik, terus berkembang dan mengambil peran sebagai lumbung informasi yang mendidik dan benar-benar mampu berkontribusi dalam mencerdaskan bangsa. Seperti slogan yang telah digaungkan : KORAN KALTIM CERDAS BERSAMA RAKYAT.

HAPPY ANNIVERSARY YANG KE-14….

Postingan ini adalah dalam rangka saya mengikuti Blog Competition yang diselenggarakan oleh Koran Kaltim. Jika biasanya konten saya tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3), maka kali ini agak “melenceng” karena saya mengulas tentang media massa. Namun jika melihat isinya, blog saya dan media massa yang dibahas di sini adalah untuk tujuan yang sama, yakni memberikan informasi bermanfaat bagi pembaca.

Setelah melalui proses penjurian, alhamdulillah tulisan ini berhasil meraih Juara II dalam Blog Competition tersebut. Ini tentunya menjadi pemacu semangat untuk terus menulis guna memberikan informasi-informasi bermanfaat.

APD yang Dibutuhkan Saat Bekerja Di Galangan Kapal

Meskipun sebagai langkah pengendalian terakhir, alat pelindung diri (biasa disingkat APD) atau Personal Protective Equipment, tetap merupakan sebuah kebutuhan. Seperti halnya bagi kami yang bekerja di galangan kapal. APD selalu diperlukan dalam banyak pekerjaan kami.

Sebelum melanjutkan pembahasan mengenai jenis APD yang diperlukan saat bekerja di galangan kapal, ada tiga hal yang perlu kita pahami tentang alat pelindung diri;

Fungsi APD

Dikatakan bahwa alat pelindung diri adalah sebagai pertahanan terakhir terhadap potensi bahaya yang mengancam. Fungsinya adalah mengurangi dampak dari sebuah insiden atau paparan bahaya.

Jadi, fungsi APD bukanlah sebagai pencegah terhadap sebuah insiden. Dengan memakai alat pelindung diri bukan jaminan bahwa seseorang akan terhindar dari sebuah kejadian kecelakaan. Namun dengan APD tersebut, diharapkan cedera atau dampak kecelakaan akan diminimalkan.

Standar APD

Mengenai standar APD, tentunya kita perlu menyesuaikan dengan kondisi perusahaan. Karena pada umumnya, semakin lengkap standar yang dipenuhi oleh suatu APD, maka harganya juga akan semakin tinggi.

Kita jangan memaksakan diri untuk menggunakan APD dengan standar Eropa, jika memang kondisi perusahaan belum mampu. Standar APD ini juga biasanya diminta oleh pelanggan atau costumer, sehingga perusahaan perlu mengikutinya. Namun jika itu tidak dipersyaratkan, maka Standar Nasional Indonesia (SNI) sudah cukup.

Masa Pakai

Perhatikan tanggal masa kadaluarsa saat membeli APD. Bukan hanya makanan yah, alat pelindung diri juga ada jangka waktu layak pakainya. Jika sudah kadaluarsa, maka bahan APD tidak akan mampu memberikan perlindungan maksimal bahkan bisa rusak dengan sendirinya.

Susunlah standar pemilihan APD, tetapkan tanggal fabrikasi APD yang boleh dibeli, dan tentukan berapa lama alat pelindung tersebut dapat digunakan oleh karyawan. Contohnya, sepatu safety umumnya memiliki masa pakai selama 20 bulan. Maka ketentuan penggunaannya tidak boleh melebihi masa tersebut sejak tanggal fabrikasi.

Kebutuhan APD di Galangan Kapal

Alat Pelindung Diri atau Personal Protective Equipment

Ragam aktivitas pekerjaan di galangan kapal dapat menjadi ancaman potensi bahaya bagi orang yang bekerja atau berada di area kerja. Seperti yang pernah saya tuliskan mengenai penerapan K3 di galangan kapal, di mana telah dijelaskan berbagai potensi-potensi bahayanya. Sebagai langkah terakhir dalam pengontrolan risiko, maka diperlukan alat pelindung diri. Berikut adalah beberapa APD yang diperlukan;

Safety Helmet

Helm keselamatan atau safety helmet. Fungsinya melindungi kepala dari benturan, tertimpa benda, tertusuk benda atau permukaan tajam, terpapar benda panas atau bahan berbahaya lainnya. Karena kondisi area kerja di galangan, maka helm tetap diperlukan saat anda memasuki area project atau zona yang ditentukan.

Coverall

Baju coverall, yakni pakaian yang menutupi seluruh anggota badan, mulai dari leher, kedua lengan hingga kaki. Melihat kondisi tempat kerja di galangan kapal, maka penggunaa baju coverall diperlukan untuk melindungi karyawan dari paparan benda tajam, permukaan logam panas, percikan api dan lain-lain.

Safety Shoes

Sepatu keselamatan atau safety shoes. Kaki adalah bagian anggota tubuh yang selalu terhubung dengan tempat kita berada. Kemana pun kita pergi, maka kaki yang akan bersentuhan langsung dengan potensi-potensi bahaya. Perlindungan kaki perlu dimaksimalkan saat masuk atau beraktivitas di area galangan kapal. 

Hand Glove

Sarung tangan atau safety glove. Selain kaki, yang sering berada di titik berbahaya adalah tangan. Saat bekerja, tanganlah yang digunakan menyentuh benda-benda kerja. Saat tangan bersentuhan dengan benda kerja, maka berbagai potensi bahaya dapat mengancam. Penggunaan sarung tangan diperlukan untuk melindungi.

Pelindung Pendengaran

Earplug dan Earmuff, berfungsi sebagai alat untuk melindungi pendengaran dari bahaya kebisingan yang berlebih. Manusia, pada normalnya hanya mampu menerima kebisingan 85 desibel selama delapan jam lamanya. Jika melebihi dari nilai ambang batas, maka akan menyebabkan kerusakan atau menurunnya daya dengar.

Pada pekerjaan di dalam tangki atau kompartemen yang sempit, karyawan disarankan menggunakan ear plug. Hal ini dimaksudkan agar lebih memudahkan saat bekerja atau berada di tempat-tempat yang sempit. Sementara untuk karyawan yang bekerja di ruang genset, atau workshop, jika memang diperlukan dapat menggunakan earmuff. 

Masker dan Respirator

Perlindungan pernapasan, yakni masker dan respirator. Aktivitas kerja di galangan seringkali mengharuskan kita berada di area yang udaranya terkontaminasi. Misalnya pekerjaan sandblasting yang menimbulkan debu, pekerjaan coating yang menghasilkan uap-uap berbahaya dari bahan cat dan thinner, atau dari pekerjaan pengelasan dan cutting. 

Safety Glass

Kaca mata atau safety glass, berfungsi untuk melindungi mata dari debu dan percikan benda-benda berbahaya. Saat melakukan pengawasan di tempat-tempat yang terdapat pekerjaan pengelasan, gerinda, fitting, bubut dan sebagainya, benda melayang atau flying object sewaktu-waktu dapat mengenai mata, maka perlu menggunakan pelindung. 

Perisai Wajah

Face Shield, khususnya pada pekerjaan gerinda, bahaya serpihan benda kerja atau pecahan mata gerinda sewaktu-waktu dapat terlepas dan mengenai wajah. Penggunaan face shield atau perisai wajah diperlukan, mengingat sudah beberapa kasus yang terjadi dan mengakibatkan cedera yang cukup serius, bahkan fatality. 

Pakaian Tahan Panas

Apron atau Welder Jacket. Pekerjaan pengelasan atau hot work yang melibatkan nyala api dan menimbulkan percikan logam panas menjadi ancaman bagi karyawan. Penggunaan baju kerja atau coverall biasa tidak dapat melindungi sepenuhnya dari potensi bahaya panas. Untuk itu diperlukan apron atau welder jacket yang didesain khusus untuk melindungi dari percikan api atau logam panas.

Blasting Helmet

Helm blasting, potensi terpapar debu dan percikan pasir tidak dapat dihindari bagi pekerja yang melakukan aktivitas sandblasting. Blasting helmet digunakan untuk melindungi operator sanblasting dari bahaya percikan pasir dan debu dengan cara memberikan suplai udara ke dalam helm melalui selang yang terpasang pada blasting helmet.

Alat Pelindung Jatuh

Pelindung jatuh, macam-macam jenis pelindung jatuh, antara lain full body harness, half body harness atau safety belt, work restraint system dan lain-lain. Digunakan apabila pekerjaan dilakukan pada permukaan terbuka atau akses kerja terbatas yang mempunyai potensi bahaya orang terjatuh dari ketinggian. 

Pelampung

Work Vest atau biasa disebut PFD (personal floating device) dan life jacket, fungsinya sama, yakni untuk melindungi orang dari bahaya tenggelam. Namun pada penggunaannya dibedakan, yakni work vest (PFD) diperuntukkan untuk aktivitas atau saat bekerja di permukaan air, sementara life jacket lebih kepada alat pertolongan saat terjadi kondisi darurat. 

Merancang Program K3 Galangan Kapal

Program K3 harus disusun sesuai dengan kondisi perusahaan

Galangan kapal adalah lingkungan yang padat aktivitas. Bekerja di ketinggian, pekerjaan panas, penggunaan alat berat, pesawat angkat dan angkut, penggunaan gas-gas dalam tabung bertekanan, bekerja di ruang terbatas dan banyak lagi yang lainnya.

Demi terwujudnya lingkungan kerja yang aman, pengurus atau manajemen perusahaan harus melakukan upaya penerapan keselamatan secara tepat. Agar target keselamatan dapat tercapai, maka perlu disusun program keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Bagaimana cara menyusun program K3 di galangan kapal, berikut pengalaman dan hal-hal yang menjadi catatan saya.

Langkah yang perlu dilakukan adalah membuat daftar keperluan di perusahaan untuk pemenuhan syarat K3. Sebagai pedoman, kita bisa melihat kriteria yang ada dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 50 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen K3. Berikut adalah beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam menyusun program K3:

1. Komitmen dan Kebijakan K3

Komitmen adalah landasan untuk penerapan K3 di perusahaan. Tanpa adanya komitmen dari pucuk pimpinan atau decision maker, maka K3 tidak akan pernah benar-benar berjalan. Sebelum jauh berbicara tentang program K3 yang akan dijalankan, sangat penting ditetapkannya komitmen dan kebijakan tentang keselamatan.  

Syarat komitmen K3 adalah pernyataan dalam bentuk pernyataan tertulis yang secara jelas menyatakan tentang komitmem perusahaan untuk menerapkan cara kerja yang aman demi keselamatan orang, aset, produk dan kelestrarian lingkungan.

Dalam pernyataan kebijakan K3 harus menjelaskan tentang sasaran yang hendak dicapai terkait keselamatan kerja dan lingkungan. Pernyataan kebijakan ini ditandatangani oleh pimpinan tertinggi perusahaan dan disebarluaskan kepada semua bagian-bagian terkait. Agar selalu relevan, komitmen dan kebijakan K3 harus selalu ditinjau secara berkala.

2. Inti Program K3

Program K3 perlu menjelaskan tentang detail tanggung jawab setiap level pekerja, mulai dari manajer, supervisor, pekerja, kontraktor dan pengunjung atau tamu. Di sini dijelaskan tentang bagaimana cara melaporkan kondisi yang tidak aman (unsafe condition) dan perilaku yang tidak aman (unsafe act), termasuk juga bagaimana merespon terhadap sebuah kejadian atau insiden di tempat kerja.

Sebagai pedoman baku di dalam perusahaan, umumnya digunakan prosedur-prosedur (SOP) maupun instruksi kerja (IK) yang disusun dan disahkan untuk dijalankan. Dokumen ini sebagai petunjuk dalam melakukan pekerjaan dengan aman, bagaimana menanggapi setiap insiden atau kondisi emergensi di perusahaan dan langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan dan perawatan fasilitas dan peralatan kerja.

3. Anggaran K3

Setiap perencanaan kegiatan, hal yang tidak bisa ditingglkan adalah biaya. Adalah hal yang mustahil untuk menjalankan program K3 tanpa adanya anggaran yang dipersiapkan untuk itu.

Menyusun program K3 harus memperhatikan anggaran. Persiapkanlah anggaran yang realistis. Sesuaikan kebutuhan program dan tentukan berapa biaya yang diperlukan. Sebab sesederhana apa pun kegiatan yang dilakukan, akan memerlukan dana, misalnya untuk kegiatan pelatihan K3 internal, setidaknya membutuhkan snack dan sebagainya. Jangan lupakan anggaran dalam Menyusun program K3. Karena tanpa anggaran, yakinlah program K3 hanya akan hebat di atas kertas.

4. Safety Commitee atau P2K3

Safety committee atau di dalam peraturan Republik Indonesia kita mengenal tentang Panitia Pembina Keselamtan dan Kesehatan Kerja (P2K3) adalah wadah untuk berdiskusi antara manajer, supervisor dan perwakilan pekerja dari masing-masing bagian untuk membahas isu-isu terkait keselamatan di dalam perusahaan. Ini adalah cara yang dinilai paling efektif untuk menemukan kendala-kendala dan menentukan langkah perbaikan terkait K3.

Untuk mempertemukan penerapan K3 dengan regulasi pemerintah, maka diperlukan bantuan seorang Ahli K3. Tugasnya adalah memberikan saran-saran terkait kondisi perusahaan dan kebutuhan pemenuhan undang-undang, peraturan dan persyaatan lannya terkait penerapan K3.

Ahli K3 bertugas melakukan pengecekan terhadap area kerja, melakukan identifikasi bahaya dan penilaian risiko, melakukan investigasi kecelakaan dan memastikan upaya pengendalian dan prosedu-prosedur keselamatan ditaati.

5. Orientasi K3

Dalam banyak kejadian kecelakaan kerja, tenaga kerja yang baru bergabung sering memberikan kontribusi terhadap timbulnya insiden. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang kondisi tempat kerja, cara kerja peralatan maupun prosedur atau metode yang digunakan.

Faktor psikis atau mental juga banyak mempengaruhi terhadap tenaga kerja baru. Terlebih lagi jika mereka adalah freshgraduate yang minim pengalaman. Rasa canggung dan takut salah, menyebabkan mereka enggan bertanya, meskipun tidak tahu. Hal ini sangat berbahaya di tempat kerja.

Dengan melakukan orientasi, diharapkan orang-orang yang baru bergabung dapat selalu didampingi untuk mendapatkan pengawasan agar tidak melakukan hal hal yang berbahaya.

6. Pelatihan K3

Training atau pelatihan tentang keselamatan adalah salah satu inti dalam program K3. Pelatihan K3 juga merupakan salah satu persyaratan legal, yakni kewajiban pengurus untuk menyampaikan tentang potensi bahaya, cara kerja yang aman dan alat keselamatan yang diperlukan.

Tanggung jawab pengurus perusahaan untuk memastikan pelatihan-pelatihan terkait keselamatan telah dilakukan dan terdokumentasi. Dalam program K3 harus menerangkan tentang kebutuhan-kebutuhan pelatihan terkait K3 terhadap setiap jabatan dan fungsi di dalam orgranisasi atau perusahaan.

Kegiatan pelatihan dapat dilakukan secara internal maupun eksternal, tergantung kebutuhan pelatihan dan sumber daya yang tersedia.

7. Pemeriksaaan dan Pelaporan

Pemeriksaan atau inspeksi diperlukan untuk memastikan berjalannya penerapan K3. Dari proses inspeksi ini dapat ditemukan adanya potensi berbahaya di lingkungan kerja, baik berupa lingkungan, peralatan maupun perilaku manusia.

Temuan-temuan dari kegiatan inspeksi harus dilaporkan kepada pimpinan atau bagian yang memiliki tanggung jawab untuk melakukan perbaikan.

Agar temuan terkait keselamatan dapat diperbaiki, maka perlu dibuatkan sistem bagaimana cara agar memudhkan bagi siapa pun untuk  melaporkan kondisi yang tidak aman di tempat kerja.

8. Investigasi Kecelakaan dan Pelaporannya

Tidak ada sistem yang sempurna. Ada saja cacat dan celah sehingga di sebuah perusahaan timbul kecelakaan. Untuk mencegah kejadian serupa terulang lagi, maka setiap kejadian kecelakaan harus diteliti penyebabnya dan ditentukan langkah pencegahannya.

Proses investigasi terhadap insiden penting dilakukan untuk mencari faktor-faktor yang menjadi penyebab, menentukan kekurangan-kekurangan yang ada dalam sistem.

Meskipun hal ini penting, namun sayanganya, seringkali insvestigasi kecelakaan ini dilakukan seadanya. Tidak objektif dan transparan. Kurangnya pemahaman menyebabkan karyawan takut untuk memberikan keterangan yang mereka ketahui seputar kejadian kecelakaan.

Ini adalah tugas pengurus perusahaan agar dalam proses investigasi, semua yang terkait dengan kejadian kecelakaan dapat memberikan informasi yang nantinya bermanfaat untuk mencegah hal yang sama terulang.

9. Prosedur Emergency

Program K3 harus mempersiapkan tata cara menghdapi kejadian-kejadian yang tak diinginkan, semisal kebakaran, bencana alam, dan ledakan. Langkah yang tepat dan cepat harus diambil dalam situasi darurat untuk mencegah kerusakan, cedera atau korban, sehingga prosedur yang jelas diperlukan untuk menghadapi situasi darurat.

Pelatihan dan simulasi tanggap terhadap kondisi darurat perlu dilakukan secara berkala agar setiap orang yang berada di perusahaan bisa mengerti dan memahami.

10. Komunikasi dan Perjanjian Kerja

Pekerja atau karyawan, supervisor, dan manajemen harus terbuka untuk melakukan diskusi terkait keselamatan. Pertemuan secara rutin antara perwakilan karyawan dengan pengurus perusahaan diperlukan untuk membahas tentang insiden, potensi bahaya dan prosedur-prosedur keselamatan.

Dengan pernyataan dan sikap menajemen yang berkomitmen menerapkan aturan K3 tentu akan memberikan dampak yang besar terhadap kepatuhan semua lini di perusahaan.

Sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan, maka pengurus harus memastikan pihak eksternal yang terlibat juga ikut mentaati dan mendukung tercapainya target K3. Untuk itu, pengurus harus memasukkan item K3 sebagai salah satu persyaratan kontrak kerja, baik kepada karyawan maupun pihak kontraktor.

11. Pencatatan dan Evaluasi Program

Untuk melakukan perbaikan terhadap program K3, harus dilakukan pencatatan terhadap setiap kejadian atau insiden di dalam perusahaan. Perlu dilakukan penelusuran terhadap kejadian untuk melihat apakah jumlah insiden bertambah atau berkurang.

Pencatatan dan analisis data keselamatan akan membantu menunjukkan bahwa insiden cenderung terjadi pada satu bagian atau section tertentu.

Lakukan diskusi dengan bagian HR untuk mempelajari jika kecelakaan terjadi karena adanya hubungan dngan spesifikasi pekerjaan, kurangnya pelatihan, kurangnya pengalaman atau shift kerja yang terlalu panjang.

Jika telah mengetahui frekuensi dan penyebab insiden di tempat kerja, anda dapat memberikan rekomendasi untuk penyesuaian proses produksi dan kebijakan K3.

Kesimpulan

Demikian gambaran hal-hal yang menjadi perhatian dalam menyusun program K3 di galangan kapal. Dengan menjalankan program K3 di perusahaan, berarti manajemen telah memenuhi tanggung jawab moral dan pemenuhan legal seperti yang tercantum dalam undang-undang.

Dengan perencanaan program K3 yang tepat, perusahaan akan membentuk reputasi yang baik terhadap karyawan dan pihak-pihak eksternal. Menerapakan K3 berarti telah melakukan upaya mencegah kecelakaan, penyakit akibat kerja, kerusakan alat atau fasilitas perusahaan dan pengeluaran biaya-biaya yang terkait.

Keselamatan dan kesehatan kerja adalah investasi yang akan memberikan dampak positif terhadap kelangsungan hidup sebuah perusahaan.

Keselamatan Kerja Radiografi Di Galangan Kapal

Peralatan Radiografi

Guna memastikan kekuatan struktur bangunan sebuah kapal, petugas quality control (QC) harus melakukan pengujian kualitas. Salah satu metode pengujian yang digunakan adalah uji tak rusak (non destructive test) yakni menggunakan peralatan radiografi.

Teknis pelaksanaan uji radiografi ini dengan melakukan pengambilan gambar (foto) menggunakan kamera pemancar radiografi ke titik-titik yang ingin diuji. Bentuknya hampir mirip dengan pengambilan foto thorax di ruang rontgen, namun objek di sini adalah sebuah bangunan kapal.

Dari segi akurasi hasil pengujian dan biaya yang diperlukan, menjadikan uji radiografi sebagai metode pengujian yang sering digunakan pada project pembangunan kapal. Namun di balik manfaatnya tersebut, pengurus perusahaan harus memperhatikan faktor keselamatan dari risiko yang mungkin timbul.

Kamera radiografi yang digunakan untuk mengambil gambar saat uji NDT

Peralatan radiografi ini menggunakan zat radioaktif dan/atau pembangkit radiasi pengion, yakni sumber radiasi dalam bentuk pesawat sinar-X dengan energi di bawah 1 (satu) MeV dan pesawat energi tinggi dengan energi sama atau di atas 1 (satu) MeV.

Saya tentu tidak akan membahas tentang kamera atau peralatan radiografi ini secara detail, karena saya bukan ahlinya. Namun dari pengalaman kegiatan di lapangan, beberapa informasi berikut bisa saya bagikan.

Pengendalian Risiko

Hal paling utama dalam pengendalian risiko adalah menghilangkan (eliminasi) sumber atau mengganti (subtitusi) dengan material atau metode yang dinilai lebih aman. Namun jika kedua langkah tersebut tidak memungkinkan, maka diperlukan upaya lain untuk mengontrol bahaya.

1. Menggunakan Jasa Eksternal

Pada umumnya, perusahaan akan meminta pihak ketiga (instansi yang memiliki legalitas) untuk melakukan uji radiografi. Alih-alih menyimpan peralatan dan merekrut operator yang semuanya harus memenuhi persyaratan perizinan yang cukup ribet. Dengan menggunakan jasa pihak eksternal, ini dinilai lebih efektif. Tentu tergantung dengan kebutuhan di perusahaan.

Dari faktor keselamatan, menggunakan jasa pihak eksternal untuk melakukan pengujian radiografi adalah pilihan tepat. Perusahaan hanya perlu mengajukan penawaran pekerjaan, lalu pihak penguji radiografi datang ke lokasi pengujian dengan membawa peralatan, melakukan proses uji, dan kemudian pergi setelah memberikan hasil pengujian.

Keuntungan menggunakan jasa eksternal untuk melakukan uji radiografi di antaranya tidak perlu mengurusi segala jenis perizinan untuk menggunakan zat radioaktif, tidak perlu orang atau tenaga kerja khusus operator radiografi (OR), ahli radiografi (AR).

2. Persiapan Administrasi

Persiapan administrasi atau metode dalam pelaksanaan uji radiografi. Kita dapat menggunakan Job safety analysis (JSA) atau work permit khusus pekerjaan radioaktif (x-ray) untuk dijadikan pedoman dalam pengendalian risiko. Biasanya, perusahaan jasa uji radiografi yang memiliki sistem administrasi keselamatan kerja yang baik, mereka sudah menyiapkan identifikasi daftar potensi bahaya dan analisa risiko lengkap beserta dengan statment metodenya.

Pastikan juga memeriksa kelengkapan kalibrasi alat, baik peralatan kamera radiografi, dan kalibrasi alat detector radiasi. Ini penting untuk memastikan peralatan berfungsi dengan baik dan hasilnya akurat. Selain sertifikat kalibrasi alat, sertifikat kompetensi operator juga perlu. Jangan ragu untuk meminta bukti kepada pihak perusahaan jasa berupa sertifikat operator radiografi dan ahli radiografi.

Dengan kelengkapan administrasi tersebut, perusahaan akan memiliki jaminan hukum jika sewaktu-waktu terjadi hal tak diinginkan selama proses uji radiografi. Ini penting untuk diketahui oleh pengurus perusahaan, khususnya pengawas K3 atau HSE officer.

3. Langkah Aman Dalam Pelaksanaan Uji Radiografi

Sebelum memulai pekerjaan pengujian, penting untuk setiap orang yang terlibat mengetahui secara detail langkah-langkah dan apa risikonya. Terutama apabila petugas atau operator radiografi ini memerlukan bantuan dari pihak yang awam terhadap cara kerja radiografi. Untuk itu perlu dipastikan tercantum dalam JSA beberapa hal berikut:

  • Penetapan daerah pengendalian, ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh area yang akan terdampak dari kegiatan uji radiografi ini.
  • Petugas yang terlibat, operator dan helper, atau mungkin ada tambahan personel untuk tugas membantu lainnya. Mereka semua harus diberitahu dan benar-benar paham tentang langkah aman dalam pekerjaan ini.
  • Langkah-langkah kerja disertai potensi bahaya dan saran pengendalian untuk mengantisipasi potensi bahaya tersebut. Semakin detail diketahui apa potensi bahaya yang mengancam, maka semakin baik pula kesiapan untuk mengontrol risikonya.
  • Pengamanan atau penutupan area untuk sementara (bila diperlukan). Jika area kerja merupakan tempat yang terbuka da memungkinkan ada pihak eksternal masuk ke area, maka penutupan area perlu dilakukan.
  • Pemberian batas, dengan memasang tali kuning atau barricade tape atau biasa lebih dikenal dengan police line.
  • Tanda bahaya, pasang tanda atau rambu K3 yang dapat memberikan informasi tentang adanya bahaya radiasi. Biasanya ada tanda khusus untuk radiasi. Menggunakan lampu flip flop juga bisa untuk menarik perhatian orang lain agar mengetahui bahwa sedang ada sesuatu yang khusus di area tersebut.

4. Perlengkapan Proteksi Radiasi

Berikut adalah beberapa peralatan yang digunakan untuk mengurangi risiko paparan radiasi saat melakukan pekerjaan uji radiografi:

  • Pendos
  • Survey meter
  • Kolimator
  • Tang penjepit bertangkai dengan panjang paling kurang 1 m (satu meter);
  • Lempeng Pb atau perisai radiasi lain yang setara dengan ukuran yang memadai;
  • Tanda radiasi;
  • Peralatan peringatan yang dapat dilihat dan/atau didengar;
  • Tali kuning;
  • Kontener
  • Tang potong bertangkai panjang, paling kurang 0,5 m (lima per sepuluh meter); dan
  • Go No Go gauge.

Pekerjaan radiografi adalah aktivitas yang jarang dilakukan di perusahaan dan kurangnya referensi menjadikannya terasa sulit untuk dipahami. Pengalaman terlibat dalam pekerjaan ini memaksa saya untuk mencari sebanyak mungkin informasi untuk memastikan pekerjaan di tempat saya bekerja berlangsung aman. Hal ini yang menjadi alasan untuk saya menuliskan informasi ini agar dapat memberikan sedikit gambaran.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa ini adalah pedoman yang valid, akan tetapi hanya sekedar tambahan informasi. Jika ingin mendapatkan informasi yang lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, anda dapat menghubungi pihak yang berwenang pada bidang ini, seperti BAPETEN misalnya.

Semoga tulisan ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembacanya, terutama bagi orang-orang yang sedang mengalami hal yang pernah saya alami (keterbatasan informasi K3 radioktif). Jika anda adalah ahlinya dan mendapati kekurangan dalam tulisan ini, mohon dikoreksi demi kita semua. Sebab kita sepakat, Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah tanggung jawab kita semua.

Keselamatan Kerja Penggunaan Listrik di Galangan Kapal

Listrik masih menjadi salah satu kebutuhan pokok untuk menunjang operasional kerja di galangan kapal

Kita tahu, listrik merupakan suatu kebutuhan namun juga memiliki potensi bahaya yang dapat merugikan, baik berupa kerugian harta benda maupun jiwa manusia. Potensi bahaya listrik yakni berupa sengatan arus yang menyebabkan henti jantung dan luka bakar. Selain kepada manusia, potensi bahaya kebakaran dari penghantar arus yang overload atau sambungan yang buruk.

Sebelum menggunakannya, perlu bagi kita mengenali sifat-sifat listrik. Di sini saya ingin mengulas tentang penggunaan energi listrik di galangan kapal. Penggunaan arus listrik di galangan kapal meliputi:

  • kebutuhan mesin las,
  • mesin gerinda,
  • mesin blower,
  • lampu penerangan
  • Dan berbagai macam peralatan lainnya yang memerlukan tenaga listrik sebagai sumber energi. Dapat saya katakan bahwa fungsi tenaga listrik cukup penting dalam kegiatan operasional di galangan kapal.

Resiko Penggunaan Listrik di Galangan Kapal

1. Aktivitas di tempat terbuka (outdoor)

Penggunaan tenaga listrik di outdoor perlu menjadi perhatian bagi karyawan dan pengurus di perusahaan. Kondisi cuaca hujan dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Mengingat bahwa resiko sengatan arus listrik dapat meningkat saat peralatan dalam kondisi basah. Demi keselamatan, kerja, sangat dianjurkan penggunaan alat kelistrikan yang kedap air (waterproof). Meskipun harga peralatan mungkin sedikit lebih mahal, namun tingkat keselamatannya tentu lebih terjamin.

2. Lokasi berpindah-pindah titik (portable)

Selain outdoor, aktivitas di galangan kapal umumnya dilakukan secara berpindah-pindah. Sehingga peralatan listrik yang digunakan bersifat sementara (temporary). Kondisi ini berdampak pada meningkatnya resiko kerusakan isolator peralatan yang disebabkan oleh perpindahan peralatan. Perlu tanggung jawab setiap karyawan dalam mencegah kerusakan yang dapat menyebabkan terjadinya kebocoran arus listrik. 

3. Medan kerja bersifat konduktor

Konstruksi kapal yang berupa logam adalah penghantar arus listrik (konduktor) yang baik. Bekerja di atas kapal berarti berada di permukaan logam yang secara keseluruhannya merupakan penghantar arus listrik. Kebocoran arus listrik pada satu titik akan terhubung ke seluruh permukaan pelat kapal. Ini sangat penting diperhatikan.

Keselamatan dalam Penggunaan Listrik di Galangan Kapal

Demi alasan keselamatan dalam penggunaan arus listrik maka diperlukan perlengkapan keselamatan (safety device). Untuk peralatan-peralatan kerja yang digunakan harus dilengkapi dengan;

  • circuit breaker pada panel listrik yang berfungsi untuk memutuskan arus secara otomatis jika terjadi hubungan singkat (short circuit),
  • sitstem pembumian (grounding) yang berfungsi menyalurkan arus listrik jika terjadi kebocoran.
  • tombol darurat (emergency button)
  • rambu peringatan tanda bahaya

Pengecekan alat kelistrikan secara rutin perlu dilakukan untuk memastikan peralatan dalam keadaan aman untuk digunakan. Pemasangan grounding juga penting dilakukan dari body kapal (hull) untuk menyalurkan arus listrik menuju ke tanah. Perlu untuk memastikan bahan grounding yang digunakan memiliki daya hantar yang baik (disarankan maksimal tahanan 5 ohm) atau sesuai dengan standar yang ditetapkan pemerintah. 

Saat sedang melakukan pekerjaan di sekitar panel listrik atau generator, gunakanlah alat pelindung diri untuk pekerjaan kelistrikan berupa:

  • safety helmet,
  • sarung tangan karet,
  • sepatu yang mampu mengisolasi energi listrik (insulated).
  • pakaian atau baju coverall

Tips Aman Penggunaan Arus Listrik di Galangan Kapal

  • Hilangkan energi listrik sebelum memulai pekerjaan perbaikan, menyambungkan kabel, atau saat sedang melakukan maintenance rutin. Jangan pernah menduga-duga sebelum memastikan bahwa sumber energi telah diputuskan. Gunakan test pen untuk memastikannya.
  • Pastikan power listrik dalam posisi OFF sebelum melakukan perbaikan peralatan listrik
  • Gunakan sistem LOTO (Lock Out Tag Out) sebelum melakukan pekerjaan perbaikan listrik. 
  • Pastikan anda mengetahui tombol emergency STOP, saklar dan sumber power listrik.
  • Periksa kabel-kabel power untuk menghindari kerusakan insulator yang menyebabkan kebocoran arus listrik. Kabel sambungan hanya boleh digunakan untuk sementara waktu, tidak boleh dipasang permanen.
  • Perhatikan tangga, stik/galah, atau benda-benda yang dapat menghantarkan listrik saat menggunakan peralatan di dekat kabel jalur kabel power listrik. Petugas harus selalu memastikan di sekitarnya aman dari jangkauan arus listrik, jangan sampai menjadi diri sendiri sebagai penghantar arus listrik.
  • Berikan dan perhatikan tanda/label tentang adanya arus listrik
  • Jangan melakukan penggalian di area yang belum dipastikan posisi kabel power yang tertanam di tanah. Laporkan ke petugas electrical perusahaan untuk memastikan titik lokasi kabel power.
  • Panel-panel listrik harus ada grounding
  • Sediakan rak-rak untuk mesin/travo las, atau jika memungkinkan, gunakan mesin las/trafo yang didesain untuk pemakaian outdoor.
  • Rak-rak mesin las/travo yang ada di maindeck harus dilapis dengan bahan isolator pada alasnya agar  tidak terhubung langsung dengan lantai deck/body kapal
  • Perhatikan penggunaan blower di atas maindeck, alas blower harus bersifat isolator untuk mencegah kebocoran arus ke pelat maindeck,
  • Pengecekan pada blower menggunakan tespen perlu dilakukan untuk memastikan tidak ada kebocoran arus listrik
  • perhatikan kemungkinan terjadinya flash arc saat menghidupkan tombol power, hal ini dapat menimbulkan percikan api dan berakibat luka bakar serius.

Pencegahan sengatan listrik pada pengelasan:

  • Wewenang operator (welder) hanya sebatas kabel las dari stang las dan massa hingga pada socket (connector) yang ada di mesin/trafo las, menghidupkan dan mematikan mesin las, mengatur ampere pada mesin las yang akan digunakan
  • Clamp kabel massa harus terpasang dengan benar pada material yang sedang dilas
  • Kondisi pakaian, sarung tangan dan sepatu harus benar-benar kering pada saat melakukan pengelasan
  • Letakkan stang las pada tempat yang dapat mengisolasi arus listrik saat sedang tidak digunakan
  • Matikan mesin las saat istirahat atau akan meninggalkan tempat pengelasan
  • Lepaskan, gulung dan rapikan kabel-kabel las saat usai bekerja

Kondisi berbahaya saat tangan, sarung tangan, pakaian kerja dan sepatu dalam kondisi basah ketika sedang melakukan pekerjaan pengelasan.

Sengatan arus listrik juga dapat terjadi ketika stang las diletakkan pada benda kerja, hal ini disebabkan karena arus plus dari clamp massa terhubung dengan arus minus pada stang las

Penutup

Listrik adalah kebutuhan, namun memiliki potensi bahaya bagi manusia dan harta benda. Dengan melakukan upaya-upaya pengendalian resiko, listrik dapat mempermudah kehidupan manusia.

Lebih baik mengeluarkan sedikit tambahan biaya untuk menyediakan peralatan listrik yang aman, daripada menanggung kerugian yang tidak akan pernah bisa dibeli kembali. Jiwa manusia.

Keselamatan Kerja Operasional Pengangkatan

Operasional pengangkatan (lifting operation) merupakan salah satu kegiatan yang memiliki resiko tinggi

PAA sebagai Alat Operasional Pengangkatan

Di berbagai industri, penggunaan pesawat angkat dan pesawat angkut (PAA) banyak digunakan untuk membantu pekerjaan manusia. Material dan peralatan kerja yang berat bahkan manusia diangkut atau dipindahkan dengan menggunakan bantuan PAA. 

Definisi PAA itu sendiri pada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 8 Tahun 2020 tentang Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut, dapat diartikan sebagai:

  • Pesawat Angkat adalah pesawat atau peralatan yang dibuat, dan di pasang untuk mengangkat, menurnankan, mengatur posisi dan/atau menahan benda kerja dan/atau muatan.
  • Pesawat Angkut adalah pesawat atau peralatan yang dibuat dan dikonstruksi untuk memindahkan benda atau muatan, atau orang secara horisontal, vertikal, diagonal, dengan menggunakan kemudi baik di dalamatau di luar pesawatnya, ataupun tidak menggunakan kemudi dan bergerak di atas landasan, permukaan maupun rel atau secara terus menerus dengan menggunakan bantuan ban, atau rantai atau rol.

Unit-unit di perusahaan yang termasuk PAA terdiri atas forklift, manlift, crawler crane, tower crane, conveyor, overhead crane, trailer dan lain sebagainya.

Dalam pembahasan ini, saya ingin menguraikan tentang proses lifting operation menggunakan PAA berupa crawler crane. Berhubung karena saya lebih banyak pengalaman di industri galangan kapal, maka saya akan lebih banyak mengambil gambaran proses lifting di galangan kapal. 

Peralatan yang biasa digunakan dalam proses lifting operation dengan crawler crane terdiri atas:

  • sling (wire atau belt),
  • shackle,
  • tali pandu (tag line) dan
  • kupingan angkat (pad eye). 

Identifikasi Potensi Bahaya Operasional Pengangkatan

Semakin detail potensi bahaya yang ditemukan dalam suatu pekerjaan, maka semakin besar peluang untuk mengendalikan resiko. Oleh karena itu, perlu untuk mengenali potensi-potensi bahaya dari pekerjaan yang hendak dilakukan. Beberapa potensi bahaya yang menjadi catatan dalam melakukan kegiatan lifting operation menggunakan crawler crane di antaranya:

  • Tertabrak, terlindas atau tersenggol pada saat proses crane bergerak menuju lokasi pengangkatan,
  • Bahaya kelistrikan, terutama pada kabel listrik yang tergantung (hanging cable)
  • Tertimpa, terbentur atau terjepit material yang diangkat,
  • Material terjatuh
  • Crane overload dan roboh

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi lifting operation antara lain:

  • Kesiapan personel; terlatih, memahami langkah kerja dan memiliki sertifikat
  • Peralatan; pesawat angkat, alat ikat, shackle dan semua alat yang terlibat harus sesuai
  • Cuaca; hujan, kecepatan angin, petir, atau suasana berkabut
  • Lokasi; tempat pijakan crane, kemiringan permukaan atau kegiatan lifting di air
  • Waktu; sedapat mungkin tidak melakukan lifting di malam hari karena akan mempengaruhi pencahayaan

Persiapan Sebelum Operasional Pengangkatan

1. Personal

Personel atau anggota tim yang hendak melakukan kegiatan pengangkatan, umumnya terdiri atas operator, rigger (juru ikat), petugas pembantu (helper) dan signalman. Personel dalam tim lifting harus memahami dengan benar potensi-potensi bahaya, memahami cara kerja peralatan dan terlatih untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Operator pesawat angkat dan pesawat angkut harus terampil dan mampu mengontrol pergerakan alat secara baik dan benar, memahami kemampuan (load chart) dari unit yang dioperasikannya. Sebagai bukti pemenuhan kualifikasi, seorang operator harus dilengkapi dengan surat izin operasional (SIO) sesuai dengan jenis pesawat angkat dan pesawat angkut yang dioperasikan, yang diterbikan diterbikan oleh Menteri Ketenagakerjaan kerja RI.

Petugas rigger atau juru ikat, secara teknis harus mampu dan terampil dalam memperhitungkan beban dan menentukan kapasitas (WLL/SWL) alat angkat (shackle, sling) yang akan digunakan. Rigger juga harus menentukan titik ikat dengan terlebih dahulu menganalisa titik beban (centre of weight). Pada proses lifting, rigger juga bertindak sebagai pemandu operator untuk mengarahkan pergerakan alat angkat. Seperti halnya operator, seorang rigger juga harus dilengkapi dengan surat izin operasional (SIO) yang diterbikan oleh Menteri Ketenagakerjaan kerja RI.

2. Peralatan

Peralatan yang akan digunakan dalam lifting operation harus dipastikan kondisinya layak dan aman digunakan. Pastikan beberapa hal berikut sebelum menggunakan alat:

  • Kondisi unit crane terawat, dibuktikan dengan laporan pengecekan dan perawatan harian (P2H), dan memiliki surat layak operasional dari dinas tenaga kerja,
  • Kondisi sling (wire & belt) dalam kondisi layak dan aman digunakan
  • Shackle dalam kondisi layak dan aman untuk digunakan
  • Tersedia tali pandu atau tagline
  • Kupingan (pad eye) atau titik ikat pada material yang hendak diangkat dalam kondisi layak

3. Lingkungan

Lingkungan dan faktor cuaca dapat mempengaruhi kegiatan lifting. Perhatikan kondisi lingkungan sekitar, apakah terdapat cukup pencahayaan, bagaimana dengan kecepatan angin, bagaimana dengan landasan tempat berpijak crane? Semua perlu diperhatikan.

Untuk area yang akan menjadi lokasi lifting harus dalam kondisi bersih dari gangguan, baik yang berada di bawah maupun bagian atas. Salah satu yang perlu diperhatikan biasanya adalah kabel power listrik. Pembatasan area dengan menggunakan rambu atau pun barricade tape perlu dilakukan untuk mencegah masuknya orang-orang yang tidak berkempentingan ke area radius lifting.

Untuk memastikan hal tersebut di atas dilakukan, maka sebelum kegiatan lifting operation dimulai, ada baiknya petugas HSE melakukan pengecekan secara menyeluruh. Agar memudahkan, dapat menggunakan Lifting Operation Checklist sebagai pedoman terhadap item-item yang perlu dipenuhi.

Proses Operasional Pengangkatan

Petugas rigger memasang peralatan lifting pada material yang akan diangkat. Shackle dipasang pada titik-titk yang ditetapkan sebagai pusat beban (center of weight). Hal ini dimaksudkan agar keseimbangan beban tetap terjaga proses pengangkatan. Beban yang tidak seimbang berpotensi menyebabkan crane mengalami over load dan rubuh.

Untuk memandu material yang diangkat, petugas rigger perlu menggunakan tali pandu (tagline). Fungsi tali pandu adalah agar anggota tim lifting tidak menyentuh langsung material yang diangakat. Dengan demikian memberikan peluang kepada tim jika sewaktu-waktu beban bergerak di luar kontrol.

Selama proses liftitng, orang-orang dilarang melintas atau berada di bawah beban yang sedang diangkat. Setiap personel harus selalu memperhatikan posisi dan pergerakan material. Pastikan setiap personel selalu dalam posisi yang bebas dan memiliki akses jika sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat.

Petugas rigger memandu operator dalam melakukan pemindahan material menuju titik yang dikehendaki. Komunikasi yang biasa digunakan dapat berupa kode tangan (hand signal)  atau  radio HT . Komunikasi dengan hand signal harus disepakati antara operator dan rigger dan dilatihkan guna menghindari kesalahan instruksi. 

Usai Proses Operasional Pengangkatan

Setelah digunakan, sangat penting untuk melakukan pengecekan terhadap kondisi seluruh peralatan yang telah digunakan. Periksa kondisi crane, shackle, maupun sling yang telah digunakan. Pastikan tidak ada tanda-tanda kerusakan pada alat. Jika menemukan kerusakan pada alat lifting, maka lakukan perawatan atau penggantian sesuai dengan ketentuan penggunaan alat tersebut.

Referensi:

  • Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 8 Tahun 2020 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut