11 Pertanyaan Seputar HSE di Galangan Kapal

Beberapa hari yang lalu saya ditelepon oleh seorang teman yang sudah cukup lama bekerja di bidang keselamatan kerja. Hanya saja ia belum pernah bekerja di galangan kapal. Tujuannya menelepon saya kali ini untuk mengajak berdiskusi tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di galangan kapal.

Bukan pertama kali, sebelumnya sudah ada beberapa pertanyaan yang saya terima terkait pekerjaan di galangan kapal. Hal ini yang membuat saya berpikir untuk membuat tulisan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Hitung-hitung, berbagi cerita tentang “keseruan” bekerja di galangan kapal.

Berikut saya rangkum 11 pertanyaan yang sering ditanyakan seputar pekerjaan Health, Safety and Environment (HSE) di galangan kapal:

1. Apa yang menjadi perhatian utama terkait keselamatan kerja di galangan kapal?

Banyak. Tetapi intinya adalah kenali flow process aktivitas di lingkungan kerja, mesin-mesin dan peralatan apa saja yang digunakan dalam bekerja, kenali karakter manpower atau tenaga kerja yang ada.

Hal tersebut sebagai dasar dalam proses identifikasi sumber-sumber bahaya, penilaian risiko dan penentuan rekomendasi untuk langkah-langkah pengendalian bahaya.

2. Seperti apa struktur organisasi K3 di galangan kapal?

Sama dengan struktur organisasi perusahaan-perusahaan manufaktur lainnya. Di galangan kapal biasa digunakan istilah HSE Commitee untuk P2K3 (panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja). Komposisi strukturnya terdiri atas ketua, sekretaris dan anggota.

Posisi ketua HSE Commitee sedapat mungkin diisi oleh pimpinan tertinggi di perusahaan. Untuk posisi sekretarisnya adalah seorang Ahli K3 Umum, sesuai dengan peraturan menteri tenaga kerja RI. Anggota HSE Commitee sebaiknya terdiri atas pengurus dan perwakilan pekerja. Hal ini dimaksudkan agar komunikasi antara manajemen dan pelaksana bisa terjalin dengan baik.

Untuk petugas K3 atau HSE di galangan kapal biasa digunakan beberapa istilah:

  • QHSE Manager, 
  • HSE Supervisor, 
  • HSE Officer
  • HSE Inspector  

3. Standar dan regulasi K3 yang perlu diterapkan di galangan kapal?

  • Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja,
  • Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, 
  • Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, dan
  • Peraturan-peraturan menteri lainnya yang berkaitan dengan aktivitas kerja di galangan kapal

Tidak ada peraturan atau standar khusus terkait K3 di galangan kapal. Umumnya tetap mengikuti semua regulasi-regulasi yang diterbitkan oleh pemerintah. Misalnya bekerja di ketinggian, ruang terbatas, penggunaan bahan berbahaya dan beracun (B3), Unit penanggulangan kebakaran di perusahaaa, pesawat angkat dan angkut, dan peraturan-peraturan lainnya.

4. Potensi bahaya utama di galangan kapal?

  • Kerja panas (hot work) dan penggunaan gas-gas bertekanan berpotensi menimbulkan kebakaran dan ledakan,
  • Bekerja di ketinggian berpotensi orang terjatuh dari ketinggian atau tertimpa benda,
  • Aktivitas di ruang terbatas (confined space entry) berpotensi bahaya keracunan gas dan ledakan
  • Lifting operation (kegiatan pengangkatan) berpotensi pesawat angkat ambruk dan tertimpa beban atau material,
  • Kebutuhan listrik yang cukup banyak dan bersifat temporary berpotensi terjadi kebocoran arus dan menyebabkan sengatan listrik atau short circuit,
  • Pekerjaan penarikan (docking) kapal dengan metode air bag melibatkan pekerjaan stressing tali baja dan airbag yang berpotensi bahaya snap-back dan ledakan,
  • Kegiatan sandblasting, selain kebisingan, high pressure, yang tak kalah pentingnya diperhatikan adalah potensi banaya yang berakibat timbulnya penyakit akibat kerja (PAK) dari penggunaan pasir silika.  

5. Hambatan apa saja dalam penerapan program K3?

  • Anggaran untuk program K3 yang minim

Perlu diketahui bahwa nilai proyek mempengaruhi anggaran keselamatan kerja. Harus diakui bahwa proyek-proyek konstruksi, termasuk konstruksi kapal di negeri ini dihargai cukup rendah. Sehingga untuk jatah anggaran harus dipangkas sana sini, termasuk anggaran K3. 

  • Jadwal produksi yang padat dan berubah-ubah

Seperti sebuah bahan jualan bahwa penyelesaian proyek secara cepat dan on time menjadi nilai tambah untuk sebuah galangan kapal. Para pemilik kapal akan memilih galangan yang bisa menjanjikan waktu pekerjaan dengan cepat. Sementara, aktualnya segala keterbatasan bisa muncul dalam proses pekerjaan proyek. Salah satunya faktor cuaca.

  • Tenaga kerja yang majemuk

Sumber daya manusia yang bekerja di galangan kapal bisa dari berbagai macam latar budaya, usia yang seringkali tidak dikontrol, latar pendidikan, dari yang tingkat tinggi hingga yang buta huruf sama sekali, dengan pengalaman kerja yang berbeda-beda. Hal ini bisa menjadi salah satu “threat”.

6. Seperti apa sistem kontrak kerja di galangan kapal?

Sama seperti yang diatur dalam undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Dengan beberapa penyesuaian untuk kebutuhan pekerjaan, tenaga kerja akan dikontrak sesuai dengan proyek kapal yang akan dikerjakan. 

Beberapa pekerjaan proyek pembangunan dan perbaikan kapal juga diserahkan kepada pihak ketiga atau subkontraktor. Biasanya tim subkontraktor yang mengerjakan proyek kapal menerapkan sistem borongan kepada timnya. 

Dalam proses kerja dengan sistem borongan perlu mendapatkan ekstra perhatian untuk pengawasan K3. Tabiat pekerja biasanya hanya mengejar hasil yang banyak tanpa memperdulikan faktor-faktor keselamatan diri dan orang lain di sekitarnya. 

7. Mengenai pencemaran lingkungan, limbah apa saja yang perlu dikontrol di galangan kapal?

  • Metal scrap atau limbah-limbah jenis logam dari proses replating atau penggantian bagian-bagian kapal yang berbahan logam,
  • Limbah cair dari kegiatan cleaning area kamar mesin dan tangki-tangki kapal,
  • Kaleng bekas cat dan thinner sisa kegiatan coating pada kapal,
  • Limbah-limbah jenis cair lainnya dari perbaikan engine kapal atau alat-alat support,
  • Sisa pasir dari kegiatan sandblasting,
  • Limbah karet dari bekas dabrah atau tire fender

Akan masih ada banyak jenis limbah lainnya, tergantung pada proses kerja pada tiap-tiap galangan. HSE Officer perlu untuk lebih jeli dan memperluas referensi untuk dasar dalam pengawasan. 

8. Keahlian apa yang dibutuhkan untuk HSE Officer galangan kapal?

Identifikasi; sumber-sumber potensi bahaya, jenis-jenis bahaya dan regulasi atau persyaratan apa saja yang perlu dipenuhi terkait dengan kegiatan di lingkup kerja galangan kapal.

Analisis; melakukan analisis terhadap data hasil identifikasi bahaya, melakukan assessment untuk menentukan tingkat resiko dan menentukan rekomendasi pengendalian bahaya dan pemenuhan persyaratan standar atau regulasi. 

Komunikasi; kemampuan dalam memaparkan hasil analisis, melakukan negosiasi terhadap pimpinan atau pengambil keputusan di dalam perusahaan dan melakukan sosialisasi atau promosi kepada tenaga kerja.

9. Seperti apa jam kerja di galangan kapal?

Jam kerja normal dari pagi, sekitar jam 08.00 sampai pukul 16.00 sore. Ada jam istirahat siang selama 1 jam. Hari kerja dari Senin sampai dengan hari Jum’at, beberapa perusahaan juga menerapkan wajib masuk hari Sabtu. 

Untuk beberapa kondisi pekerjaan harus dilakukan di luar hari dan jam kerja normal tersebut. Ada kalanya pekerjaan dilakukan di hari minggu atau hari libur nasional lainnya, pada malam hari, bahkan hingga subuh jika ada target pekerjaan yang harus segera diselesaikan.

Kegiatan yang seringkali dilakukan di luar jam kerja normal, misalnya untuk proses docking  seringkali tidak mengenal waktu, karena mengikuti pasang surut air laut. 

10. Berapa kisaran salary untuk HSE di Galangan Kapal?

Nah yang ini rahasia… Tapi tergantung negosiasi dengan perusahaan. Biasanya dipengaruhi oleh kondisi perusahaan, jika ia adalah perusahaan dengan pasar yang cukup luas, kesempatan mendapatkan salary  tinggi mungkin ada. Kisarannya, dari nominal untuk gaji UMK sampai dua digit. 

11. Apa tips menjadi HSE Officer di Galangan Kapal?

Banyak belajar dan jangan BAPER!

Penutup

Ini adalah catatan pribadi saya selama bekerja di bidang ini, berdasarkan pengamatan secara langsung, referensi yang pernah saya baca, atau pun hasil diskusi dengan rekan-rekan lain yang berada di industri yang sama. Tulisan ini sama sekali tidak untuk menggambarkan kondisi perusahaan-perusahaan di mana tempat saya pernah bekerja.

Semoga memberikan informasi bermanfaat. Salam….

Syarat Menjadi HSE Officer Galangan Kapal

Tugas dan Tanggung Jawab HSE Officer

Health, Safety and Environment (HSE) Officer yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti petugas keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L). Di era sekarang ini, posisi HSE Officer di perusahaan semakin banyak diminati.

Lingkup kerja seorang HSE Officer sejauh ini di Indonesia masih sebatas pada perusahaan tempat yang bersangkutan bekerja. Mengenai tugas dan tanggung jawabnya meliputi;

  • Identifikasi potensi-potensi bahaya, baik yang berkaitan dengan proses pekerjaan, peralatan kerja, lingkungan dan hal-hal berkaitan lainnya, termasuk manusia yang ada di dalam lingkungan perusahaan,
  • Melakukan investigasi terhadap sebuah insiden yang berada di lingkungan perusahaan tepat ia bekerja,
  • Menyusun strategi pengendalian potensi bahaya guna mencegah timbulnya insiden yang berakibat pada kerugian bagi pekerja dan perusahaan,
  • Melakukan sosialisasi tentang kondisi-kondisi berbahaya di tempat kerjadan melakukan pelatihan kepada karyawan tentang tata kerja aman,
  • Mengusulkan kepada pimpinan tentang kebutuhan alat keselamatan, fasilitas emergency  dan menyusun kesiapan tanggap darurat

Masih ada banyak lagi tugas-tugas dari HSE Officer, di tulisan yang lain akan kita uraikan lebih detail. Setelah mengulas tentang tugas dan tanggung jawab HSE Officer secara umum, selanjutnya kita akan bahas tentang HSE Officer di galangan kapal. 

Sekilas tentang HSE Officer di Galangan Kapal

Bagi anda yang berencana memasuki pekerjaan ini, saya memiliki catatan pengalaman untuk dibagikan. Sekedar untuk diketahui, saat tulisan ini dibuat, saya sudah bekerja selama 5 tahun 10 bulan sebagai HSE Officer di galangan kapal. Boleh dong, saya ceritakan sedikit.

Beberapa waktu yang lalu saya pernah menuliskan tentang penerapan keselamatan kerja di galangan kapal. Yang mana dalam tulisan tersebut mengulas tentang sejumlah aktivitas yang memiliki potensi bahaya.

Dalam tulisan ini, saya akan tambahkan mengenai tantangan apa saja yang seringkali ditemukan di lingkungan kerja galangan kapal. Sebagai seorang calon HSE Officer di galangan kapal anda harus tahu hal ini;

  • Pengawasan yang kurang dari pemerintah,
  • Jadwal kerja yang padat dan sistem kerja serba cepat,
  • Lingkungan kerja yang terbatas dan berubah-ubah,
  • Tenaga kerja yang majemuk,
  • Terbatasnya pengontrolan terhadap lingkungan kerja,
  • Fasilitas kerja yang sederhana,
  • Potensi bahaya dari pekerjaan yang komplit,
  • Bidang usaha yang tergolong kecil dan menengah 

Agar nantinya kuat dalam menghadapi tantangan dan hambatan di lapangan, seorang HSE Officer perlu melengkapi diri dengan “senjata dan amunisi”, yakni pengetahuan dan keterampilan. Kira-kira apa saja yang diperlukan?.

Syarat dan Kualifikasi HSE Officer di Galangan Kapal

Tugas HSE Officer di galangan kapal, salah satunya melakukan safety induction
Seorang HSE Officer memastikan persyaratan keselamatan dipenuhi sebelum memulai aktivitas

Bagi anda yang berminat menjadi HSE Officer di galangan kapal, berikut adalah beberapa syarat kualifikasi yang menurut pengamatan saya perlu dipenuhi:

1. Pendidikan

Syarat untuk mengikuti pelatihan dan sertifikasi Ahli K3 umum harus minimal berpendidikan Diploma 3, itu menurut peraturan menteri tenaga kerja Republik Indonesia tentang tata cara penunjukan ahli K3 umum.

Jurusan atau program studi apa yang memenuhi syarat untuk menjadi HSE Officer?. Saat ini sudah banyak perguruan tinggi yang menawarkan program studi yang khusus mendalami tentang sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.

Namun sejauh ini, saya menemukan banyak latar belakang pendidikan yang menjadi HSE Officer. Sarjana Hukum, Sarjana teknik Informatika, sarjana pendidikan, sarjana teknik industri, dan masih banyak lagi yang lainnya.  

2. Pengalaman Kerja di Bidang yang Sama

Menurut peraturan menteri tenaga kerja RI Nomor 02 Tahun 1992 tentang tata cara penunjukan ahli K3 Umum, maka syarat seseorang untuk ditunjuk sebagai ahli K3 adalah memiliki pengalaman minimal 2 tahun di bidang pekerjaannya.

Dari pengalaman kerja di lapangan, seseorang diharapkan dapat mengetahui alur proses produksi dan karakter lingkungan kerja. Sehingga di dalam melaksanakan tugasnya sebagai HSE Officer, ia akah lebih mampu memberikan rekomendasi yang tepat terkait penerapan keselamatan kerja.

Melalui pengalaman kerja juga melatih bagaimana cara menghadapi orang-orang di lapangan, cara berkomunikasi dengan atasan dan berbagai level jabatan yang ada di perusahaan, semua kemampuan ini dapat diasah melalui pengalaman kerja. Karena salah satu faktor yang terkadang menjadi kendala adalah kegagalan berkomunikasi.

3. Skill

Skill atau kemampuan yang diperlukan oleh seorang HSE Officer juga ada beberapa yang harus dipenuhi. Kemampuan dasar yang diperlukan oleh HSE Officer di galangan kapal antara lain;

  • Memahami regulasi dan standar-standar terkait K3, baik nasional maupun internasional,
  • Kemampuan melakukan identifikasi bahaya (HIRA, JSA, Risk Assessment),
  • Menyusun SOP/WI dan tata kerja selamat lainnya,
  • Incident Investigastion
  • Basic Fire dan First Aid
  • Menyusun rencana pelatihan, menyiapkan materi dan melakukan pelatihan K3,
  • Pengetahuan komputer dasar,
  • Kemampuan analisis,
  • Kemampuan organisasi,
  • leadership, jiwa kepemimpinan
  • Public speaking, kemampuan berbicara di depan orang banyak,
  • Dan lain-lain

4. Sertifikat Kompetensi

Meskipun hanya dalam bentuk secarik kertas, tetapi sertfikat ini akan banyak membantu. Ia adalah sebuah pengakuan. Seberapa hebat kemampuan anda, tanpa sertifikat, biasanya kurang dipercaya. Selain itu, sertifikat juga merupakan sebuah persyaratan legal. Artinya, orang-orang yang telah memiliki sertifikat sudah memenuhi syarat legalitas untuk pekerjaannya.

Dewasa ini, saya melihat betapa banyak lembaga-lembaga yang menawarkan pelatihan dan sertifikasi. Harap lebih selektif dalam memilih badan sertifikasi. Penyedia jasa pelatihan dan sertifikasi yang baik selain menawarkan sertifikat, semestinya juga memberikan pengetahuan dan kemampuan baru. 

5. No Baper

Sebenarnya, poin ke-5 ini hanya tambahan dari saya pribadi. Tetapi ini benar-benar diperlukan bagi seorang HSE Officer di galangan kapal. Idealisme di dalam jiwa seorang HSE Officer akan sangat tercederai jika ada syarat-syarat keselamatan kerja yang dilanggar. Terlebih jika pelanggaran itu dilakukan oleh key person atau orang-orang yang memiliki jabatan penting di dalam perusahaan. Dan ini yang seringkali muncul di lingkungan kerja galangan kapal.

Menghadapi situasi seperti itu, HSE Officer harus kembali kepada tugas pokok dan fungsinya di dalam perusahaan. Banyak hal terjadi di luar kendali, maka teruslah berupaya melakukan perbaikan, dan jangan pernah baper alias bawa perasaan.

Kesimpulan dan Saran

HSE Officer di galangan kapal adalah pekerjaan yang penuh tantangan. Persiapkan diri dengan ilmu dan keterampilan sebelum memutuskan untuk melakukan pekerjaan ini. Pekerjaan memang selalu menghadapi tantangan, namun tentu lebih baik jika sudah mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Sekali lagi, tulisan ini adalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman pribadi saya. Tentu bukanlah sebuah kebenaran yang mutlak. Jika sekiranya rekan-rekan pembaca ada memiliki pengalaman lain dan ingin menambahkan hal-hal yang kurang dalam tulisan ini, monggo dicoret-coret di kolom komentar. Saya terbuka untuk berdiskusi, sepanjang tujuannya menambah pengetahuan bersama.

Keselamatan Kerja adalah Kewajiban Bersama

Dasar penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di perusahaan adalah Undang-Undang dan peraturan yang diterbitkan oleh pemerintah. Salah satunya yang khusus mengatur keselamatan kerja adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970.

Sebagai karayawan atau pekerja, kita sebaiknya mengenal dan paham dengan isi undang-undang tentang keselamatan kerja. Why? Karena undang-undang ini menjelaskan tentang apa dan siapa yang harus bertanggung jawab terhadap K3 di perusahaan.

Jangan sampai ketidaktahuan membuat kita mengabaikan aturan-aturan keselamatan yang sudah ditetapkan oleh perusahaan. Atau sebaliknya, menjadi celah bagi perusahaan untuk tidak melaksanakan kewajibannya dalam menjamin keselamatan dan kesehatan para karyawan.

Supaya adil, kita akan membahas tentang hak dan kewajiban dari kedua sisi, yakni sisi perusahaan dan karyawan.

Pertama, Hak dan Kewajiban Karyawan

Kewajiban Karyawan terhadap Keselamatan Kerja

Tertuang di dalam undang-undang keselamatan kerja bahwa karyawan wajib untuk memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan. Artinya, semua prosedur atau instruksi kerja dan tata kerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan harus dipatuhi dan dijalankan oleh siapa pun yang masuk ke area perusahaan tersebut.

Perlu diketahui, bahwa siapa pun yang masuk ke lingkungan perusahaan, keselamatannya akan menjadi tanggung jawab perusahaan. Demi keselamatan, maka setiap karyawan, para tamu, suplier atau customer harus memakai alat-alat perlindungan diri (APD) yang diwajibkan telah ditentukan atau sesuai dengan potensi bahaya yang mengancam.

Dalam hal terjadi insiden di tempat kerja, maka siapa karyawan wajib memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja. Hal ini dimaksudkan agar informasi yang didapatkan tidak keliru dan menyesatkan proses investigasi.

Hak Karyawan terhadap Keselamatan Kerja

Setelah memahami tentang kewajiban terhadap K3, maka selanjutnya adalah mengenai hak-hak karyawan terkait keselamatan kerja. Berikut beberapa hak karyawan:

  • Meminta kepada pengurus atau manajemen perusahaan agar melaksanakan semua syarat K3. Ini berarti bahwa karyawan berhak memberikan saran perbaikan terkait keselamatan kerja kepada manajemen. Jika di perusahaan telah terbentuk Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3), maka hal ini dapat disampaikan dalam rapat P2K3.
  • Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan di mana syarat K3 serta alat-alat perlindungan diri yang diwadjikan diragukan olehnya. Jika memang secara jelas mengetahui adanya kondisi yang tidak aman terhadap pekerjaan, maka pekerja berhak menolak melakasanakan pekerjaan hingga dilakukan pengendalian bahaya.

Demikianlah telah dijelaskan mengenai hak dan kewajiban tenaga kerja di perusahaan berdasarkan undang-undang keselamatan kerja. Selanjutnya kita akan membahas tentang kewajiban pengurus atau manajemen terhadap K3, (mengapa kita tidak membahas hak perusahaan?, karena di undang-undang ini memang tidak menjelaskannya).

Tugas Manajemen Perusahaan terhadap Keselamatan Kerja

Masih menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970, berikut adalah kewajiban pengurus atau manajemen perusahaan:

1. Melakukan Pelatihan Kerja dan Safety Induction

Safety induction adalah salah satu kewajiban terkait keselamatan kerja

Pengurus atau manajemen perusahaan diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada setiap tenaga kerja baru terkait kondisi-kondisi dan bahaya-bahaya yang dapat timbul di dalam tempat kerjanya. Kegiatan ini biasanya dikenal dengan istilah safety induction. Manajemen biasanya diwakili oleh petugas safety di perusahaan.

Di dalam safety induction ini dijelasakan semua pengamanan dan alat-alat perlindungan yang diharuskan dalam tempat kerja. Cara-cara dan sikap kerja yang aman dalam melaksanakan pekerjaan, alur komunikasi bahaya, serta langkah-langkah penyelematan diri saat terjadi kondisi darurat. 

Pengurus hanya dapat memperkerjakan tenaga kerja yang bersangkutan setelah ia yakin bahwa tenaga kerja tersebut telah memahami syarat-syarat keselamatan kerja. Selain safety induction, juga perlu dilakukan pendampingan bagi tenaga kerja baru untuk orientasi lapangan. Waktu pelaksanaannya bisa satu bulan, dua bulan, tiga bulan atau menyesuaikan dengan kondisi di perusahaan. 

2. Memeriksakan Kesehatan Pekerja

Manajemen perusahaan diwajibkan memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan fisik dari tenaga kerja yang akan diterimanya maupun akan dipindahkan sesuai dengan sifat-sifat pekerjaan yang diberikan padanya. 

Perlu dilakukan medical check up bagi karyawan baru atau secara periodik bagi karyawan lama. Hal ini sebagai dasar untuk penelusuran jika sewaktu-waktu timbul penyakit akibat kerja (PAK) selama proses masa kerja. Data medis atau medical record karyawan juga dibutuhkan oleh perusahaan untuk menghindari kesalahan klaim penyakit akibat kerja.

3. Membentuk Tim Tanggap Darurat

Perusahaan perlu melakukan upaya-upaya pencegahan terhadap timbulnya kebakaran dan ledakan. Oleh karenanya, pengurus harus menyelenggarakan pembinaan terhadap tenaga kerja dalam upaya pengendalian sumber-sumber kebakaran, mempersiapkan personel atau petugas peran kebakaran.

Selain itu ,juga perlu mempersiapkan sistem dalam hal menghadapi situasi darurat. Baik itu darurat kebakaran, bencana alam, kecelakaan kerja dan potensi gangguan lainnya. Perusahaan harus menunjuk personel atau menetapkan nama-nama yang harus terlibat secara langsung jika timbul situasi darurat.

4. Melakukan Pelaporan Kecelakaan Kerja

Kejadian kecelakaan semestinya menjadi suatu bahan untuk melakukan perbaikan. Dengan mengetahui penyebab suatu kecelakaan, maka dapat ditentukan langkah-langkah yang perlu dilakukan guna mencegah timbulnya kejadian yang sama. 

Jika terjadi kecelakaan di tempat kerja, maka pengurus wajib melaporkan setiap kecelakaan yang terjadi kepada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja. Informasi tentang kecelakaan kerja ini diharapkan nantinya bisa menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam menentukan arah kebijakan untuk peningkatan keselamatan kerja.

5. Menyediakan Rambu-Rambu dan Petunjuk Kerja Aman

Secara tertulis menempatkan dalam tempat kerja yang dipimpinnya, semua syarat keselamatan kerja yang diwajibkan. Memasang semua gambar keselamatan kerja atau rambu-rambu K3 di area kerja. Posisi pemasangan rambu-rambu K3 sebaiknya pada tempat yang mudah dilihat dan terbaca atau menurut petunjuk ahli keselamatan kerja.

Agar mudah diphami dan diketahui oleh karyawan, maka manajemen perlu memajang sehelai Undang-undang ini (Undang-Undang Nomo 1 Tahun 1970) pada tempat yang mudah dilihat dan terbaca atau berdasarkan petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja di perusahaan.

6. Memberikan Alat Pelindung Diri secara Gratis

Menyediakan secara cuma-cuma, semua alat perlindungan diri yang diwajibkan pada tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut, disertai dengan petunjuk-petunjuk yang diperlukan menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja.

Kesimpulan

Telah jelas kewajiban dan hak sebagai karyawan dalam undang-undang Nomor 1 Tahun 1970. Sebagai karyawan yang baik, tentu kita akan bekerja sebaik-baiknya untuk perusahaan tempat kita bekerja. Seperti pepatah kawan-kawan di lapangan, perusahaan ibaratnya adalah sawah ladang kita. Tempat mencari nafkah.

Maka sepantasnyalah kita selaku karyawan untuk mendukung manajemen perusahaan agar pengelolaan perusahaan dapat berjalan dengan baik. Ingat, keselamatan dan kesehatan kerja adalah tanggung jawab bersama. Segala yang disebutkan dalam undang-undang keselamatan kerja sepatutnyalah untuk kita mentaati dan menjalankannya.

Bagi pengurus atau manajemen perusahaan, kewajibannya telah disajikan dengan jelas. Maka semestinya berusaha untuk menciptakan aturan di dalam perusahaan yang tidak merugikan hak-hak karyawan dan tentunya juga tidak merugikan dari sisi perusahaan.

Tujuan penerapan aturan K3 adalah untuk mencegah timbulnya kerugian dari pihak karyawan dan perusahaan, atau pihak lain yang terkait dengan kegiatan perusahaan. Penerapan keselamatan kerja adalah kewajiban bersama.

Semoga informasi ini bermanfaat….

Tema Bulan K3 Nasional 2021 dan Ide Pelaksanaannya

Tema Bulan K3 Nasional 2021

Melalui Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Nomor 365 Tahun 2020 tentang Juklak pelaksanaan Bulan K3 Nasional Tahun 2021, Penguatan Sumber Daya Manusia yang Unggul dan Berbudaya K3 pada Semua Sektor Usaha ditetapkan sebagai tema Bulan K3 Nasional tahun ini.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tujuan dari pelaksanaan Bulan K3 Nasional ini adalah dalam rangka melakukan sosialisasi, promosi guna meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan arti penting K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) bagi kelangsungan dunia usaha dalam menjamin ketahanan ekonomi nasional.

Dalam uraian pendahuluan penjelasan Juklak Bulan K3 Nasional ini diterangkan bahwa dampak pandemi Covid19 yang terjadi sepanjang 2020 membawa dampak besar terhadap eksistensi dunia usaha. Biaya yang harus dikeluarkan untuk penanggulangan penyebaran virus Corona cukup besar. Hal ini yang membuat berbagai macam bidang usaha di Indonesia, bahkan level global mengalami turbulensi yang dahsyat.

Namun di balik dampak buruk yang ditimbulkan, pandemi Covid19 juga memberikan angin segar bagi upaya penerapan K3. Hal ini ditandai dengan meningkatnya perhatian dari pengusaha maupun pengurus dalam perusahaan untuk mencegah penularan virus di lingkungan kerjanya. Mulai dari kebijakan pembatasan interaksi (physical distancing), penyediaan sarana tes kesehatan dan keperluan hygiene personal maupun lingkungan. Tempat mencuci tangan dan sabun, absensi yang cukup menggunakan sensor, pembagian masker dan lain sebagainya.

Dari kejadian pandemi ini kita bisa melihat bahwa semua pihak akan bersinergi melakukan upaya terhadap sesuatu yang dipandang sebagai ancaman. Virus Corona19 hanya salah satu dari sekian banyak ancaman dalam dunia usaha maupun kehidupan sehari-hari. Masih banyak resiko lainnya yang perlu diantisipasi dan menjadi tugas kita sebagai seorang profesional HSE untuk memahamkan pihak-pihak terkait.

Upacara Bulan K3 Nasional 2020 di salah satu perusahaan galangan kapal di Samarinda

Ide Pelaksanaan Bulan K3 Nasional 2021

Dengan momen Bulan K3 Nasional ini kita dapat melakukan upaya sosialisasi dan promotif di lingkup tempat kerja kita masing-masing. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kita dapat melakukan kegiatan yang dapat menarik minat karyawan. Tentu dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Berikut adalah beberapa kegiatan yang dapat kita lakukan dalam rangka bulan K3 Nasional yang jatuh pada tanggal 12 Januari s.d 12 Februari 2021;

1. Seminar K3

Seminar tentang K3

Seminar atau webinar. Di era sekarang ini menjadi semakin mudah dilakukan, tidak ada batasan ruang, setiap kita bisa melakukan atau berpartisipasi dalam kegiatan seminar yang dilakukan secara daring. Tema yang dibahas juga sebaiknya tentang fungsi K3 dalam memperkuat ketahanan ekonomi bangsa.

Sebagai seorang profesional HSE, harus mampu menjelaskan keterkaitan antara performa K3 yang baik terhadap kepastian usaha dan peningkatan ekonomi. Tanpa didukung kemampuan untuk menjelaskan peran K3 dalam meningkatkan keuntungan perusahaan, maka seorang profesional HSE akan sulit mengajukan program-program K3 yang dapat diterima oleh pengurus perusahaan.

2. Kuis K3

Menyelipkan informasi tentang K3 dalam permainan kuis memberikan kesan yang baik. Karyawan yang dilibatkan secara tidak langsung akan mendapatkan pengatahuan baru tentang K3 tanpa menjadi sebuah beban. Terlebih lagi jika di antara soal-soal yang diberikan terselip pertanyaan yang berisi candaan atau hal kocak.

Pada umumnya, karyawan akan merasa happy tanpa perlu diberikan hadiah yang wah atau mahal. Namun cukup dengan penghargaan sederhana, terlebih jika itu melibatkan pucuk pimpinan di dalam perusahaan. Kreatifitas tim dalam menyediakan game kuis K3 akan menarik perhatian dan meningkatkan minat partisipasi karyawan.

Agar lebih menambah keseruan, metode game yang digunakan bisa memakai aplikasi dari internet. Aplikasi Kahoot misalnya. Ide-ide seperti ini bisa dipakai.

3. Sayembara K3

Melibatkan karyawan untuk melakukan identifikasi potensi bahaya misalnya, dan meminta mereka memberikan saran pengendalian resiko. Tentu dengan terlebih dahulu mereka dibekali dengan pemahaman tentang identifikasi bahaya dan analisa resiko (HIRADC).

Penilaian dapat dilakukan dengan melihat seberapa detail karyawan menguraiakan potensi bahaya dari setiap aktivitas mereka, dan seberapa tepat saran pengendalian yang mereka berikan. Sebaikanya saran pengendalian resiko yang mereka berikan sesuai dengan hirarki kontrol resiko. Yakni, eliminasi, subtitusi, rekayasa, administraasi dan yang terakhir APD (alat pelindung diri).

4. Poster Promosi Kesehatan dan Keselamatan

Mengadakan lomba desain poster yang bertema kesehatan dan keselamatan dapat menarik minat dan perhatian karyawan, tidak hanya bagi peserta, namun juga bagi karyawan yang lainnya. Dengan momen bulan K3 Nasional, kita bisa memantik kreatifitas karyawan sekaligus untuk menilai sejauh mana keberhasilan profesional HSE dalam melakukan transfer knowledge terhadap karyawan.

Meskipun sekarang ini sangat banyak aplikasi komputer maupun di handphone yang memudahkan untuk membuat desain menarik, akan tetapi dalam lomba poster ini sebaiknya tetap menggunakan metode lama. Yakni menggambar dengan peralatan manual, pensil warna dan kertas buku gambar. Percayalah, jiwa seninya akan terlihat di sini. Ide-ide kreatif yang muncul dari karyawan bahkan terkadang di luar dari dugaan.

5. Penyegaran Program K3

Kegiatan praktek fire fighting

Program-program K3 seperti tanggap darurat, praktek memadamkan api dengan fire extinguisher atau karung goni, praktek pertolongan pertama pada kecelakaan (first aid) juga dapat dimasukkan dalam rangkaian kegiatan bulan K3 Nasional.

Meskipun program tersebut adalah kegiatan yang telah terjadwal, namun tidak semua perusahaan dapat melakukannya secara konsisten. Bulan K3 Nasional ini adalah waktu yang tepat untuk melaksanakannya. Namun jika hal tersebut adalah merupakan kegiatan yang rutin, dan karyawan sudah sangat familiar, maka dapat diadakan perlombaan. Tentunya semakin seru.

6. Lomba Memakai APD

Kegiatan lomba memasang APD

Memakai APD adalah hal yang biasa, dan rutin dilakukan oleh karyawan yang bekerja pada area tertentu, yang memang mandatory APD. Namun belum tentu mereka memahami dengan benar cara penggunaan APD. Melalui lomba ini diharapkan dapat lebih meningkatkan pemahaman karyawan.

Ide sederhananya dapat dilakukan dengan meletakkan berbagai jenis APD secara acak, jika memungkinkan dipisahkan dari bagian-bagiannya. Misalnya, untuk safety helmet dipisahkan dari kelengkapannya. Peserta nantinya diminta menggunakan APD sesuai dengan kebutuhan pada aktivitas yang ditentukan. Siapa yang tercepat dan tepat menggunakan APD akan menjadi pemenangnya.

7. Lomba Senam

Kegiatan senam pagi di perusahaan

Di tempat kerja biasanya kita memiliki senam rutin. Biasanya dilakukan seminggu sekali. Karyawan mungkin sudah hapal dengan gerakan-gerakan senam tersebut. Ini bisa menjadi bahan lomba untuk meramaikan pelaksanaan bulan K3 Nasional.

Senam yang dikeluarkan oleh Kementerian Tenaga Kerja RI misalnya, jika karyawan terlatih melakukannya, bisa dijadikan perlombaan. Tapi dengan memadukannya dengan gerakan lain. Cara sederhananya, peserta dibentuk secara tim, lalu mereka diharuskan menutup mata. Saat pertengahan melakukan gerakan senam mengikuti irama musik, agar menjadi seru, panitia bisa menyelipkan musik lain yang akan mengganggu konsetrasi para peserta. Peserta yang bisa melakukan gerakan secara tepat akan menjadi pemenangnya.

Kesimpulan

Sebenarnya ada lebih banyak ide-ide mengenai pelaksanaan bulan K3 Nasional. Tinggal bagaimana rekan-rekan profesional HSE meramunya agar menjadi momen yang menarik dan berkesan. Dengan melibatkan semua pihak di dalam perusahaan, maka kegiatan ini akan berhasil.

Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa anggaran atau biaya adalah faktor yang sangat penting, namun keberhasilan kegiatan Bulan K3 Nasional bukan semata-mata hanya karena hal tersebut. Kerjasama dan partisipasi tim adalah kunci utamanya. Kita dapat melakukan kegiatan dengan anggaran menyesuaikan kemampuan perusahaan. Jangan memaksakan diri.

Hal yang perlu diperhatikan adalah tujuan dan sasaran dari kegiatan Bulan K3 Nasional ini. Seperti apa pun bentuk kegiatannya, sepanjang tidak keluar dari tujuan dan sasaran tersebut, tentunya sah-sah saja. Dan tidak kalah pentingnya, pelaksanaan Bualn K3 Nasional agar tidak me

Catatan Penutup Tahun 2020 Menuju 2021

Tahun 2020 akan berakhir hari ini, tepatnya sebentar malam pada pukul 23.59.59. Memasuki tahun baru, kita berharap ada sesuatu yang berbeda, tentu kepada hal yang lebih baik. Tetapi tidak ada jaminan untuk itu.

Kita ingat, di akhir 2019 kemarin ada banyak harapan. Namun aktualnya, tidak sebaik harapan. Dunia justru dikacaukan dengan pandemi. Serangan virus Corona19 membuat berbagai rencana harus dirubah.

Hal yang paling menjadi fokus perhatian dalam masa pandemi ini adalah mengenai keselamatan dan kesehatan. Bagaimana yang semula kesehatan adalah hal disepelekan, kini menjadi sebuah prioritas. Orang berlomba-lomba memperhatikan hygiene, baik personal maupun lingkungan.

Di rumah makan, yang sebelumnya jarang didapati tempat mencuci tangan, kini nyaris semuanya dilengkapi dengan wastafel air mengalir dan sabun. Ketika berjalan di mall, semua pengunjung menggunakan masker, bahkan ada sebagian yang memakai sarung tangan.

Sebelum masa padnemi, saya ingat betapa tidak acuhnya orang-orang terhadap kesehatan. Dan saya yakin, siswa sekolah dasar lebih memahmi cara mencuci tangan yang baik dan benar di kala itu. Sebaliknya, hari ini orang-orang fokus menjaga kesehatan, melakukan olahraga, menjaga kebersihan, mengatur pola makan. Promosi PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) dijalankan di semua lini, baik perorangan hingga ke instansi-instasi.

Sebagai orang HSE (health, safety and environment) plus dengan latar belakang pendidikan kesehatan masyarakat, melihat fenomena di atas menimbulkan sebuah kebahagiaan tersendiri. Memang terkadang, kita harus terpaksa untuk melakukan sesuatu yang baik. Harus ada virus corona19 baru kita mau peduli dengan kesehatan.

Kepedulian terhadap penerapan K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) juga semakin meningkat di perusahaan semenjak pandemi. Para pengurus dan pengusaha sangat fokus terhadap pencegahan penyebaran virus di tempat kerjanya. Bahkan banyak perusahaan yang tidak segan-segan mengeluarkan dana besar untuk melakukan test dan karantina bagi karyawannya untuk memastikan mereka aman dari tertular virus.

Era pandemi 2020 telah berlalu. Kita memasuki era 2021 dengan tetap menghadapi pandemi. Dan mungkin akan ada tantangan baru yang lainnya. Sebagai seorang HSE, bersiap diri terhadap segala yang mungkin dihadapi pada masa mendatang adalah hal yang mutlak dilakukan. Tidak menutup kemungkinan, selain pandemi, akan ada tantangan dan kesempatan baru bagi kita di tahun 2021.

Masa mendatang akan muncul teknologi baru, peralihan sumber-sumber energi yang selama ini dari fosil berubah menjadi sumber energi terbarukan (sustainable). Jika sebelumnya kita banyak bekerja di pertambangan minerba, eksplorasi minyak dan gas, ke depan kita mungkin akan menemukan banyak pekerjaan dalam bidang nuklir, panas bumi, biomass, dan lain sebagainya.

Sebagai profesional HSE kita perlu mempersiapkan diri untuk mengambil peran. Mempersiapkan diri dengan berbagai bekal pengetahuan dan keterampilan yang mendukung. Sudah saatnya kita memiliki pedoman dan standar keselamatan, kesehatan kerja dan pengelolaan lingkungan yang kita jalankan dan diakui oleh dunia. Hal itu menjadi tantangan dan kesempatan kita semua.

Selamat memasuki tahun baru 2021, semoga hari-hari kedepan lebih baik. Aamiin….