Monthly Archives: January 2020

Dasar Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja

Photo by Daniel Tausis on Unsplash

Perusahaan yang baik tentunya sudah merencanakan penanggulangan bahaya kebakaran yang sewaktu-waktu dapat mengancam. Baik ancaman terhadap aset yang berupa properti atau kepada manusia.

Regulasi pemerintah terkait kewajiban penanggulangan bahaya kebakaran di tempat kerja tertera pada Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor 186 Tahun 1999 tentang Unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja.

Dalam penerapannya, pengurus perusahaan harus menunjuk seseorang atau bagian tertentu yang khusus menangani hal-hal yang berkaitan dengan penanggulangan kebakaran.

Untuk melakukan persiapan penanggulangan kebakaran harus berdasarkan hasil identifikasi potensi-potensi bahaya. Petugas yang ditunjuk (seorang ahli K3 Kebakaran) melakukan pendataan secara detail terkait jenis aktivitas, peralatan dan material yang mungkin bisa menjadi sumber bahaya kebakaran.

Identifikasi Sumber Bahaya Kebakaran

Proses identifikasi untuk menemukan potensi bahaya kebakaran dapat menggunakan tool berupa form yang berfungsi untuk mencatat temuan-temuan. Model form identifikasi potensi bahaya dapat mengikuti form HIRA (hazard identification and risk assessment) pada umumnya.

Hal-hal yang perlu menjadi perhatian dalam proses identifikasi potensi bahaya kebakaran;

  • Proses aktivitas yang berkaitan dengan penyalaan api dan penggunaan bahan mudah terbakar, misalnya pengelasan, penggunaan oxyfuel cutting, gerinda atau kerja panas (hot work) lainnya;
  • Penggunaan atau penyimpanan bahan mudah, misalnya penampungan bahan thinner, bahan bakar minyak, penampungan flammable gas, dan lain sebagainya.
  • Aktivitas yang harus dilakukan di dekat penampungan bahan mudah terbakar.

Dalam proses identifikasi diperlukan pola kritis sehingga ditemukan hasil yang maksimal. Semakin detail potensi bahaya yang ditemukan, maka semakin efektif penanggulangan kebakaran. (Terkait identifikasi bahaya dan penilaian resiko (HIRA) akan kita bahas secara khusus).

Tetapkan Langkah Penanggulangan Kebakaran

Setelah sumber-sumber bahaya kebakaran tercatat dan telah dilakukan analisis resiko, maka selanjutnya adalah menentukan langkah untuk mengendalikan potensi-potensi tersebut.

Hal yang perlu dipersiapkan adalah; personel, material dan alat serta metode.

  • Personel, adalah orang-orang yang telah dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi keadaan darurat kebakaran. Personel-personel ini perlu diatur agar terstruktur sehingga jelas tugas dan fungsinya masing-masing.
  • Material dan peralatan, yakni fasilitas yang diperlukan untuk menghadapi darurat kebakaran. Material untuk pemadaman bisa berupa air, bubuk kimia kering (dry powder), foam (busa). Peralatan berupa selimut api (fire blanket), pompa pemadam, akses penyelamatan diri dan lain sebagainya.
  • Metode pemadaman diperlukan untuk menjadi pedoman dalam melakukan penanggulangan pra kejadian, saat kejadian dan pasca kejadian. Metode ini biasanya dalam bentuk prosedur tanggap darurat atau emergency response plan (ERP).

Demikian ulasan tentang dasar penanggulangan kebakaran. Ini adalah murni dari hasil pengamatan saya pribadi, jika ada yang tidak sesuai silahkan diluruskan melalui kolom komentar di bawah ini, tentunya yang sejalan dengan peraturan dan standar yang baku. Semoga bermanfaat.

Mengenal Anatomi Api

Unsur Penyusun Api

unsur api, oksigen, panas dan bahan bakar
Nyala api terdiri atas bahan bakar, panas dan oksigen

Seperti kita ketahui bersama, api adalah bagian dari kehidupan. Tanpa nyala api, kehidupan manusia akan terasa hambar. Sepanjang kehidupan manusia, akan selalu ada kebutuhan terhadap nyala api. Maka selama itu pula ada resiko terjadi kebakaran.

Ada kalimat yang mengatakan seperti ini,

“Api kecil adalah sahabat, api besar menjadi musuh”. Api besar dimaksud di sini adalah nyala api yang tidak terkendali, atau kebakaran.

Nah, bagaimana caranya agar api yang menyala tersebut tetap bisa terkontrol dan tidak lepas kendali? Ingat pesan Sun Tzu, si ahli strategi perang China yang mahsyur.

“Untuk memenangkan peperangan, kita harus mengenali siapa musuh yang dihadapi”. Kurang lebih seperti itu kalimatnya. Jadi, untuk menang melawan api, kita harus mengenalinya.

Ada tiga unsur yang mendukung terjadinya api, bahan bakar (fuel), energi panas (heat) dan oksigen (oxygen). Tanpa ketiga unsur ini, api tidak dapat menyala. (ini bukan kata saya, ilmu ini ada dalam mata pelajaran kimia).   

Api akan menyala apabila bertemu antara bahan bakar (kayu, kain, karet, gas, minyak, dll) yang terpapar panas (pemantik, arus singkat listrik, petir, panas bumi, gesekan dll) dan terdapat oksigen dengan jumlah komposisi yang seimbang. Jadi, meskipun terdapat ketiga unsur tersebut, namun komposisinya tidak seimbang, maka api juga tidak akan menyala. 

Jumlah bahan bakar, nilai kalor atau derajat panas dan jumlah oksigen harus sesuai untuk membuat api menyala.

Contoh sederhananya begini:

Jika ada sejumlah solar atau biodiesel dengan suhu normal, lalu kita coba bakar dengan pemantik korek kayu, maka dijamin tidak akan menyala. Dalam hal ini, jumlah bahan bakar (solar atau biodiesel) cukup, oksigen juga cukup, akan tetapi panasnya kurang. Sehingga api tidak menyala. 

Bagaimana jika apinya ditambah?. Solar akan menguap, dan bila oksigen cukup tersuplai, maka api akan menyala.  

Metode Memadamkan Api

Metode pemadaman api, smothering, cooling, starvation dan breaking chain reaction
Smothering atau menutup suplai oksigen untuk memadamkan nyala api

Rumus sederhana memadamkan api adalah menghilangkan salah satu unsur penyusunnya. Hilangkan sumber panas, dapat dilakukan dengan menurunkan derajat panasnya. Biasanaya dilakukan dengan menyiram api menggunakan air. Metode ini disebut dengan pendinginan atau cooling.

Cara kedua adalah dengan menghilangkan bahan bakar. Menutup sumber bahan bakar, atau memindahkannya dari jangkauan paparan panas, sehingga tidak terjadi proses kimia atau sublimasi. Dengan hilangnya bahan bakar, maka api akan padam dengan sendirinya karena kehabisan bahan. Metode menghilangkan bahan bakar dalam pemadaman api disebut starvation.

Mencekik api, atau menghilangkan oksigen agar tidak menyuplai nyala api. Yakni dengan cara menghalau masuknya oksigen yang dibutuhkan dalam proses penyalaan. Dalam praktek latihan pemadaman api, kita biasa menggunakan karung goni yang dibasahi atau fire blanket untuk melakukan metode ini. Memadamkan api dengan cara mencegah suplai oksigen disebut smothtering.

Metode pemadaman yang lain adalah dengan merusak kestabilan tiga unsur penyusun api. Seperti diketahui bahwa, api menyala ketika jumlah komposisi tiga unsur memenuhi kebutuhan dan terjadi proses reaksi kimia, maka untuk mematikan api juga dapat dilakukan dengan cara merusak rantai reaksi kimianya. Proses ini dikenal dengan breaking chain reaction.

Alat Memadamkan Api

Alat pemadam atau fire extinguisher jenis ABC powder diaplikasikan pada kebakaran klas A, B dan C
Alat pemadam paling populer adalah fire extinguisher jenis ABC powder karena mudah digunakan dan dapat diaplikasikan pada kebakaran klas A, B dan C

Macam-macam alat pemadam api, baik yang cara konvensional maupun yang khusus. Alat pemadam konvensional bisa berupa air, karung goni, atau kain tebal yang direndam air, pasir, tanah bahkan ranting kayu beserta daun-daunnya dapat digunakan untuk memadamkan api. 

Alat pemadam api khusus misalanya foam (busa) bubuk kimia kering (dry chemical powder), karbondioksida (CO2) yang biasanya dikemas dalam bentuk tabung atau fire extinguisher. Dan seiring perkembangan teknologi, alat pemadam juga semakin baik. Ada yang berbentuk granat pemadam, robot pendeteksi api dan sebagainya. 

Sumber:

Peraturan Menteri Tenaga Kerjar RI Nomor 4 Tahun 1980 tentang APAR

K3 Artinya Menggunakan APD, Benarkah?

Bicara keselamatan dan kesehatan kerja (K3) kenapa selalu membahas penggunaan alat pelindung diri (APD)?. Sering-sering terjadi, jika seseorang ditanya “K3 itu apa?”, umumnya akan menjawab “gunakan sepatu safety, helm safety, kaca mata, sarung tangan dan masker”.

Photo by CDC on Unsplash
Jadinya, K3 selalu diidentikkan dengan penggunaan APD. Penerapan K3 berarti menggunakan APD. Selesai.

Ada salah seorang dosen K3 yang mengeluhkan, “kenapa kalau mahasiswa penelitian selalunya fokus membahas masalah APD, padahal masih banyak hal lain yang bisa dibahas selain APD.”

Di tahun 2019 yang lalu, suatu insiden kecelakaan fatality pada pekerjaan konstruksi juga dikaitkan dengan penggunaan APD. Ironisnya, fatality terjadi karena pekerja terjatuh dari gedung lantai empat (ketinggian sekitar 20 meter). Namun apa yang menjadi sorotan di sana?, spekulasi di media massa menyebutkan kemungkinan pekerja maninggal dunia setelah terjatuh karena tidak menggunakan helm keselamatan.

“APA…., Orang jatuh dari ketinggian dua puluh meter dan meninggal karena dia tidak memakai helm keselamatan?.” Helm keselamatan model seperti apa yang bisa menyelamatkan orang terjatuh dari ketinggian segitu?. Terus terang saya belum pernah lihat atau dengar.

Baiklah, daripada kita terus menjadikan APD sebagai tersangka, di sini saya coba ulas sedikit terkait si APD ini. (semoga tidak tambah membingungkan yah).

Perkenalkan, APD adalah alat pelindung diri atau orang English bilang personal protective equipment (PPE). APD melekat pada setiap orang, satu APD dipakai oleh satu orang dan fungsinya melindungi orang dari paparan (fisik, kimia maupun biologis).

Keuntungannya…

Keuntungan penggunaan APD ini karena merupakan pengendalian paling gampang. Untuk melindungi kepala terbentur, tertimpa, pakailah helm. Takut kaki tertusuk, terpeleset, tersayat benda tajam, maka pakailah sepatu. Jika mata ingin selamat, maka pakailah kaca mata. so simple….

Kerugiannya…

Jika APD merupakan pengendalian yang paling gampang, maka coba perhatikan kerugian yang mungkin mengikutinya.

Yang pertama, APD membuat tidak nyaman; sesak, berat, pusing, gerah, panas dan lain-lain.

Kedua, fungsi APD hanya mengurangi dampak dari paparan, dan perlindungannya terbatas. Beda standar APD, maka berbeda pula kemampuan perlindungannya. (Biasanya diukur dari harganya, semakin mahal berarti semakin handal, he…he…he….

Ketiga, tidak efektif. Karen tidak nyaman digunakan, pekerja pada umumnya hanya terpaksa menggunakan APD. Kalau tidak dilihat oleh pengawas, mereka memilih melepaskan alat pelindungnya. Sehingga fungsi melindunginya tidak maksimal.

Sarannya…

Program K3 untuk menghindari kerugian akibat kecelakaan perlu menerapkan hirarki pengendalian resiko. Di ataranya meliputi; eliminasi subtitusi, rekayasa (engineering), administratif, lalu kemudian yang terakhir, barulah kita mengandalkan APD.

Jurus Karyawan saat Ditegur Safety Offcer

Sebagai petugas keselamatan dan kesehatan kerja atau safety officer di perusahaan, mungkin anda pernah mengalami hal-hal yang menantang saat berinteraksi dengan karyawan. Salah satunya adalah ketika menegur karyawan yang tidak memakai alat pelindung diri (APD).

Berikut jurus-jurus karyawan saat ditegur oleh safety officer:

Safety officer: “pak, kenapa APDnya tidak dipakai?”

Karyawan: “aduh lupa pak, maaf…. (jurus pura-pura lupa)”

Safety officer: “Pak, kenapa sepatunya tidak dipakai?”

Karyawan: “aduh pak, ini APD kita tidak standar, kualitasnya kurang bagus. Bahannya kaku, gampang rusak, terus nda nyaman, cobalah sekalian disiapkan kaos kakinya….bla…bla…bla….” (jurus seribu alasan)

Safety officer: “kenapa APDnya tidak dipakai?”

Karyawan: “waduh gerah pak, panas, berat, sesak, pusing”…. (jurus manja)

Safety officer: “pak kenapa APDnya tidak dipakai?”

Karyawan:…”…..”(pura-pura sibuk bekerja, tidak menoleh, pura-pura tidak dengar, ini namanya jurus pura-pura gila)

Safety officer: “pak, kenapa APDnya tidak dipakai?”

Karyawan: (tiba-tiba menoleh sambil kacak pinggang) “EMANG KENAPA???….”

Safety officer:”….???” (diam seribu kata, siapkan Jurus langkah seribu!)

Pernah mengalami kondisi seperti itu? Kalau belum pernah, berarti hidup anda sebagai safety officer datar-datar saja. Pengalaman dibentak, diintimidasi, diteror oleh karyawan adalah makanan sehari-hari seorang safety officer.

Bagaimanan menghadapi situasi seperti di atas?, di sinilah “kesaktian” sang safety officer perlu dikeluarkan. Siap menjadi safety officer, berarti harus mampu menaklukkan jurus-jurus dari karyawan yang biasanya berkelit untuk tidak menjalankan peraturan keselamatan.

Mungkin ada dari rekan-rekan sekalian yang punya pengalaman dengan jurus-jurus karyawan tersebut, atau justru ada jurus lain yang pernah dihadapi, silahkan berbagi pengalaman. Salam K3 Nasional.

Bulan K3 Nasional, Antara Harapan dan Kenyataan

Pelaksanaan Bulan K3 Nasional 2020 mengusung tema “Optimalisasi Kemandirian Masyarakat Berbudaya K3 pada Era Revolusi Industri 4.0 Berbasis Teknologi Informasi”, apakah penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) benar-benar telah menjadi sebuah budaya?

Memasuki usia 50 tahun semenjak diundangkannya, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, ternyata belum mampu memberikan perlindungan yang optimal terhadap keselamatan pekerja. Hal ini ditandai dengan masih banyaknya kasus-kasus kecelakaan kerja yang berakibat fatal dan  menimbulkan kerugian moril maupun materiil, yang dampaknya signifikan bagi tenaga kerja, pengusaha, maupun pemerintah.

Angka kecelakaan kerja yang dirilis oleh Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS TK) menunjukkan 130.923 kasus. Angka tersebut tentunya jauh lebih kecil dari aktual yang terjadi di lapangan. Mengingat masih banyak perusahaan yang belum mendaftarkan karyawannya sebagai peserta BPJS TK, sehingga angka kecelakaan yang disebutkan di atas boleh jadi hanya gambaran fenomena gunung es.

Tingginya angka kecelakaan kerja bukanlah hal yang mengejutkan jika melihat kondisi lapangan kerja. Kurangnya pemahaman dan kesadaran tenaga kerja terhadap K3, minimnya kepedulian pengusaha/pengurus perusahaan dan lemahnya pengawasan dari instansi terkait adalah faktor utama penyebab buruknya penerapan K3 dalam skala nasional.

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan kepentingan bangsa yang mesti dikawal ketat oleh aturan yang kuat. Sehingga masyarakat pekerja benar-benar dapat terlindungi dalam hubungan menjalankan pekerjaan di suatu bidang usaha. Peran aktif pemerintah sebagai pemilik regulsi, perlu didukung oleh elemen-elemen yang berkaitan lainnya secara bersama-sama menyuarakan penerapan K3. Tanpa itu, maka sudah dapat dipastikan bahwa upaya bangsa Indonesia untuk mewujudkan masyarakat berbudaya K3 hanya sebatas angan-angan.

Memasuki era Artificial Intelligence (AI), yang dikenal dengan era Revolusi Industri 4.0 yang mana peran manusia semakin banyak tergantikan oleh sistem komputer akan menjadi peluang sekaligus tantangan dalam terwujudnya penerapan K3. Di satu sisi AI akan memudahkan pekerjaan, yang artinya akan mengurangi resiko terhadap terjadinya insiden, namun di sisi lain juga akan berarti mempersempit peluang kerja manusia.