Monthly Archives: February 2020

Penerapan K3 Galangan Kapal: Confined Space Entry

salah satu ruang terbatas di kapal adalah tangki kompartemen

Masih seputar pekerjaan di galangan kapal. Dalam pengerjaan sebuah konstruksi kapal, salah satu kegiatan yang tak dapat dihindari adalah aktivitas di dalam ruang terbatas. Bekerja di ruang terbatas atau confined space entry (biasa disingkat CSE) merupakan pekerjaan yang penuh dengan resiko dan berpotensi menimbulkan kecelakaan fatal.

Oleh karenanya, pekerjaan CSE dapat dikatakan sebagai pekerjaan dengan major hazard potential (potensi bahaya besar). Sehingga dalam melakukan pekerjaan ini perlu persiapan yang baik guna menghindari kerugian besar, yang berupa kecelakaan fatal. Maka untuk melakukan pekerjaan CSE sesuai prinsip K3 perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Identifikasi Bahaya dan Pengendalian

Sangat penting untuk mengenali segala bentuk bahaya yang mungkin ada dalam suatu pekerjaan. Dengan mengetahui potensi bahaya yang ada, akan memberikan peluang bagi kita untuk melakukan pengendalian bahaya. Potensi bahaya pada pekerjaan CSE di galangan kapal meliputi:

Tekanan

Pada umumnya tangki kapal (kompartement) yang telah beroperasi dalam waktu yang lama akan terbentuk gas metan di dalamnya, sehingga saat akan membuka penutup tangki (manhole cover) perlu memperthatikan adanya tekanan dari dalam tangki. 

Petugas cleaning tangki yang biasa melakukan pembukaan cover manhole perlu menyisakan setidaknya empat baut sebagai penahan cover manhole jika sewaktu-waktu tekanan gas dari dalam tangki menekan keluar. membuka cover manhole.

Cerita pengalaman kerja di galangan kapal memberikan informasi bahwa pernah terjadi kasus di mana saat cover manhole dibuka, tiba-tiba tekanan yang berasal dari dalam tangki mendorong dengan kuat sehingga mengakibatkan cover manhole terlempar beberapa meter ke udara. Hal inilah yang perlu diwaspadai bagi pekerja saat hendak

Atmosfir yang buruk

Tangki bahan bakar (fuel tank) yang lama dalam keadaan tertutup (kedap udara) gas-gas berbahaya, seperti metan, H2S (hydrogen sulphida), CO (karbon monoksida). Kekurangan O2 oksigen juga perlu diwaspadai terjadi di dalam tangki, minimnya ventilasi ke dalam tangki menyebabkan suplai oksigen menjadi terbatas. 

Perlu diketahui bahwa kekurangan oksigen dapat mempengaruhi kesehatan pekerja, bahkan hanya dalam hitungan menit. Kadar oksigen normal bagi manusia berkisar antara 19-23%, lebih ataupun kurang daripada itu akan memberikan dampak buruk bagi manusia. 

Kekurangan oksigen bagi manusia menyebabkan perasaan lemah, pusing hingga tidak sadarkan diri. Dalam waktu yang lama dapat berakhir pada kematian. Dengan melakukan pengujian kadar oksigen di dalam tangki serta penambahan alat untuk ventilasi (blower) dapat menghindari kondisi tersebut.

Ruang sempit

Karakter tangki pada kapal berbeda-beda, untuk pekerjaan di dalam tangki yang sempit akan menambah kesulitan bagi pekerja dalam melakukan tugasnya. Tangki cover dam, ruang steering gear, fore peak, fuel tank dan lain-lain merupakan ruang-ruang sempit yang harus dimasuki oleh pekerja untuk melakukan pekerjaan. Posisi yang sempit menyebabkan pekerja harus bekerja dalam posisi yang kikuk. Bekerja dengan posisi yang tidak energonomi ini tentu menjadi beban tambahan bagi pekerja.

Bahaya tambahan dapat berasal dari aktivitas kerja di dalam tangki. Misalnya pekerjaan panas (hot work) di dalam tangki yang menghasilkan asap (CO), pekerjaan pengecatan menghasilkan uap cat yang bersifat beracun dan mudah terbakar, pekerjaan cleaning tangki yang menggunakan bahan pembersih yang dapat mengganggu kesehatan, semuanya perlu diwaspadai sebelum bekerja di dalam tangki. Untuk pekerjaan hot work, seperti penggunaan fuel cutting perlu memperhatikan peralatan (hose dan gun cutting) yang digunakan di dalam ruang terbatas.

Pastikan peralatan tersebut benar-benar bebas dari kebocoran, baik gas fuel (LPG/asetilin) atau oksigen. Kebocoran yang terjadi di dalam ruang terbatas akan mengurung gas sehingga berakumulasi dan dapat menimbulkan bahaya, baik berupa keracunan maupun kebakaran dan ledakan. Keluarkan peralatan cutting dari tangki jika sedang tidak digunakan atau saat pekerjaan telah selesai.

Terperosok

Keberadaan lubang (manhole) di maindeck tak jarang menjadi perangkap yang membahayakan saat cover manhole tersebut dibuka. Area kerja yang sempit dan gelap menjadi faktor semakin besarnya potensi bagi pekerja yang bekerja di area manhole terbuka untuk terperosok ke dalam tangki. 

Memasang penanda yang jelas pada manhole, memasang hard barricade pada area manhole yang terbuka, memberikan pencahayaan yang cukup pada area kerja dapat dilakukan untuk menurunkan risiko orang terperosok ke dalam tangki.

Terjebak (Engulfment)

Tangki manhole seringkali menjadi “lubang maut” bagi pekerja di galangan kapal. Pekerja yang masuk dan bekerja di dalam tangki tidak diketahui keberadaannya oleh pekerja lain. Saat pekerja sedang melakukan kegiatan pekerjaan di dalam tangki, tiba-tiba ada pekerja lain yang menutup manhole tanpa menyadari keberadaan pekerja yang masih ada di dalam tangki. Kejadian mengerikan ini bukan angan-angan kosong yang mustahil terjad. Pengawas di lapangan sangat perlu memperhatikan potensi bahaya ini. 

Dengan selalu memperhatikan kondisi karyawan yang masuk ke dalam tangki diharapkan dapat mencegah kejadian pekerja yang terjebak di dalam tangki. Di dalam pedoman bekerja ruang terbatas, pemerintah Indonesia telah menegaskan perlu adanya petugas pengawas (attendance) pada setiap tangki yang akan dikerjakan. Tugas dari attendance ini adalah untuk selalu memantau kondisi pekerja di dalam tangki dan bertugas sebagai penyampai informasi tentang keadaan di dalam maupun di luar tangki.

Listrik

Bekerja di tangki yang terbatas pencahayaannya mengharuskan pekerja menggunakan bantuan penerangan di dalam tangki. Menggunakan lampu berarti memerlukan arus listrik yang harus dimasukkan ke dalam tangki. Sementara jalur untuk keluar masuk hanya ada satu manhole, sehingga potensi pekerja tersengat arus listrik sangat mungkin terjadi. Dengan selalu memperhatikan jalur kabel power listrik, memastikan bahwa kabel power yang digunakan dalam kondisi utuh, tidak ada kebocoran isolasi. 

Penggunaan lampu charge tentu sangat dianjurkan untuk mengurangi resiko sengatan arus listrik. Namun kembali lagi kepada kemampuan perusahaan, karena ini menyangku biaya. Apakah perusahaan mau mengeluarkan sedikit tambahan biaya agar pekerjanya dapat bekerja lebih aman?, di sinilah peran seorang HSE officer untuk melakukan negosiasi kepada pimpinan agar kecelakaan dapat dicegah.

Panas

Bekerja di dalam tangki kapal dengan ventilasi yang minim serta kalor sinar matahari yang terkonduksi pada pelat menyebabkan suhu di dalam tangki semakin meningkat. Ancaman dehidrasi maupun heat stress sangat perlu diwaspadai bagi pekerja di dalam tangki. Guna menekan resiko dehidrasi, maka karyawan perlu mengkonsumsi air yang cukup, serta mengatur waktu kerja di dalam tangki. 

Dengan pembatasan waktu kerja di dalam tangki, serta mengatur penjadwalan kerja (misalnya untuk pekerjaan di dalam tangki dilakukan pada pagi hari untuk menghindari suhu panas yang meningkat di dalam tangki akibat paparan sinar matahari).

Langkah Mitigasi dalam Situasi Darurat

Hal ironis seringkali terjadi pada kecelakaan di dalam tangki/ruang terbatas. Beberapa kejadian yang disampaikan oleh media massa tentang kecelakaan di ruang terbatas, di mana korban justru bertambah saat hendak menolong korban. Kurangnya pengetahuan terhadap bahaya yang ada menyebabkan orang bertindak salah. Ada pepatah yang dipopulerkan oleh City of Anderson, SC – Fire Department bahwa The difference between a hero and a fool is training.

Pengusaha/Pengurus harus menyiapkan tim rescue atau petugas khusus yang terlatih untuk melakukan pertolongan dengan cepat jika terjadi kondisi darurat di dalam ruang terbatas. Tim rescue ini selain terlatih juga harus dilengkapi dengan fasilitas untuk melakukan pertolongan dengan aman, misalnya triangle. Perlu diperhatikan, kurangnya keterampilan petugas penolong sangat mungkin memperburuk situasi.

Sumber Referensi:

  • Keputusan Dirjen Binwasnaker No. Kep. 113/DJPPK/IX/2006 tentang Pedoman dan Pengawasan Teknis Keselamatan dan Kesehatan Kerja Ruang Terbatas (Confined Spaces);
  • Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. No. SE. 01/MEN/PPK/IV2012 tentang Pemenuhan Kewajiban Syarat-Syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Ruang Terbatas/Confined Spaces;
  • Shipyard Industry Standards U.S. Department of Labour Occupational Safety and Health Administration OSHA 2268-10R 2014

Keselamatan Bekerja di Ketinggian

Dalam proses pekerjaan konstruksi kapal, baik untuk pembangunan kapal baru atau pekerjaan repair diperlukan banyak aktifitas bekerja di ketinggian (working at height). 

Pekerjaan-pekerjaan di galangan kapal yang mengharuskan aktifitas kerja di ketinggian di ataranya; proses fit up, di mana petugas fitter harus menjangkau titik-titik yang hendak dipadukan (fitting). Demikian pula halnya dengan kegiatan pengelasan (welding), petugas las pun harus mencapai secara keseluruhan bagian-bagian yang akan dilas.

Tidak hanya sampai di situ, pada kegiatan pengujian mutu (quality control inspection), proses grinding, proses painting dan lain-lain. Dapat dipastikan bahwa pekerjaan pada ketinggian merupakan salah satu aktifitas pokok dalam proses produksi di galangan kapal.

Definisi Bekerja di Ketinggian

Berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI, Nomor 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan pada Ketinggian, disebutkan bahwa: 

Bekerja pada ketinggian adalah kegiatan atau aktifitas pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kerja pada tempat di permukaan tanah atau perairan yang terdapat perbedaan ketinggian dan memiliki potensi jatuh yang menyebabkan tenaga kerja atau orang lain yang berada di tempat kerja cedera atau meninggal dunia atau menyebabkan kerusakan harta benda.”

Jika melihat definisi yang tercantum dalam Permenaker tersebut, maka pekerjaan di ketinggian pada aktifitas galangan kapal meliputi: pekerjaan di perancah (scaffolding), pekerjaan di maindeck, pekerjaan menggunakan man lift, pekerjaan menggunakan akses berupa tangga (ladder), dan pekerjaan lain yang memiliki potensi orang terjatuh dari permukaan yang berbeda. 

Potensi Bahaya Bekerja di Ketinggian

Pekerjaan di ketinggian dikatakan sebagai pekerjaan dengan bahaya besar (major hazard), karena dapat menyebabkan kecelakaan yang fatal (kematian). Berbagai kasus kecelakaan terjatuh dari ketinggian, sebagian besar kasus berakibat pada kematian. Faktor yang mempengaruhi tingkat keparahan saat terjatuh adalah kondisi area kerja.

Bahaya utama bekerja di ketinggian adalah terjatuh dari ketinggian. Namun selain itu, bahaya lain yang penting untuk diperhtikan adalah seluruh area yang terdampak aktivitas kerja di ketinggian. 

Potensi bahaya tertimpa peralatan kerja, tertimpa material sangat mungkin mengibatkan cedera yang fatal, sehingga wajib untuk dilakukan pencegahan sebelum melakukan pekerjaan. 

Seperti diketahui, bahwa pekerjaan di galangan kapal hampir secara keseluruhan yang dikerjakan adalah logam. Pemotongan dan penggabungan bagian-bagian kapal yang dikerjakan di ketinggian sewaktu-waktu dapat terjatuh dan menimpa apa saja yang ada di bawahnya.

Langkah-langkah Bekerja Aman di Ketinggian

Dengan persiapan yang baik dan benar tentu sangat diperlukan untuk mencegah kemungkinan terburuk dari aktifitas kerja di ketinggian. Bekerja pada ketinggian wajib memenuhi persyaratan K3 yang meliputi: Perencanaan, prosedur kerja, teknik bekerja aman, APD, perangkat pelindung jatuh dan tenaga kerja.

Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan saat bekerja di ketinggian:

  • Persiapkan lokasi untuk bekerja di ketinggian, pasang handrail/guardrail pada permukaan yang terbuka untuk pencegah terjatuh dari ketinggian;
  • Berikan pembatas (barricade tape/safety line) pada bagian bawah yang akan dikerjakan untuk mencegah orang melintas atau berlalu-lalang di bawah aktifitas kerja di ketinggian;
  • Guna menghindari tersandung, terpeleset, atau terjatuhnya material dari ketinggian maka perlu untuk selalu menjaga kebersihkan dan kerapihan material atau pun peralatan kerja, khususnya di tempat berjalan kaki (walkway);
  • Untuk mencegah bahaya kebakaran, sebelum melakukan pekerjaan panas di ketinggian, wajib untuk terlebih dahulu memindahkan atau melindungi material-material yang mudah terbakar di sekitar area kerja terdampak;
  • Untuk setiap akses di ketinggian harus dalam kondisi pencahayaan cukup dan dapat terlihat dengan jelas;
  • Untuk mencegah dari bahaya tertimpa, maka persiapkan jalur khusus bagi pekerja bagi pekerja lain agar terhindar dari bahaya tertimpa;
  • Bagi pekerja di ketinggian dilarang menjatuhkan atau melempar material maupun peralatan kerja;
  • Bila menggunakan scaffolding, pastikan scaffolding terpasang dengan aman dan kuat, pijakannya stabil, dan terpasang pagar pengaman;
  • Mintalah pengawas untuk memeriksa kelayakan scaffolding;
  • Pilih tangga yang standar untuk bekerja di ketinggian, perhatikan sudut kemiringan dan posisi tangga harus stabil serta pastikan tangga dalam kondisi baik.
  • Setelah pekerjaan selesai, bersihkan area kerja dan rapikan peralatan seperti semula.
  • Laporkan pada atasan jika anda menemukan potensi bahaya terjatuh atau kecelakaan terjatuh di area kerja. Hentikan pekerjaan bila diperlukan sampai kondisi benar-benar aman untuk kembali melanjutkan pekerjaan.
  • Jika diperlukan, pakai alat pelindung jatuh (full body harness) saat bekerja di ketinggian. Pastikan anda menggunakan alat pelindung diri yang tepat dan peralatan dalam kondisi baik.

Demikian gambaran dan saran-saran keselamatan bekerja pada ketinggian di galangan kapal. Bagi rekan-rekan yang memiliki pengalaman ataupun gagasan tentang K3L di galangan kapal, sangat diharapkan kesediannya untuk saling berbagi ilmu. Semoga bermanfaat.

Sumber Referensi

  • Undang-Undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan  Kerja;
  • Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI No. 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan pada Ketinggian;
  • Shipyard Industry Standards, U.S. Department of Labour Occupational Safety and Health Administration OHSA 2268-10R 2014

Penerapan K3 Galangan Kapal

Sebagai negara maritim, Indonesia tentu tidak bisa lepas dari moda transportasi air, yakni kapal. Untuk mendukung ketersediaan armada laut ini, maka industri galangan kapal adalah suatu kebutuhan yang mutlak bagi Indonesia.

Keberadaan galangan kapal mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi bangsa, di antaranya dalam hal penyerapan tenaga kerja. Ini adalah sebuah peluang dan sekaligus tantangan, melihat kondisi industri galangan yang belum sepenuhnya dikelola dengan baik.

Dari pantauan langsung di lapangan, secara pribadi saya melihat industri ini seolah terbebas dari pengawasan. Dan sebagai pekerja di bidang keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L), hal yang menjadi fokus perhatian saya tentunya adalah persoalan keselamatan tenaga kerja dan pengendalian dampak terhadap lingkungan.

Dalam tulisan ini, saya ingin membahas tentang penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di lingkup industri galangan kapal. Prinsip dasar keselamatan kerja adalah mengidentifikasi potensi-potensi bahaya dan melakukan upaya pencegahan atau pengendalian resiko hingga pada tingkat atau level yang paling rendah atau ringan.

Untuk melakukan identifikasi potensi bahaya, terlebih dahulu kita perlu mengenal proses produksi atau flow process. Di galangan kapal terdapat berbagai item pekerjaan yang memiliki potensi bahaya berdampak fatal. Oleh karena itu perlu dilakukan langkah-langkah pengendalian bahaya guna menekan resiko timbulnya kerugian, baik kepada perusahaan atau pun pekerja.

Berikut adalah jenis-jenis aktivitas pekerjaan di galangan kapal beserta gambaran potensi bahaya yang menyertainya:

Working at Height (Bekerja di Ketinggian)

Salah satu aktivitas kerja di galangan kapal adalah bekerja di ketinggian (working at height). Kebutuhan bekerja di ketinggian ini untuk menjangkau bagian-bagian kapal yang sedang dikerjakan. Bekerja di ketinggian termasuk kategori pekerjaan yang memiliki resiko kecelakaan dengan dampak fatal. 

Beberapa potensi bahaya terkait bekerja di ketinggian, di antaranya: terjatuh dari ketinggian, terperosok, posisi kerja terbatas atau gerak tubuh yang kikuk (tidak ergonomi), dan potensi orang tertimpa peralatan atau material.

Oleh sebab itu, sebelum melakukan pekerjaan di ketinggian perlu adanya persiapan-persiapan untuk mengendalikan potensi bahaya yang ada. Sebagai acuan regulasi untuk keselamatan bekerja di ketinggian, kita dapat merujuk kepada Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan pada Ketinggian.

Berdasarkan regulasi tersebut, upaya pencegahan kecelakaan dapat dilakukan dengan cara penyediaan akses bekerja di ketinggian, mengurangi aktivitas di ketinggian (jika memungkinkan), memasang pembatas pada permukaan-permukaan yang terbuka, penggunaan alat work restraint untuk pencegahan jatuh. Dan sebagai langkah terakhir adalah penggunaan full body harness sebagai alat pelindung jatuh.

Confined Sace Entry (BeKerja di Ruang Terbatas)

Kegiatan di ruang terbatas (confined space entry) merupakan aktivitas yang tidak dapat dihindari dalam proses produksi di galangan kapal. Pembuatan atau perbaikan ruang-ruang tangki bahan bakar atau kompartemen mengharuskan pekerja untuk beraktivitas di ruang terbatas.

Beberapa pekerjaan yang biasanya harus dilakukan di ruang terbatas antara lain: inspection (pengecekan) yang dilakukan oleh petugas quality control (QC) atau oleh petugas surveyor dari pemerintah (Biro Klasifikasi Indonesia), kegiatan cleaning tank, bahkan pekerjaan panas (hotwork) seperti pemotongan menggunakan flame cutting, pengelasan (welding), dan lain sebagainya. 

Agar pekerjaan dapat dilakukan dengan aman, maka diperlukan upaya untuk mengidentifikasi potensi bahaya yang berkaitan dengan pekerjaan di ruang terbatas. Perlu diketahui bahwa potensi bahaya terkait pekerjaan di ruang terbatas cukup beragam dan dapat berakibat fatal jika gagal dalam melakukan pengendalian resiko.

Ancaman bahaya bekerja di ruang terbatas meliputi: kekurangan oksigen, kekurangan pencahayaan, ketakukan tak beralasan (claustrophobia), potensi gas berbahaya (metan, CO dan H2S), potensi terjatuh, terperosok bahkan  terperangkap (engulfment) di dalam ruang terbatas. 

Selain bahaya yang disebabkan oleh karakteristik ruang terbatas, potensi bahaya juga dapat dikarenakan oleh peralatan kerja yang digunakan. Misalnya, kebutuhan pencahayaan dan alat sirkulasi udara (blower) menimbulkan adanya resiko bahaya arus listrik. 

Kerja panas (hot work) di dalam ruang terbatas juga dapat menambah, yakni potensi bahaya ledakan, keracunan uap atau asap dari pekerjaan, atau turunnya kadar oksigen akibat terdesak gas yang dihasilkan oleh pekerjaan panas.  

Regulasi pemerintah tentang keselamatan bekerja di ruang terbatas tertuang dalam Keputusan Dirjen Pembinaan dan  Pengawasan Ketenagakerjaan Nomor IX tahun 2006 tentang Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Ruang Terbatas (confined space entry).

Hot Work (Kerja Panas)

Proses produksi di galangan kapal tidak dapat terlepas dari berbagai aktivitas kerja panas (hot work). Dimulai dari proses pemotongan (cutting) material, perakitan bagian-bagian (fit up), pekerjaan pengelasan (welding), pemanasan permukaan (firing), gouging, brazing grinding dan lain sebagainya.

Karakteristik kerja panas yang melibatkan atau menghasilkan nyala api berpotensi menimbulkan resiko kebakaran maupun ledakan. Percikan logam panas dan api terbuka berpotensi menimbulkan luka bakar ringan hingga tingkat yang serius terhadap pekerja.

Demi keselamatan dalam bekerja, perlu dilakukan langkah-langkah pengendalian bahaya sebelum memulai kerja panas, antara lain: pengecekan sebelum bekerja (hot work checklist), penerbitan izin kerja panas (hot work permit), dan upaya mitigasi lain yang diperlukan terkait bahaya kebakaran dan ledakan.

Regulasi pemerintah Republik Indonesia yang mengatur tentang penanggulangan bahaya kebakaran dan ledakan di perusahaan antara lain:  

  • Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor: 04 Tahun 1980 tentang Syarat-Syarat Pemasangan APAR,
  • Instruksi Menteri Tenaga Kerja Nomor: INS. 11/M/BW/1997 tentang Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan Kebakaran,
  • Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor: 186 Tahun 1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja.

High Pressure Equipment (Bekerja dengan Alat Bertekanan)

Alat kerja bertekanan (high pressure equipment) yang dimaksud di sini adalah peralatan yang melibatkan adanya wadah terisi gas atau udara bertekanan. Wadah tersebut biasa juga disebut bejana bertekanan. Pada umumnya di galangan menggunakan bejana bertekanan, seperti tabung oksigen (O2 cylinder), kompresor dan sand pot blasting. Beberapa galangan juga menggunakan air bag atau balon untuk proses penarikan dan penurunan kapal .

Seperti diketahui bahwa oksigen merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kegiatan pemotongan (cutting) dan fitting, sehingga pekerjaan di galangan kapal tidak dapat terlepas dari penggunaan tabung oksigen. Sementara itu, kompressor digunakan dalam aktivitas antara lain pekerjaan sand blasting, water jetting, kegiatan memompa airbag, maupun pada pekerjaan pengecatan (spray painting).

Beberapa aktivitas lain di galangan kapal juga melibatkan tekanan tinggi, seperti kegiatan uji kebocoran tangki kompartemen dengan metode air test, yakni dengan memompa udara ke dalam kompartemen menggunakan kompressor, lalu kemudian memeriksa hasil pengelasan (welding) pada setiap sambungan pelat. Kegiatan uji kebocoran dengan metode hydrotest juga memanfaatkan tekanan tinggi untuk menguji kebocoran sistem perpipaan di kapal.

Kebutuhan produksi di galangan kapal mengharuskan bekerja menggunakan peralatan bertekanan. Mengingat resiko kecelakaan yang berpotensi ditimbulkan dapat berakibat fatal, maka demi keselamatan diperlukan upaya pengendalian resiko secara maksimal. Bahaya utama dari pekerjaan bertekanan adalah potensi ledakan. Sehingga dalam penggunaannya perlu penanganan khusus agar resiko terkait dapat diminimalisir.

Syarat kelayakan suatu bejana bertekanan perlu dibuktikan dengan adanya sertifikat konstruksi bejana dan surat izin penggunaan dari dinas tenaga kerja RI. Selain persyaratan izin, pengujian dan perawatan secara berkala oleh internal pengurus juga wajib dilakukan. 

Sebagai bahan dalam upaya penerapan keselamatan penggunaan bejana bertekanan, pemerintah RI telah menerbitkan regulasi berupa  Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bejana Tekanan dan Tangki Timbun.

Bekerja di Tepi Permukaan Air

Terkadang, dalam kondisi tertentu, proses produksi mengharuskan pekerjaan dilakukan di atas atau di tepi permukaan air. Pekerjaan itu meliputi proses mooring kapal yang akan melakukan docking, maupun perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan selama kapal tertambat.

Pada aktivitas menyeberang dari jetty menuju kapal, atau saat perpindahan pekerja dari kapal ke kapal memiliki potensi orang terjatuh. Resiko terjatuh ke air dapat berakibat kematian. Penyebabnya beragam, karena tidak mampu berenang, terbawa arus atau mengalami benturan sehingga tidak sadarkan diri dan tenggelam.   

Dengan beberapa kejadian serupa di tempat lain dalam industri yang sama mengisyaratkan bahwa resiko pekerja terjatuh ke air cukup tinggi. Oleh sebab itu, pekerjaan di atas atau di tepi permukaan air perlu mendapatkan perhatian dari pihak manajemen perusahaan.

Berbagai cara pengendalian bahaya bekerja di tepi/atas permukaan air dapat ditempuh dengan menyediakan pagar (guard rail) pada bagian tepi. Akses untuk naik dan turun dari kapal juga perlu dipersiapkan. Jika tidak memungkinkan untuk pemasangan guard rail, maka perlu ditetapkan aturan penggunaan alat pelindung diri berupa pelampung (life jacket) saat berada di tepi atau di atas permukaan air. 

Painting (Pengecatan)

Painting atau pengecatan pada konstruksi kapal, selain untuk memberikan warna yang menarik juga sebagai pelapis (coating) terhadap permukaan logam untuk mencegah proses terbentuknya karat (korosi). Mengingat bahwa permukaan lambung kapal akan menghadapi medan yang ekstrem, maka bahan cat yang digunakan pun berupa bahan khusus.

Namun sayangnya, karena kebutuhan bahan cat yang khusus tersebut juga membawa resiko buruk terhadap kesehatan manusia dan biota di lingkungan sekitar. Sehingga dalam penggunaan cat perlu diperhatikan, mulai dari penyimpanan, pengangkutan, proses pemakaian hingga pasca penggunaan cat. Limbah dari kegiatan ini dapat berupa sisa cat dan thinner, maupun kaleng yang tercemar.

Pekerjaan painting di dalam ruangan/tangki juga merupakan bagian pekerjaan beresiko tinggi. Uap dari aktivitas pengecatan yang terakumulasi di dalam tangki, dapat menimbulkan kebakaran dan ledakan. Hal itu sangat mungkin terjadi, baik pada saat proses pengaplikasian cat maupun setelah pekerjaan selesai dilakukan. 

Demi alasan keselamatan dalam pekerjaan painting, wajib memperhatikan informasi yang ada di dalam material safety data sheet (MSDS) produk cat, dan regulasi pemerintah yang mengatur tentang hal ini. 

Sebagai bahan rujukan, kita dapat melihat beberapa regulasi pemerintah berikut ini; 

  • Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No.KEP. 187/MEN/1999 tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja,
  • Peraturan Menteri Tenaga Kerja,  Transmigrasi Nomor Per.13/Men/X/2011 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja,
  • SNI 19-0232-2005 Nilai Ambang Batas (NAB) zat kimia di udara tempat kerja.

Lifting Operation (Operasional Pengangkatan)

Di dalam proses menyatukan (assembling) bagian-bagian konstruksi kapal diperlukan bantuan pesawat angkat dan angkut untuk melakukan operasional pengangkatan (lifting operation). Macam-macam pesawat angkat yang biasa digunakan antara lain: forklift, tower crane, overhead crane dan mobile crane, dll.

Penggunaan pesawat angkat dan angkut memiliki bermacam potensi bahaya yang harus dicegah untuk menghindari kerugian. Diperlukan persiapan-persiapan sebelum melakukan aktivitas. Baik kesiapan alat, operator maupun metode pengoperasiannya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait kegiatan pengangkatan adalah; pesawat angkat dan angkut dalam kondisi layak dioperasikan. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya sertifikat atau surat kelayakan dari badan atau pihak berwenang, dalam hal ini adalah Dinas Tenaga Kerja.

Selain pesawat angkat dan angkut dalam kondisi layak, operator juga harus merupakan orang-orang yang telah terlatih. Hal itu dibuktikan dengan sertifikat pelatihan serta surat izin operasional dari Kementerian Tenaga Kerja RI.

Jika alat angkat dan angkut, operator telah memenuhi persyaratan, maka selanjutnya adalah metode atau prosedur dalam operasional pengangkatan. Tim yang bertugas melakukan pengangkatan harus memahami dengan benar antara kemampuan alat angkat dan beban yang akan diangkat. Petugas yang biasanya melakukan ini di perusahaan adalah seorang juru ikat atau rigger.

Olah gerak pesawat angkat dan angkut, area-area kerja, serta orang-orang yang mungkin terdampak aktivitas pengangkatan harus diperhatikan. Jika diperlukan, tim yang melakukan kegiatan pengangkatan dapat memasang pembatas area (barricade), untuk mencegah orang lain masuk ke area berbahaya.

  • Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No 5 Tahun 1985 tentang Pesawat Angkat dan Angkut;
  • Peraturan Menteri tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor 9 Tahun 2010 tentang Operator dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut

Electrical (Penggunaan Tenaga Listrik)

Untuk kebutuhan mesin las, mesin gerinda, blower, lampu penerangan area kerja, pompa listrik, dan berbagai macam kebutuhan lainnya yang memerlukan tenaga listrik. Sehingga fungsi tenaga listrik cukup penting dalam aktivitas produksi di galangan kapal.

Aktivitas kerja di galangan pada umumnya dilakukan di tempat terbuka dan berpindah-pindah titik. Sehingga peralatan listrik yang digunakan bersifat sementara (temporary). Kondisi demikian tentu menambah resiko sewaktu-waktu jaringan listrik dapat terjadi kebocoran disebabkan karena penggunaannya selalu berpindah-pindah. 

Penggunaan tenaga listrik di outdoor juga perlu menjadi perhatian bagi pekerja, bahwa resiko akan meningkat jika peralatan kelistrikan dalam kondisi basah akibat terkena hujan. Demi keselamatan, penggunaan peralatan kelistrikan yang kedap air (water proof) sangat dianjurkan.

Selain itu, perlengkapan keselamatan untuk peralata juga harus dilengkapi, misalnya autobreker panel listrik yang mampu memutuskan arus secara otomatis jika terjadi hubungan singkat (short circuit). Pemasangan pembumian (grounding) dan pengecekan alat kelistrikan secara rutin untuk memastikan isolatornya dalam kondisi utuh.

Sebagai pedoman dalam menyediakan dan menggunakan  tenaga listrik secara aman dapat mengacu pada Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2011.

Radiography Test (Uji Radiografi)

Tahap akhir pembangungan konstuksi kapal sebelum dilakukan coating adalah pengujian untuk memastikan ketahanan konstruksi. Pengujian dilakukan pada titik-titik hasil pengelasan di setiap sambungan.

Salah satu metode pengujian yang umum dilakukan adalah uji tidak rusak (Non Destructive Test) dengan menggunakan kamera radioaktif atau X-Ray. Dari gambar yang didapatkan akan memperlihatkan hasil pengelasan secara keseluruhan. 

Seperti dijelaskan dari berbagai sumber tentang dampak paparan radioaktif, yakni dapat menimbulkan efek somatik maupun genetik. Sehingga bukan hal yang berlebihan jika berurusan dengan radioakatif harus ekstra berhati-hati, baik dalam penyimpanan, pengangkutan maupun penggunaannya.

Untuk upaya menurunkan resiko terjadinya paparan radioaktif ini, perlu mempertimbangkan tingkat urgensi penggunaannya. Jika memungkinkan, sebaiknya menggunakan metode pengujian lain namun memiliki fungsi yang sama. Atau biasa disebut dengan metode subtitusi.

Namun, jika sekiranya penggunaan radioaktif benar-benar harus dilakukan, maka langkah-langkah untuk keselamatan wajib dilakukan secara maksimal.

Upaya keselamatan yang dapat dilakukan di antaranya; penyerahan pekerjaan kepada pihak eksternal yang memang secara khusus menangani masalah radioaktif. Membatasi atau mengisolasi area yang terdampak, sehingga menurunkan resiko orang lain terpapar.

Beberapa regulasi pemerintah RI yang mengatur tentang radioaktif:

  1. Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 7 Tahun 2009 tentang Keselamatan Radiasi dalam Penggunaan Peralatan Radiografi Industri;
  2. Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 Tahun 2008 tentang Perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuklir;
  3. Peraturan Pemerintah RI Nomor 33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan  Keamanan Sumber Radioaktif.

Ada banyak lagi aktivitas-aktivitas kerja di galangan yang memiliki potensi bahaya dan perlu diidentifikasi untuk dilakukan pengendalian guna mencegah terjadinya kecelakaan. Di dalam prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3),  semakin banyak  potensi bahaya dari suatu pekerjaan yang teridentifikasi, maka semakin lengkap pula upaya pengendalian yang dapat dilakukan. Sehingga dengan begitu, resiko dapat diturunkan. 

sumber:

1. Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Direktorat Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan R.I; 

2. Shipyard Industry Standards, U.S. Department of Labour, Occupational Safety and Health Administration, OHSA 2268-10R 2014 

Meningkatkan Keuntungan Perusahaan Melalui Penerapan K3

Photo by Adeolu Eletu on Unsplash

Momen bulan K3 Nasional Tahun 2020 merupakan tahun ke-50 sejak terbitnya undang-undang nomor 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja. Artinya 50 tahun sudah undang-undang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) itu berlaku.

Namun, dalam pidato sambutan Menteri Ketenagakerjaan RI pada upacara hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja tahun 2020 menyatakan bahwa K3 belum sepenuhnya berjalan.

Dalam upaya promosi, selalu dihubungkan antara penerapan K3 dengan pertumbuhan ekonomi, perkembangan perusahaan, peningkatan keuntungan bagi perusahaan dan lain sebagainya.

Lalu apa hubungan K3 dengan ekonomi?

Pada suatu kesempatan, seorang teman di perusahaan pernah menanyakan hal tersebut kepada saya;

“apa hubungannya penerapan K3 dengan ekonomi nasional? Kata si teman tadi setelah melihat tulisan di spanduk yang berisi tema bulan K3 nasional tahun 2019.

Menurut saya, pertanyaan itu wajar bagi sebagian orang, terlebih yang masih awam terhadap K3. Pada umumnya orang memahami penerapan K3 sebagai beban bagi perusahaan. Karena ada biaya cukup besar yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk memenuhi perysaratan K3.

Kita ambil contoh misalnya dalam sebuah perusahaan konstruksi. Untuk satu orang pekerja konstruksi, perusahaan harus mengeluarkan biaya perlengkapan alat pelidung diri (sepatu keselamatan, helm keselamatan, baju coverall, kaca mata pelindung,  sarung tangan), dengan standar kualitas minimal, setidaknya menghabiskan  biaya Rp. 1.500.000,- per orang.

Ini baru bicara tentang alat pelindung diri, yang merupakan syarat paling dasar dari penerapan K3. Belum lagi jika di dalam proyek memerlukan aktivitas yang sifatnya beresiko tinggi, pekerjaan panas, high pressure, ruang terbatas, bekerja di ketinggian, menggunakan pesawat angkat dan angkut, dan lain sebagainya.

Tentu syarat K3 yang wajib dipenuhi semakin banyak lagi, dan biayanya pun akan bertambah besar. Biaya pelatihan dan sertifikasi, baik operator maupun peralatan. Biaya untuk penyediaan alat proteksi bahaya kebakaran, kelengkapan emergency, dan lain sebagainya.

Semakin tinggi resiko pekerjaan, semakin mahal pula anggaran penerapan K3 yang diperlukan.

Lantas bagaimana peranan K3 dalam meningkatkan keuntungan bagi sebuah perusahaan?. Berikut pemaparan tentang beberapa manfaat K3 bagi perusahaan:

Penerapan K3 mempengaruhi loyalitas karyawan

Pengusaha yang baik pasti memandang karyawannya sebagai asset paling berharga di dalam perusahaannya. Terutama karyawan yang sudah memiliki skill mumpuni.

Namun pengusaha harus memahami, bahwa semakin tinggi kualifikasi seorang karyawan maka semakin tinggi pula standar yang dia tetapkan bagi dirinya. Selain masalah salary, tunjangan fasilitas, mereka juga sudah akan memperhitungkan masalah keselamatan (safety).  

Dan salah satu ciri yang membedakan antara pekerja profesional dengan pekerja amatir adalah dari segi keselamatan dalam bekerja.

Pekerja profesional tidak akan segan-segan meninggalkan tempat kerja yang dirasa tidak mampu menjamin keselamatannya. Mereka berani berspekulasi, toh skillnya sudah mumpuni. Daripada bekerja tetapi senantiasa terancam bahaya, sementara masih banyak pilihan di tempat lain.

Kesimpulannya, karyawan akan betah dan loyal kepada perusahaan, salah satu alasannya adalah komitmen perusahaan dalam menjamin keselamatan karyawannya. Sungguh kerugian bagi perusahaan jika ditinggalkan oleh karyawan hanya karena tidak mampu memberikan rasa aman di tempat kerjanya.

Penerapan K3 membangun kepercayaan pasar

Hidup matinya perusahaan  adalah tergantung pada pasar. Apa pun bentuk usahanya, pasarlah yang akan menjadi penentu.

Dan merupakan salah satu isu yang sedang trending di pasar global adalah tentang keselamatan, kesehatan dan kelestarian lingkungan. Sehingga, menjadi persyaratan bagi produsen untuk memenuhi syarat tersebut agar dapat diterima di pasar global.

Ada pengalaman di perusahaan galangan kapal, ketika salah satu perusahaan support transportasi pertambangan hendak menaikkan kapalnya untuk perbaikan di galangan tersebut.

Selain dari sistem progress pelaksanaan perbaikan, hal yang tak kalah mereka tekankan adalah masalah keselamatan. Sehingga pihak galangan harus berupaya keras untuk memenuhinya. 

Dan alhasil, tidak sia-sia. Selain dari nilai proyek yang cukup besar, tak kalah pentingnya yakni portofolio bagi perusahaan . Bisa dibayangkan, keberhasilan galangan tersebut mengerjakan proyek perbaikan kapal dari perusahaan kelas iternasional akan membangun kepercayaan bagi pemilik-pemilik kapal lainnya.

Hal ini menjadi magnet bagi perusahaan-perusahaan lain untuk memberikan proyek pebaikan dan pembangungan kapalnya kedepan. Sungguh sangat disayangkan jika peluang mendapatkan proyek besar harus gagal hanya karena perusahaan tidak mampu memenuhi persyaratan K3.

Penerapan K3 mampu menekan biaya asuransi

Perusahaan dengan asset yang mahal tentunya meminta jaminan dari pihak asuransi. Dimaksudkan agar ketika terjadi hal yang tak diinginkan, maka kerugian perusahaan akan tertutupi oleh perlindungan asuransi.

Namun, prinsip penentuan premi dan nilai jaminan asuransi adalah dari ditentukan dari tingkat resiko pesertanya. Semakin tinggi resiko peserta asuransi, maka semakin mahal premi dan sebliknya jaminan yang diberikan justru lebih kecil.

Lain halnya jika hasil penilaian terhadap peserta memiliki resiko yang rendah, maka niali premi yang perlu dibayarkan pun akan lebih murah dan sebalikanya jaminan yang diberikan akan lebih besar.

Dengan perusahaan menerapkan K3, maka akan menekan resiko kerugian yang mungkin timbul. Resiko yang kecil akan menarik pihak asuransi untuk berani memberikan jaminan yang besar dengan premi yang rendah. Lumayan bukan?.

Nah, jika kita kembali mengkalkulasi biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menerapkan K3, dibandingkan dengan tiga keuntungan yang disebutkan di atas, manakah yang lebih besar angkanya?. Silahkan dihitung-hitung sendiri.

Tanggung Jawab K3 Menurut Undang-Undang

Ada kalimat seperti ini, “tugas kami ini hanya bekerja, bagian produksi, masalah safety, masalah K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) itu urusan safety officer“. Jujur saja, ini adalah pemahaman keliru, dan tugas safety officer untuk meluruskan kekeliruan tersebut.

Untuk menciptakan suasana yang aman di tempat kerja, setiap level jabatan atau fungsi di dalam perusahaan harus memiliki tanggung jawab terhadap penerapan K3.

“Barang siapa akan memasuki suatu tempat kerja, diwajibkan mentaati semua petunjuk keselamatan kerja dan memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan”, ini kalimat yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970.

Lalu siapa sebenarnya yang bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesehatan kerja?

Pemilik usaha

Secara kesuluruhan, pemilik usaha atau pengusaha lah yang bertanggung jawab terhadap keselamatan semua orang yang bekerja di dalam perusahaannya.

Sehingga salah satu elemen sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) yakni adanya komitmen secara tertulis dan ditandatangani oleh direktur atau pemilik usaha.

Komitmen tersebut berisi tentang pernyataan untuk menjamin keselamatan, menyediakan tempat kerja yang aman dan ramah terhadap manusia atau pun lingkungan.

Pengurus

Pengurus atau manajemen perusahaan adalah orang yang diserahi tugas untuk mengelola jalannya usaha, memastikan perusahaan berjalan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemilik modal atau usaha, termasuk mengupayakan keselamatan aset perusahaan (manusia dan properti).

Jajaran pengurus di dalam perusahaan mulai dari fungsi tertinggi, yakni pucuk pimpinan atau biasanya general manager, section head atau department manager, supervisor hingga fungsi terdekat dengan pelaksana kerja, yaitu foreman atau leader di lapangan.

Dari semua jabatan dan fungsi tersebut masing-masing memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan orang dan properti yang berada di bawah pengawasannya. Semakin tinggi jabatan, semakin banyak bawahannya, maka semakin berat tanggung jawabnya. Cukup adil bukan?.

Safety Officer

Lalu apa tugas dan tanggung jawab petugas K3 atau safety officer di perusahaan?. Disebutkan dalan undang-undang keselamatan kerja bahwa petugas K3 atau ahli K3 di perusahaan bertanggung jawab membantu pengurus dalam menerapkan K3.

Jadi secara teknis, safety officer membantu pengurus dalam mengidentifikasi potensi-potensi bahaya yang ada di perusahaan, mengidentifikasi regulasi dan standar K3 yang perlu dipenuhi, dan memberikan saran-saran perbaikan yang sesuai dengan kondisi perusahaan. Semua saran-saran tersebut dituangkan dalam program K3.

Keputusan dijalankan atau tidaknya program K3 ditentukan oleh pimpinan di perusahaan. (karena program K3 perlu biaya, kalau tidak diizinkan oleh pimpinan perusahaan, duitnya dapat dari mana? he..he…he..).

Tanggung jawab safety officer sebatas memberikan input saran. Jika saran diterima, yah syukur, tidak diterima yah sabar. Tapi harus usaha maksimal dulu yah, negosiasi, presentasi ke pimpinan, pokoknya berusaha bagaimana supaya program K3 diterima, dan anggaran bisa disetujui. Oke?.

Pekerja

Pelaksana kerja adalah objek dalam penerapan K3. Mereka memiliki kewajiban dan juga hak dalam penerapan K3, yang dalam undang-undang disebutkan sebagai berikut:

  • Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan;
  • Meminta pada Pengurus agar dilaksanakan semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang diwajibkan;
  • Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan di mana syarat kesehatan dan keselamatan kerja serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya, kecuali dalam hal-hal khusus ditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang masih dapat dipertanggung jawabkan;
  • Jaga kebersihan dan kerapihan di tempat kerja;
  • Segera laporkan/informasikan kepada atasan setiap kondisi tidak aman di tempat kerja;

Kira-kira seperti itulah tanggung jawab K3 di perusahaan. Jadi tidak ada lagi bahasa yang mengatakan K3 itu urusannya safety officer. Karena K3 adalah urusan semua orang. Dan sekali lagi tugas safety officer untuk memberikan pemahaman tentang ini.

Kalau masih belum yakin, silahkan baca kembali Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja.

Tips Bagi Safety Officer Pemula Menghadapi Tempat Kerja Baru

Menjadi safety officer atau petugas K3 di perusahaan memiliki tantangan yang komplek (lihat tulisan lainnya tentang K3L dan Kompleksitasnya). Bagi safety officer berpengalaman, mungkin tidak terlalu mengalami kesulitan.

Namun berbeda halnya bagi seorang safety officer pemula yang belum memiliki gambaran secara pasti tentang kondisi lapangan kerja yang sebenarnya. Saya pernah mengalami situasi tersebut dan merasakan kesulitannya.

Melalui tulisan ini saya ingin membagikan pengalaman, semoga bisa menjadi tambahan informasi bagi rekan-rekan yang memang masih pemula di bidang keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L).

Catatan: Tips ini khusus untuk safety officer pemula yah, tidak berlaku bagi yang senior, karena pasti lebih pakar, he.hhe..he..

Berikut tips yang merupakan catatan saya di tahun-tahun pertama menjalani pekerjaan sebagai safety officer;

  1. Bangun komunikasi dengan semua elemen

Penting bagi seorang safety officer untuk mendapatkan dukungan dari segenap lapisan elemen di perusahaan. Ingat, seberapa pun hebatnya seorang safety officer dalam menyusun konsep sistem manajemen K3 akan gagal tanpa dukungan dari semua pihak.

Manajemen atau pengurus adalah penentu kebijakan dalam perusahaan. Karyawan atau pelaksana kerja adalah orang yang akan menerapkan sistem dan memberikan informasi penting terkait kondisi aktual di lapangan. Tanpa kolaborasi dengan mereka, maka dapat dipastikan program K3L sulit dijalankan.

Kemampuan beradaptasi sangat diperlukan oleh seorang safety officer pada tahap awal bekerja di sebuah perusahaan. Bersikap terbuka dan menerima informasi dari semua pihak, namun tetap terlihat professional.

2. Berikan kesan positif

Seperti kalimat dalam sebuah iklan, “kesan pertama begitu menggoda”, hal ini juga diperlukan bagi safety officer. Sebelum menyampaikan peraturan tentang K3L, safety officer harus mampu menarik perhatian objeknya terlebih dahulu. Layaknya seorang marketing yang hendak memasarkan produk, safety officer harus membuat orang mendengar dan percaya setiap apa yang disampaikannya.

Bahasa tubuh dan cara berbahasa yang baik sangat membantu untuk memberi kesan positif. Selain itu, penampilan juga tidak bisa dikesampingkan. Pemilihan out fit yang tepat (tidak harus mahal), penggunaan atribut yang sepantasnya, semua diperlukan bagi safety officer.

Sekali lagi, ingat, safety officer akan mendapatkan perhatian lebih. Segala gerak geriknya akan menjadi patokan. Bisa dibayangkan jika safety officer memiliki banyak celah di mata karyawan, maka tunggu saatnya untuk menjadi public enemy di perusahaan. 

3. Kenali Karakter pekerja dan siapa influencer di sana

Setiap daerah, setiap perusahaan bahkan setiap departemen di dalam sebuah perusahaan akan memiliki karakternya masing-masing. Agar terhindar dari kesalahpahaman, safety officer harus mampu mengenali setiap karakter pekerja. 

Selain karakter, juga tak kalah penting untuk mengetahui siapa influencer yang ada di dalam tim. (biar kekinian, saya pakai kata influencer, padahal bahasanya umumnya adalah orang yang berpengaruh, he….he…he…).

Boleh jadi, di perusahaan sudah menetapkan struktur organisasi, tetapi keberadaan influencer terkadang lebih mampu mengendalikan tim daripada atasan yang ada dalam struktur. Safety officer harus mampu melakukan pendekatan terhadap si influencer guna melancarkan langkah dalam mempromosikan program K3L.

4. Mulai lakukan pendataan

Setelah proses pendekatan dilakukan, selanjutnya tugas safety officer adalah melakukan pengumpulan data. Kegiatan pengumpulan data bisa menggunakan tool (form Hazard Identification) yang didapatkan dari pelatihan atau training HSE yang telah diikuti.

Catat semua yang berpotensi menjadi sumber bahaya  di dalam perusahaan. Proses atau alur produksi, lingkungan pekerjaan, peralatan yang digunakan, material atau bahan baku produksi, lingkungan sekitar bahkan manusia yang ada di dalam perusahaan itu sendiri bisa menjadi sumber bahaya.

Sumber untuk mendapatkan informasi dapat berupa pengamatan langsung, wawancara terselubung (maksudnya melakukan basa-basi tetapi sambil mengumpulkan informasi), meminta bantuan dari pengawas atau orang yang sangat memahami proses kerja, melihat buku manual produk atau dari lembar data keselamatan bahan atau biasa disebut MSDS (material safety data sheet).

5. Identifikasi regulasi dan standar yang harus dipenuhi

Regulasi pemerintah yang paling dasar adalah undang-undang nomor 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja, undang-undang nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, peraturan pemerintah nomor 50 tahun 2012 tentang system manajemen keselamatan dan kesehatan kerja.

Di dalam kawasan NKRI (Negara keseatuan republic Indonesia), ketiga regulasi di atas adalah dasar, lalu kemudian dijabarkan lagi dalam bentuk keputusan menteri dan lain sebagainya. Safety officer harus mempertemukan antara kondisi perusahaan dengan regulasi yang wajib dipenuhi.

Dari actual penerapan K3L yang sudah berjalan dengan persyaratan yang tertuang dalam regulasi pemerintah, safety officer bisa melihat gap atau perbedaan. Mana yang sudah terpenuhi dan mana yang belum. Gap tersebut yang akan menjadi dasar dalam menyusun program K3L.

6. Menyusun Program K3L

Setelah mengidentifikasi regulasi yang wajib dipenuhi dan menentukan gap-nya, maka selanjutnya adalah menyusun program K3L. Sebagai safety officer harus bersikap bijaksana dalam menyusun program yang perlu dijalankan. Mengingat bahwa program yang diajukan berkaitan dengan cost atau biaya.

Susunlah program K3L berdasarkan skala prioritas, lakukan upaya pengendalian secara berkala dari potensi bahaya dengan resiko tertinggi, sedang hingga paling rendah. Lakukan diskusi dengan pemegang fungsi manajemen, berikan pandangan tentang manfaat jika program dijalankan dan resiko kerugian bagi perusahaan jika diabaikan.

Serahkan keputusan sepenuhnya kepada pucuk pinpinan perusahaan. Tugas safety officer hanya sampai kepada pemaparan rencana program dengan didasarkan pada data actual di lapangan dengan persyaratan regulasi dan standar yang berlaku. Safety officer tidak memiliki wewenang untuk memaksakan semua program harus disetujui oleh manajemen.

7. Perkuat dokumentasi

Sebagai bukti bahwa safety officer telah menjalankan tugas, maka diperlukan adanya dokumen. Ini adalah “barang bukti” yang akan menyelamatkan safety officer dari tuntutan apabila terjadi hal-hal tak diinginkan, semisal kecelakaan fatal.

Ada istilah “bola panas” yang harus segera dilemparkan jauh dari genggaman safety officer. Pelepasan bola panas ini harus ada bukti berupa dokumen tertulis yang sah. Satu contoh sederhananya adalah laporan safety patrol yang berisi temuan-temuan potensi bahaya di tempat kerja. Safety officer akan terlepas dari bola panas apabila telah menyampaikan laporan hasil patrol tersebut kepada bagian-bagian yang bertanggung jawab.

Untuk menguatkan bukti penyerahan informasi biasanya digunakan document transmittal atau bukti terima dokumen. Bukti penerimaan dokumen harus disahkan dengan adanya tandatangan yang menerima, bila perlu menggunakan stempel, tergantung aturan yang berlaku di perusahaan itu. Foto-foto laporan sebaiknya diatur agar menampilkan tanggal dan waktu pengambilannya.

Beberapa dokumen yang umum diperlukan:

Manual system manajemen K3L

  • Manual system manajemen K3L
  • Prosedur-prosedur kerja aman
  • Instruksi kerja
  • Formulir-formulir, termasuk di dalamnya HIRA, Job safety analysis dan izin kerja.

Semoga bermanfaat. Jika ada yang berminat menambahkan atau menyanggah, silahkan tuliskan di kolom komentar atau kontak saya melalui halaman kontak, terima kasih.