Monthly Archives: March 2020

Catatan dari Galangan Kapal: Kerja Panas (Hot Work)

Salah satu bentuk kerja panas adalah welding atau pengelasan

Untuk membangun dan memperbaiki sebuah kapal diperlukan pekerjaan yang melibatkan api, atau disebut kerja panas. Dalam bahasa Inggris biasa dikenal dengan istilah hot work. Tentunya yang dimaksud di sini adalah pekerjaan untuk kapal besi yah, bukan kapal kayu.

Jenis-jenis kerja panas

Lalu apa saja yang dimaksud pekerjaan panas?. Kerja panas (hot work) adalah setiap aktivitas pekerjaan yang dalam pelaksanaannya menggunakan nyala api atau menimbulkan percikan api.

Termasuk kerja panas antara lain meliputi: 

  • Proses pemotongan logam (cutting) menggunakan alat yang namanya flame cutting. Dalam pemakaiannya, alat ini menggunakan gas oksigen dan elpiji/asetilin untuk menyalakan api,
  • Proses pengelasan (welding), yakni penyambungan dua bagian logam dengan cara memanaskan hingga titik cair pada kedua bagian tersebut.
  • Proses brazing, modelnya hampir sama dengan alat flame cutting, namun dipadu dengan stik kuningan yang dicairkan. Biasanya digunakan untuk menambahkan permukaan yang mengalami pengikisan (abrasi),
  • Proses gerinda (grinding), dilakukan untuk membersihkan permukaan hasil pekerjaan sebelum proses finishing (painting)

Sebenarnya masih ada banyak lagi jenis kerja panas yang dilakukan untuk pembangunan atau perbaikan sebuah kapal. Biasanya tergantung dari jenis kapal atau pun standar kelas untuk kapal tersebut.

Potensi bahaya dan resiko kerja panas

Karena pekerjaan ini selalu melibatkan api, maka tentunya potensi bahaya utamanya adalah panas. Resiko paling ringan adalah luka bakar akibat percikan api atau cairan logam panas. Luka bakar ringan, sedang hingga berat, setiap waktu bisa saja terjadi.

Selain berpotensi menimbulkan luka bakar pada pekerja, kerja panas juga berpotensi menimbulkan kerugian berupa kebakaran bahkan ledakan. Beberapa kejadian seperti ini kerap terjadi, terutama dalam proyek perbaikan kapal (ship repair).

Tingginya frekuensi kerja dan banyaknya item pekerjaan panas menjadi penyebab tingginya resiko. Untuk itu diperlukan upaya-upaya pengendalian bahaya dalam melakukan pekerjaan panas (hot work) di galangan kapal. 

Langkah aman untuk kerja panas

Setelah mengetahui resiko dari kerja panas, maka diperlukan langkah-langkah agar tetap aman dalam bekerja. Dan demi alasan keselamatan, maka setiap orang yang berada di area proyek pekerjaan kapal perlu memperhatikan hal-hal sebelum memulai pekerjaan. Hal tersebut antara lain:

  1. Lakukan pengecekan area secara keseluruhan, perhatikan titik-titik yang mungkin terkena api. Pastikan semua area yang terdampak tersebut bebas dari bahan mudah terbakar atau pun meledak. Biasanya, untuk memastikan hal ini digunakan izin kerja panas (hot work permit) sebelum memulai aktivitas kerja panas;
  2. Lakukan pengecekan untuk memastikan alat-alat kerja dalam kondisi baik dan layak digunakan, misalnya pada sambungan cutting torch dan hose (selang) serta regulator bebas dari kebocoran gas;
  3. Lakukan housekeeping secara berkesinambungan di tempat kerja untuk menghindari penumpukan material yang berpotensi menjadi bahan baku saat terjadi kebakaran;
  4. Apabila diperlukan, pastikan ada seorang fire watcher/helper yang menjaga percikan api;
  5. Pastikan tersedia APAR (fire extinguisher) yang setiap saat siap digunakan jika terjadi keadaan darurat kebakaran;
  6. Atur jarak penempatan tabung-tabung oksigen dan LPG/asetilin, pastikan agar tidak terjangkau percikan api dari kegiatan pekerjaan panas;
  7. Hindari terjadinya pekerjaan yang sifatnya berlawanan, misalnya aktivitas pekerjaan pengecatan (painting), sebaiknya lakukan pengaturan waktu kerja agar tidak bersamaan;
  8. Pasang pelindung pada material yang dapat terbakar menggunakan fire blanket jika arah percikan api/spark tak dapat dihindari;
  9. Gunakan APD yang diperlukan seperti safety glass, safety shoes, safety helmet, sarung tangan kulit (welding glove), dan pakaian pelindung (flame retardant);
  10. Saat bekerja di ruangan terbatas (confined space) pastikan cukup penerangan dan ventilasi agar aman dari resiko kebakaran atau ledakan;
  11. Keluarkan hose dan alat cutting dari tangki/ruang terbatas (confined space) saat usai digunakan. (Ingat, beberapa kejadian ledakan pada tangki diakibatkan kebocoran gas yang terakumulasi di dalam).
  12. Matikan peralatan dan tutup semua valve/keran tabung gas saat sedang tidak digunakan;
  13. Luangkan waktu untuk memeriksa setiap area yang terkena percikan api untuk memastikan tidak ada sisa api yang masih menyala sebelum meninggalkan area kerja.

Kira-kira seperti itulah gambaran kerja panas yang dilakukan dalam proyek pembangunan dan perbaikan kapal. Tidak heran, banyak yang bilang kerja di galangan kapal itu panas. Kerjanya setiap saat berhadapan dengan besi-besi, percikan api dan umumnya di tempat terbuka yang terpapar matahari langsung.

Tapi apa pun pekerjaan itu, cintailah dan lakukan dengan sepenuh hati. Karena mungkin banyak orang di luar sana yang sebenarnya sangat mengidamkan pekerjaan kita sekarang. Bener kan?

Referensi:

  • Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor 186 Tahun 1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja;

  • Instruksi Menteri Tenaga No. INS.11/M/BW/1997 tentang Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan Kebakaran;

  • Standard fo Fire Prevention During Welding, Cutting, and Other Hot Work, NFPA 51B 2009 Edition