Monthly Archives: April 2020

Kenapa Mau jadi HSE Officer?

Kenapa memilih jadi HSE Officer?, karena HSE officer itu keren…

HSE Officer hanya posisi pelengkap

Banyak orang yang berpendapat bahwa bekerja sebagai HSE (Health, Safety and Environment) Officer di sebuah perusahaan itu merupakan kebanggaan dan posisi yang nyaman. Seorang HSE Officer tidak perlu bekerja berat, berkeringat dan tidak usah pusing memikirkan pencapaian hasil produksi. Intinya adalah, HSE Officer selalu tampil gagah dengan out fit yang melekat pada dirinya.

Secara sepintas memang seperti itu kelihatannya. Tapi belum tentu sama dengan apa yang dirasakan oleh si HSE Officer itu sendiri. Mungkin rekan-rekan HSE Officer ada yang berpendapat berbeda, tetapi secara pribadi saya merasakan hal itu. Bahwa HSE Officer hanya berusaha terlihat santuy, namun sebaliknya penuh dengan beban pikiran karena merasa bertanggung jawab terhadap banyak hal di perusahaan.

Saya ingin coba memaparkan situasi yang dialami oleh HSE Officer di perusahaan manufaktur atau industri-industri padat karya. Seperti kita ketahui, di negeri ini banyak terdapat indsutri perkayuan, garment, tekstil, perkapalan, pengerjaan logam, konstruksi bangunan dan lain sebagainya. Di mana perusahaan seperti ini pada umumnya HSE Officer hanya dijadikan sebagai pemain pelengkap.

Jika anda adalah HSE Officer dan tidak pernah mengalami hal itu, mungkin karena anda berada pada sektor yang memang mengutamakan K3 dalam kegiatan operasionalnya. Sektor migas umpanya, memang akan sangat memperhatikan faktor keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Karena adanya persyaratan market yang meminta untuk itu. Ikuti standard K3 yang ditetapkan oleh pasar, atau produk anda tidak akan dibeli oleh mereka. Mau tidak mau, suka tidak suka, perusahaan akan menjalankan itu.

Lain halnya dengan industri padat karya, K3 dijalankan hanya sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi pemerintah yang juga lemah dalam pengawasan. Jadilah kalimat UTAMAKAN KESELAMATAN hanya sebagai slogan yang kebanyakan tidak dijalankan dan HSE Officer terkadang harus menjadi tameng jika timbul insiden fatality.

Alasan kenapa tetap memilih jadi HSE Officer

Sampai di sini masih memandang bahwa HSE Officer itu adalah pekerjaan yang keren?.

“Saya sih Yes. Absolutely.”

Kenapa masih bertahan sebgai HSE Officer di industri yang memandang K3 tidak ada nilai jualnya?. Karena kita diberi kesempatan di sini, dan kita tahu, di industri  ini tempat bekerja orang banyak.  Dan mereka adalah para pejuang pencari nafkah untuk anak istrinya, tulang punggung keluarga.

Siapa yang akan peduli dengan keselamatan mereka, orang-orang yang jangankan meneteskan keringat, bahkan terkadang darah pun mereka relakan.

Itu alasan kenapa tetap memilih jadi HSE Officer.

Keselamatan Kerja adalah Kebutuhan

Briefing sebelum memulai aktivitas untuk memastikan kelengkapan alat keselamatan setiap anggota tim

Bekerja sebagai HSE Officer di perusahaan, saya pernah berkali-kali menghadapi bantahan terkait aturan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang kami rekomendasikan kepada karyawan. Salah satu yang paling populer adalah masalah penggunaan alat pelindung diri (APD).

Tidak satu dua kali, kami, orang-orang HSE dibantah dan didebat masalah penggunaan APD ini. Karena untuk beberapa kondisi, memang penggunaan APD membuat rasa tidak nyaman. Sesak, berat, gerah, panas dan lain sebagainya yang menjadi alasan mengapa karyawan enggan memakai APD.

Tetapi, melihat kondisi yang umum sekarang ini, bisa kita temui, di mana-mana orang menggunakan APD, khususnya masker. Ini untuk masyarakat umum. Terlebih lagi untuk tenaga medis yang khusus menangani covid-19. Seorang dokter atau perawat yang biasanya bekerja dengan pakaian rapi, bersih dan terlihat elegan, kini harus terbungkus full dengan pakaian yang pasti sesak, panas, ribet dan rasa tidak nayaman lainnya.

Pertanyaannya, mengapa masyarakat rela membeli masker, meskipun mungkin dengan harga mahal untuk mereka pakai?. Mengapa dokter dan perawat yang terbiasa menggunakan pakaian rapi dan santai harus memakai pakaian pelindung full saat menghadapi pasien covid-19?.

Jawabannya adalah KARENA MERASA PERLU.

Ini pula lah yang sebenarnya harus kita tumbuhkan kepada karyawan di perusahaan. Perasaan perlu, butuh terhadap penggunaan APD dan segala bentuk program K3 yang kita ajukan. Caranya adalah dengan memaparkan secara logis alasan mengapa hal itu perlu dilakukan. Jika sudah masuk akal bagi mereka, maka mereka yang akan meminta tanpa harus berdebat terlebih dahulu.

HSE Officer Wajib Bisa Public Speaking

Bekerja sebagai HSE Officer, satu hal yang wajib dilakukan adalah tampil berbicara di depan orang banyak.

Seringkali orang kesulitan untuk melakukan hal yang satu ini. Perasaan grogi, tidak percaya diri, keringat dingin, kedua kaki rasanya tidak kuat menahan berat badan, tangan gemetaran, suara bergetar menahan gugup. Kira-kira seperti itu kondisi bagi seseorang yang tidak terbiasa berbicara di depan orang banyak.

Akan tetapi hal itu harus bisa dilakukan oleh seorang HSE Officer. Wajib! Kalau belum bisa?, latihan, paksa agar bisa!

Karena tugas HSE Officer ini adalah menyampaikan pesan-pesan keselamatan kepada setiap orang. Pada saat meeting, safety talk, HSE Induction, HSE Training, dll.

Dari yang pernah saya alami dan rasakan, ada beberapa hal yang saya lakukan untuk meredakan nervous ketika berbicara di depan orang banyak. 

1. Pahami dengan baik apa yang ingin disampaikan

Ibarat akan menghadapi musuh, jika berbekal banyak peluru, maka kita akan merasa lebih pede alias percaya diri. Bagi seorang pembicara di depan banyak orang, pengetahuan dan informasi yang memadai adalah amunisi penting.  

Pemahaman yang cukup luas terhadap topik pembicaraan akan membangun rasa percaya diri. Demikian pula halnya seorang HSE Officer, dia harus benar-benar memahami betul apa yang akan dia presentasikan kepada orang banyak.

2. Kenali siapa audiens

Kenali musuhmu, begitu pesan ahli strategi perang Cina kuno, Sun Tzu. Dengan mengetahui siapa mereka, kita akan mampu mencari celah mereka dan menutupi celah mungkin kita miliki. 

Dengan mengenali audiens, kita mampu mengukur seberapa paham mereka dengan apa yang akan kita bicarakan. Itu yang menjadi alasan mengapa kita perlu mengenali mereka. 

3. Lakukan interaksi, pancing respon audiens dengan humor

Bisa dibayangkan ketika sedang berbicara di depan orang banyak, dan orang-orang itu terlihat tidak antusias mendengarkan apa yang kita ucapkan. Ini akan membuat kita seketika merasa down, rasa percaya diri perlahan mulai goyah. 

Mati gaya, dan akhirnya konsep yang ada di kepala menjadi buyar. 

Dalam kondisi seperti ini, untuk memecah kebuntuan saya biasa memancing respon audiens dengan melemparkan pertanyaan secara langsung kepada salah seorang dari mereka. Bertanya dan meminta pendapat akan menarik minat mereka dengan apa yang kita sampaikan.

Lebih baik lagi jika kita bisa mencairkan suasana dengan selingan humor di sela-sela presentasi yang kita sampaikan. Dengan sedikit humor, orang-orang biasanya akan lebih bersemangat dan terhindar dari rasa bosan. 

4. Temukan alasan, mengapa kita perlu berbicara di depan audiens

Yang tak kalah pentingnya adalah alasan mengapa kita perlu melakukan hal tersebut. Seorang HSE Officer harus bicara, melakukan promosi, mengkampanyekan perilaku keselamatan dan kesehatan dalam bekerja. 

Ini alasan mengapa kita perlu tampil berbicara di depan banyak orang. Kita harus melakukan itu. Jika tidak dilakukan, maka akan ada sekian banyak orang yang terancam berperilaku tidak aman dan menimbulkan kecelakaan yang merugikan. 

Dengan mengetahui alasan ini, maka seorang HSE Officer akan tampil memberikan kampanye K3 di hadapan ratusan bahkan ribuan orang. Demi menyampaikan pesan keselamatan. Bukankah ini layak disebut sebuah perjuangan? 

5. Berlatih, ingat pepatah: “ala bisa karena biasa”

Tentunya, untuk mahir terhadap sesuatu harus ditempuh dengan berlatih. Sering-sering berlatih, bisa dilakukan sendiri di rumah atau di depan rekan-rekan satu tim. Minta mereka untuk menilai secara objektif terhadap apa yang mungkin perlu diperbaiki.

Semakin sering mencoba berbicara di depan orang banyak, maka akan lebih mudah menekan perasaan gugup atau nervous.

Barangkali rekan-rekan punya kiat-kiat tersendiri dalam megelola rasa gugup saat tampil di depan orang banyak?, boleh dong dibagikan pengalamannya….