Monthly Archives: June 2020

Keselamatan Kerja Operasional Pengangkatan

Operasional pengangkatan (lifting operation) merupakan salah satu kegiatan yang memiliki resiko tinggi

PAA sebagai Alat Operasional Pengangkatan

Di berbagai industri, penggunaan pesawat angkat dan pesawat angkut (PAA) banyak digunakan untuk membantu pekerjaan manusia. Material dan peralatan kerja yang berat bahkan manusia diangkut atau dipindahkan dengan menggunakan bantuan PAA. 

Definisi PAA itu sendiri pada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 8 Tahun 2020 tentang Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut, dapat diartikan sebagai:

  • Pesawat Angkat adalah pesawat atau peralatan yang dibuat, dan di pasang untuk mengangkat, menurnankan, mengatur posisi dan/atau menahan benda kerja dan/atau muatan.
  • Pesawat Angkut adalah pesawat atau peralatan yang dibuat dan dikonstruksi untuk memindahkan benda atau muatan, atau orang secara horisontal, vertikal, diagonal, dengan menggunakan kemudi baik di dalamatau di luar pesawatnya, ataupun tidak menggunakan kemudi dan bergerak di atas landasan, permukaan maupun rel atau secara terus menerus dengan menggunakan bantuan ban, atau rantai atau rol.

Unit-unit di perusahaan yang termasuk PAA terdiri atas forklift, manlift, crawler crane, tower crane, conveyor, overhead crane, trailer dan lain sebagainya.

Dalam pembahasan ini, saya ingin menguraikan tentang proses lifting operation menggunakan PAA berupa crawler crane. Berhubung karena saya lebih banyak pengalaman di industri galangan kapal, maka saya akan lebih banyak mengambil gambaran proses lifting di galangan kapal. 

Peralatan yang biasa digunakan dalam proses lifting operation dengan crawler crane terdiri atas:

  • sling (wire atau belt),
  • shackle,
  • tali pandu (tag line) dan
  • kupingan angkat (pad eye). 

Identifikasi Potensi Bahaya Operasional Pengangkatan

Semakin detail potensi bahaya yang ditemukan dalam suatu pekerjaan, maka semakin besar peluang untuk mengendalikan resiko. Oleh karena itu, perlu untuk mengenali potensi-potensi bahaya dari pekerjaan yang hendak dilakukan. Beberapa potensi bahaya yang menjadi catatan dalam melakukan kegiatan lifting operation menggunakan crawler crane di antaranya:

  • Tertabrak, terlindas atau tersenggol pada saat proses crane bergerak menuju lokasi pengangkatan,
  • Bahaya kelistrikan, terutama pada kabel listrik yang tergantung (hanging cable)
  • Tertimpa, terbentur atau terjepit material yang diangkat,
  • Material terjatuh
  • Crane overload dan roboh

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi lifting operation antara lain:

  • Kesiapan personel; terlatih, memahami langkah kerja dan memiliki sertifikat
  • Peralatan; pesawat angkat, alat ikat, shackle dan semua alat yang terlibat harus sesuai
  • Cuaca; hujan, kecepatan angin, petir, atau suasana berkabut
  • Lokasi; tempat pijakan crane, kemiringan permukaan atau kegiatan lifting di air
  • Waktu; sedapat mungkin tidak melakukan lifting di malam hari karena akan mempengaruhi pencahayaan

Persiapan Sebelum Operasional Pengangkatan

1. Personal

Personel atau anggota tim yang hendak melakukan kegiatan pengangkatan, umumnya terdiri atas operator, rigger (juru ikat), petugas pembantu (helper) dan signalman. Personel dalam tim lifting harus memahami dengan benar potensi-potensi bahaya, memahami cara kerja peralatan dan terlatih untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Operator pesawat angkat dan pesawat angkut harus terampil dan mampu mengontrol pergerakan alat secara baik dan benar, memahami kemampuan (load chart) dari unit yang dioperasikannya. Sebagai bukti pemenuhan kualifikasi, seorang operator harus dilengkapi dengan surat izin operasional (SIO) sesuai dengan jenis pesawat angkat dan pesawat angkut yang dioperasikan, yang diterbikan diterbikan oleh Menteri Ketenagakerjaan kerja RI.

Petugas rigger atau juru ikat, secara teknis harus mampu dan terampil dalam memperhitungkan beban dan menentukan kapasitas (WLL/SWL) alat angkat (shackle, sling) yang akan digunakan. Rigger juga harus menentukan titik ikat dengan terlebih dahulu menganalisa titik beban (centre of weight). Pada proses lifting, rigger juga bertindak sebagai pemandu operator untuk mengarahkan pergerakan alat angkat. Seperti halnya operator, seorang rigger juga harus dilengkapi dengan surat izin operasional (SIO) yang diterbikan oleh Menteri Ketenagakerjaan kerja RI.

2. Peralatan

Peralatan yang akan digunakan dalam lifting operation harus dipastikan kondisinya layak dan aman digunakan. Pastikan beberapa hal berikut sebelum menggunakan alat:

  • Kondisi unit crane terawat, dibuktikan dengan laporan pengecekan dan perawatan harian (P2H), dan memiliki surat layak operasional dari dinas tenaga kerja,
  • Kondisi sling (wire & belt) dalam kondisi layak dan aman digunakan
  • Shackle dalam kondisi layak dan aman untuk digunakan
  • Tersedia tali pandu atau tagline
  • Kupingan (pad eye) atau titik ikat pada material yang hendak diangkat dalam kondisi layak

3. Lingkungan

Lingkungan dan faktor cuaca dapat mempengaruhi kegiatan lifting. Perhatikan kondisi lingkungan sekitar, apakah terdapat cukup pencahayaan, bagaimana dengan kecepatan angin, bagaimana dengan landasan tempat berpijak crane? Semua perlu diperhatikan.

Untuk area yang akan menjadi lokasi lifting harus dalam kondisi bersih dari gangguan, baik yang berada di bawah maupun bagian atas. Salah satu yang perlu diperhatikan biasanya adalah kabel power listrik. Pembatasan area dengan menggunakan rambu atau pun barricade tape perlu dilakukan untuk mencegah masuknya orang-orang yang tidak berkempentingan ke area radius lifting.

Untuk memastikan hal tersebut di atas dilakukan, maka sebelum kegiatan lifting operation dimulai, ada baiknya petugas HSE melakukan pengecekan secara menyeluruh. Agar memudahkan, dapat menggunakan Lifting Operation Checklist sebagai pedoman terhadap item-item yang perlu dipenuhi.

Proses Operasional Pengangkatan

Petugas rigger memasang peralatan lifting pada material yang akan diangkat. Shackle dipasang pada titik-titk yang ditetapkan sebagai pusat beban (center of weight). Hal ini dimaksudkan agar keseimbangan beban tetap terjaga proses pengangkatan. Beban yang tidak seimbang berpotensi menyebabkan crane mengalami over load dan rubuh.

Untuk memandu material yang diangkat, petugas rigger perlu menggunakan tali pandu (tagline). Fungsi tali pandu adalah agar anggota tim lifting tidak menyentuh langsung material yang diangakat. Dengan demikian memberikan peluang kepada tim jika sewaktu-waktu beban bergerak di luar kontrol.

Selama proses liftitng, orang-orang dilarang melintas atau berada di bawah beban yang sedang diangkat. Setiap personel harus selalu memperhatikan posisi dan pergerakan material. Pastikan setiap personel selalu dalam posisi yang bebas dan memiliki akses jika sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat.

Petugas rigger memandu operator dalam melakukan pemindahan material menuju titik yang dikehendaki. Komunikasi yang biasa digunakan dapat berupa kode tangan (hand signal)  atau  radio HT . Komunikasi dengan hand signal harus disepakati antara operator dan rigger dan dilatihkan guna menghindari kesalahan instruksi. 

Usai Proses Operasional Pengangkatan

Setelah digunakan, sangat penting untuk melakukan pengecekan terhadap kondisi seluruh peralatan yang telah digunakan. Periksa kondisi crane, shackle, maupun sling yang telah digunakan. Pastikan tidak ada tanda-tanda kerusakan pada alat. Jika menemukan kerusakan pada alat lifting, maka lakukan perawatan atau penggantian sesuai dengan ketentuan penggunaan alat tersebut.

Referensi:

  • Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 8 Tahun 2020 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut

Keselamatan Kerja Blasting dan Painting

Sandblasting

Di galangan kapal, dikenal pekerjaan abrassive blasting. Aktivitas ini merupakan pembersihan permukaan material dengan metode penyemprotan udara bertekanan tinggi (high pressure). Media yang disemprotkan dapat berupa pasir silika, air, steel grit, steel shot, garnet, coper slag dan lain-lain.

Pada umumnya, aktivitas di galangan kapal akan menggunakan pasir silika sebagai media abrasive blasting. Sayangnya, metode blasting menggunakan pasir silica atau sandblasting ini sangat tidak ramah terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.  Debu yang dihasilkan dari blasting menjadi ancaman serius bagi kesehatan pernapasan manusia dan ekosistem yang terdampak.  

Identifikasi Bahaya Sandblasting:

Beberapa potensi bahaya sandblasting:

  1. Debu silika dapat menyebabkan penyakit silicosis
  2. Kebisingan dapat menyebabkan NIHL (Noise Indirect Hearing Loss). Mengenai nilai ambang batas kebisingan dapat melihat tabel NAB berdasarkan Kepmenaker No. 51 tahun 1999.
  3. Kompressor yang digunakan adalah merupakan bejana bertekanan. Untuk keselamatan penggunaannya, silahkan melihat referensi tentang keselamatan pengoperasian kompressor.
  4. Hose-hose sandblasting hingga gun yang digunakan, semuanya membawa tekanan yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan bahaya mekanikal. Beberapa kasus hose sandblasting pecah dan pasir bertekanan mengenai personel yang bekerja, coupling hose terlepas dan mengenai karyawan yang ada di sekitar.
  5. Sandpot yang digunakan sebagai mixer antara udara dan pasir perlu diperhatikan kondisinya, terutama kemampuannya dalam menampung tekanan udara yang disuplai dari compressor. Jika memungkinkan, pengurus sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan secara berkala terhadap sandpot blasting ini.
  6. Pergesekan antara permukaan benda dan media pasir blasting dapat menimbulkan percikan api, perhatikan adanya potensi bahaya kebakaran atau ledakan jika kegiatan sandblasting dilakukan

Pengendalian Bahaya Sandblasting:

Jika memungkinkan untuk mengganti metode sandblasting dengan yang lain, hal ini sangat disarankan. Namun apabila tetap harus menggunakan metode ini, maka berikut saran-saran yang dapat dilakukan (meskipun tidak ada jaminan menurunkan resiko secara penuh):

  1. Lakukan pemeriksaan terhadap peralatan sebelum digunakan,
  2. Gunakan peralatan yang sesuai dengan spesifikasinya (compressor, hose blasting, gun, dan sand pot),
  3. Atur waktu pekerjaan sandblasting agar tidak bersamaan dengan aktivitas lain,
  4. Tetapkan batas area yang terdampak debu, kebisingan atau pun percikan pasir blasting,
  5. Hindari pekerjaan sandblasting di dekat penampungan bahan yang mudah terbakar (flammable material),
  6. Gunakan safety wire pada setiap sambungan (coupling) hose-hose untuk mencegah bahaya mekanikal saat coupling terlepas,
  7. Batasi area pekerjaan, akses hanya diizinkan untuk tim yang terlibat pekerjaan sandblasting,
  8. Setiap pekerja yang terlibat harus terlatih dan paham dengan sistem kerja blasting,
  9. Karyawan yang terlibat harus menggunakan alat pelindung diri yang dipersyaratkan.

Alat pelindung diri yang diperlukan dalam kegiatan sandblasting, antara lain:

  • Helm blasting atau air fed blast helmet
  • Masker debu (dust masker)
  • Pelindung telinga (Ear muffs/ear plugs)
  • Wearpack/Blast apron
  • Sarung tangan kulit/leather gloves
  • Safety shoes

Painting

Kegiatan painting atau pengecatan adalah proses lanjutan setelah permukaan pelat kapal diblasting. Fungsi dari painting ini adalah untuk melindungi seluruh permukaan logam kapal agar tidak mudah terjadi karat, mengurangi gesekan antara permukaan air dan body kapal dan tentunya mempercantik penampilan kapal.

Meskipun memiliki manfaat yang besar terhadap bangunan sebuah kapal, namun proses painting ini perlu dipersiapkan pelaksanaannya, mengingat potensi bahaya yang menyertainya.

Identifikasi potensi bahaya painting:

  1. Bahan dasar cat yang dapat berbahaya bagi kesehatan manusia maupun biota yang ada di lingkungan sekitar,
  2. Masih terkait bahan cat, selain bersifat toksik atau beracun, juga mudah terbakar, bahkan uap pada konsentrasi yang tinggi dapat meledak jika terkena percikan api.
  3. Pada proses painting di dalam ruangan, resiko semakin meningkat disebabkan ventilasi yang kurang sehingga konsentrasi uap cat semakin tinggi.
  4. Bahaya pada penggunaan high pressure airless sprayer, yakni alat yang digunakan untuk menyemprotkan cat ke permukaan pelat atau benda yang dicat. Tekanan tinggi dari airless sprayer ini dapat menyebabkan luka terbuka pada bagian tubuh yang terkena. Meskipun luka yang ditimbulkan tampak seperti luka biasa, namun dampak dari masuknya material cat ke dalam tubuh dapat berakibat serius. Penanganan medis berupa operasi bahkan amputasi pada organ yang terkontaminasi bahan cat terkadang harus dilakukan.

Pengendalian Bahaya Painting

  1. Kenali sifat material dasar penyusun cat (lihat safety data sheet) pada produk yang digunakan,
  2. Pastikan kemasan (kaleng) cat dalam kondisi kedap dan tidak bocor,
  3. Untuk mencegah bahaya kebakaran, simpan cat pada tempat yang sudah ditentukan dengan ventilasi yang baik dan terpasang rambu-rambu peringatan bahaya.
  4. Lakukan pengaturan jadwal atau waktu kerja agar kegiatan painting tidak bersamaan dengan pekerjaan lain, terutama pekerjaan panas (hot work),
  5. Gunakan pelindung pernapasan “Respirator/Air fed mask” yang memenuhi persyaratan keselamatan. Biasanya menggunakan respirator dengan aproval ANSI Z88.2-1992 dan lain sebagainya.
  6. Saat melakukan painting dengan menggunakan semprotan (high pressure airless sprayer) karyawan harus mengenakan alat pelindung diri yang menutup seluruh permukaan tubuh dari paparan cat.

Pekerjaan painting di ruang terbatas:

  • Pekerjaan painting di ruang terbatas memerlukan persiapan yang lebih baik, karena pekerjaan painting dalam kondisi seperti ini tingkat resiko lebih tinggi dibandingkan pada proses terbuka.
  • Gunakan blower untuk membantu sirkulasi udara dan mengeluarkan uap cat dari ruangan,
  • Gunakan penerangan yang berupa lampu “Flame Proof”,
  • Atur lamanya waktu kerja bagi karyawan untuk mengurangi lamanya terpapar bahan cat.

Usai melakukan painting:

  • Kumpulkan dan tempatkan sisa dan kemasan bekas yang masih terkontaminasi pada tempat yang telah ditentukan.
  • Bersihkan semua sisa-sisa cat, terutama yang melekat pada tubuh dan pakaian.
  • Bersihkan diri sebelum pulang dan berkumpul dengan keluarga,
  • Cuci pakaian kerja secara terpisah dari pakaian sehari-hari untuk mencegah kontaminasi

Demikian gambaran bahaya dan saran-saran pengendalian potensi bahaya dari aktivitas sandblasting dan painting di galangan kapal. Semoga bermanfaat, jika ada kritik dan saran, silahkan sampaikan di kolom komentar.

Disclaimer:

Tulisan ini berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi dan dipaparkan secara subjektif. Untuk dijadikan sebagai acuan tentunya harus dilakukan penelitian dan kajian secara ilmiah..

Bahaya Tenggelam dan Keselamatan Kerja di Tepi Air

Baru-baru ini ada berita di media online yang mengabarkan tentang seorang karyawan yang bekerja di galangan kapal meninggal akibat tenggelam. Dari informasi tersebut diketahui bahwa karyawan terjatuh, kepalanya terbentur dan kemudian terbawa arus. Korban sempat dinyatakan hilang dan baru ditemukan keesokan harinya.

Belajar dari kejadian kecelakaan tersebut, bagi yang akan bekerja di tepi/atas permukaan air harus selalu mewaspadai bahaya tenggelam.

Banyak orang yang berdalih bisa berenang sehingga tidak perlu khawatir akan keselamatannya jika sewaktu-waktu terjatuh ke air. Faktanya, dalam banyak kejadian orang yang tenggelam diketahui memiliki kemampuan berenang.

Seperti pada kasus yang diberitakan di atas, korban pingsan akibat benturan di kepalanya saat terjatuh dan kemudian terbawa arus. Tentu dengan kondisi seperti ini, kita tidak bisa lagi berharap pada kemampuan berenang.

Banyak hal yang menjadi penyebab kecelakaan saat bekerja di tepi/permukaan air. Dari berbagai kasus kejadian korban tenggelam disebabkan oleh:

  1. Korban tidak bisa berenang. Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk berenang. Meskipun di sekolah dulu ada kurikulum mata pelajaran olahraga renang, tapi kenyataannya banyak orang yang belum bisa berenang.
  2. Korban kram atau kelelahan saat berenang. Kalau pun mampu berenang, seseorang bisa saja kelelahan atau mengalami kram sehingga tidak terselamatkan.
  3. Arus kencang, sekuat apapun seseorang dalam kondisi arus perairan yang deras akan sulit berhasil menyelamatkan diri.
  4. Korban pingsan/tidak sadarkan diri. Saat terjatuh, korban terbentur pada objek dan pingsan atau tidak sadarkan diri.
  5. Panik, ini adalah faktor utama yang menggagalkan upaya penyelamatan, baik kepada diri sendiri atau pun orang lain. Kepanikan satu orang dapat mencelakakan yang lainnya.

Apakah kita masih bisa merasa cukup aman dari bahaya yang mengancam saat bekerja di tepi/ atas permukaan air?

Dari berbagai kejadian yang sudah ada semestinya cukup menjadi pembelajaran buat kita. Tidak ada lagi alasan bagi siapa saja yang akan bekerja di tepi/atas permukaan air untuk mengabaikan syarat keselamatan.

Saran-saran keselamatan selama bekerja di tepi/atas permukaan permukaan air:

  1. Sedapat mungkin, hindari bekerja di dekat tepi/atas permukaan air, pindahkan posisi pekerjaan jika memungkinkan.
  2. Pasang pagar penghalang untuk mencegah orang terjatuh ke air. Hal ini dapat merujuk kepada aturan Kepmenaker RI Nomor 9 Tahun 2016 tentang K3 bekerja di ketinggian.
  3. Persiapkan personel atau karyawan yang hendak bekerja di tepi/atas permukaan air agar siap secara fisik dan mental, salah satu yang dilakukan adalah memastikan mereka mampu berenang. Beberapa paket pelatihan sea survival atau teknik bertahan di air sudah ditawarkan oleh perusahaan jasa pelatihan,
  4. Pastikan pencahayaan tercukupi, terutama saat kegiatan aktivitas di malam hari,
  5. Perhatikan adanya pengaruh pasang surut permukaan air atau pergerakan gelombang. Hindari bekerja di tepi permukaan air pada saat cuaca buruk atau angin kencang.
  6. Persiapkan alat penolong orang jatuh atau lifebuoy pada tempat-tempat yang mudah dijangkau untuk digunakan sewaktu-waktu ada orang jatuh ke air.
  7. Apabila diperlukan, lengkapi setiap personel atau karyawan yang bekerja di dekat permukaan air dengan life jacket atau pelampung. Mengenai peraturan penggunaan alat pelindung diri, kita dapat merujuk ke situs U.S Coast Guard.
  8. Lakukan pelatihan dan simulasi pertolongan terhadap orang yang jatuh ke air.

Dengan memahami potensi bahaya bekerja di tepi/permukaan air, akan menumbuhkan kesadaran kita untuk melakukan pengendalian terhadap resiko yang mungkin ada. Under estimate adalah penyebab timbulnya penyesalan di kemudian hari. Semoga menjadi tambahan informasi dan memberikan manfaat.

Disclaimer:
Tulisan ini berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi dan dipaparkan secara subjektif. Untuk dijadikan sebagai acuan tentunya harus dilakukan penelitian dan kajian secara ilmiah.