Category Archives: Fire Prevention

Dasar Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja

Photo by Daniel Tausis on Unsplash

Perusahaan yang baik tentunya sudah merencanakan penanggulangan bahaya kebakaran yang sewaktu-waktu dapat mengancam. Baik ancaman terhadap aset yang berupa properti atau kepada manusia.

Regulasi pemerintah terkait kewajiban penanggulangan bahaya kebakaran di tempat kerja tertera pada Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor 186 Tahun 1999 tentang Unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja.

Dalam penerapannya, pengurus perusahaan harus menunjuk seseorang atau bagian tertentu yang khusus menangani hal-hal yang berkaitan dengan penanggulangan kebakaran.

Untuk melakukan persiapan penanggulangan kebakaran harus berdasarkan hasil identifikasi potensi-potensi bahaya. Petugas yang ditunjuk (seorang ahli K3 Kebakaran) melakukan pendataan secara detail terkait jenis aktivitas, peralatan dan material yang mungkin bisa menjadi sumber bahaya kebakaran.

Identifikasi Sumber Bahaya Kebakaran

Proses identifikasi untuk menemukan potensi bahaya kebakaran dapat menggunakan tool berupa form yang berfungsi untuk mencatat temuan-temuan. Model form identifikasi potensi bahaya dapat mengikuti form HIRA (hazard identification and risk assessment) pada umumnya.

Hal-hal yang perlu menjadi perhatian dalam proses identifikasi potensi bahaya kebakaran;

  • Proses aktivitas yang berkaitan dengan penyalaan api dan penggunaan bahan mudah terbakar, misalnya pengelasan, penggunaan oxyfuel cutting, gerinda atau kerja panas (hot work) lainnya;
  • Penggunaan atau penyimpanan bahan mudah, misalnya penampungan bahan thinner, bahan bakar minyak, penampungan flammable gas, dan lain sebagainya.
  • Aktivitas yang harus dilakukan di dekat penampungan bahan mudah terbakar.

Dalam proses identifikasi diperlukan pola kritis sehingga ditemukan hasil yang maksimal. Semakin detail potensi bahaya yang ditemukan, maka semakin efektif penanggulangan kebakaran. (Terkait identifikasi bahaya dan penilaian resiko (HIRA) akan kita bahas secara khusus).

Tetapkan Langkah Penanggulangan Kebakaran

Setelah sumber-sumber bahaya kebakaran tercatat dan telah dilakukan analisis resiko, maka selanjutnya adalah menentukan langkah untuk mengendalikan potensi-potensi tersebut.

Hal yang perlu dipersiapkan adalah; personel, material dan alat serta metode.

  • Personel, adalah orang-orang yang telah dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi keadaan darurat kebakaran. Personel-personel ini perlu diatur agar terstruktur sehingga jelas tugas dan fungsinya masing-masing.
  • Material dan peralatan, yakni fasilitas yang diperlukan untuk menghadapi darurat kebakaran. Material untuk pemadaman bisa berupa air, bubuk kimia kering (dry powder), foam (busa). Peralatan berupa selimut api (fire blanket), pompa pemadam, akses penyelamatan diri dan lain sebagainya.
  • Metode pemadaman diperlukan untuk menjadi pedoman dalam melakukan penanggulangan pra kejadian, saat kejadian dan pasca kejadian. Metode ini biasanya dalam bentuk prosedur tanggap darurat atau emergency response plan (ERP).

Demikian ulasan tentang dasar penanggulangan kebakaran. Ini adalah murni dari hasil pengamatan saya pribadi, jika ada yang tidak sesuai silahkan diluruskan melalui kolom komentar di bawah ini, tentunya yang sejalan dengan peraturan dan standar yang baku. Semoga bermanfaat.

Mengenal Anatomi Api

Unsur Penyusun Api

unsur api, oksigen, panas dan bahan bakar
Nyala api terdiri atas bahan bakar, panas dan oksigen

Seperti kita ketahui bersama, api adalah bagian dari kehidupan. Tanpa nyala api, kehidupan manusia akan terasa hambar. Sepanjang kehidupan manusia, akan selalu ada kebutuhan terhadap nyala api. Maka selama itu pula ada resiko terjadi kebakaran.

Ada kalimat yang mengatakan seperti ini,

“Api kecil adalah sahabat, api besar menjadi musuh”. Api besar dimaksud di sini adalah nyala api yang tidak terkendali, atau kebakaran.

Nah, bagaimana caranya agar api yang menyala tersebut tetap bisa terkontrol dan tidak lepas kendali? Ingat pesan Sun Tzu, si ahli strategi perang China yang mahsyur.

“Untuk memenangkan peperangan, kita harus mengenali siapa musuh yang dihadapi”. Kurang lebih seperti itu kalimatnya. Jadi, untuk menang melawan api, kita harus mengenalinya.

Ada tiga unsur yang mendukung terjadinya api, bahan bakar (fuel), energi panas (heat) dan oksigen (oxygen). Tanpa ketiga unsur ini, api tidak dapat menyala. (ini bukan kata saya, ilmu ini ada dalam mata pelajaran kimia).   

Api akan menyala apabila bertemu antara bahan bakar (kayu, kain, karet, gas, minyak, dll) yang terpapar panas (pemantik, arus singkat listrik, petir, panas bumi, gesekan dll) dan terdapat oksigen dengan jumlah komposisi yang seimbang. Jadi, meskipun terdapat ketiga unsur tersebut, namun komposisinya tidak seimbang, maka api juga tidak akan menyala. 

Jumlah bahan bakar, nilai kalor atau derajat panas dan jumlah oksigen harus sesuai untuk membuat api menyala.

Contoh sederhananya begini:

Jika ada sejumlah solar atau biodiesel dengan suhu normal, lalu kita coba bakar dengan pemantik korek kayu, maka dijamin tidak akan menyala. Dalam hal ini, jumlah bahan bakar (solar atau biodiesel) cukup, oksigen juga cukup, akan tetapi panasnya kurang. Sehingga api tidak menyala. 

Bagaimana jika apinya ditambah?. Solar akan menguap, dan bila oksigen cukup tersuplai, maka api akan menyala.  

Metode Memadamkan Api

Metode pemadaman api, smothering, cooling, starvation dan breaking chain reaction
Smothering atau menutup suplai oksigen untuk memadamkan nyala api

Rumus sederhana memadamkan api adalah menghilangkan salah satu unsur penyusunnya. Hilangkan sumber panas, dapat dilakukan dengan menurunkan derajat panasnya. Biasanaya dilakukan dengan menyiram api menggunakan air. Metode ini disebut dengan pendinginan atau cooling.

Cara kedua adalah dengan menghilangkan bahan bakar. Menutup sumber bahan bakar, atau memindahkannya dari jangkauan paparan panas, sehingga tidak terjadi proses kimia atau sublimasi. Dengan hilangnya bahan bakar, maka api akan padam dengan sendirinya karena kehabisan bahan. Metode menghilangkan bahan bakar dalam pemadaman api disebut starvation.

Mencekik api, atau menghilangkan oksigen agar tidak menyuplai nyala api. Yakni dengan cara menghalau masuknya oksigen yang dibutuhkan dalam proses penyalaan. Dalam praktek latihan pemadaman api, kita biasa menggunakan karung goni yang dibasahi atau fire blanket untuk melakukan metode ini. Memadamkan api dengan cara mencegah suplai oksigen disebut smothtering.

Metode pemadaman yang lain adalah dengan merusak kestabilan tiga unsur penyusun api. Seperti diketahui bahwa, api menyala ketika jumlah komposisi tiga unsur memenuhi kebutuhan dan terjadi proses reaksi kimia, maka untuk mematikan api juga dapat dilakukan dengan cara merusak rantai reaksi kimianya. Proses ini dikenal dengan breaking chain reaction.

Alat Memadamkan Api

Alat pemadam atau fire extinguisher jenis ABC powder diaplikasikan pada kebakaran klas A, B dan C
Alat pemadam paling populer adalah fire extinguisher jenis ABC powder karena mudah digunakan dan dapat diaplikasikan pada kebakaran klas A, B dan C

Macam-macam alat pemadam api, baik yang cara konvensional maupun yang khusus. Alat pemadam konvensional bisa berupa air, karung goni, atau kain tebal yang direndam air, pasir, tanah bahkan ranting kayu beserta daun-daunnya dapat digunakan untuk memadamkan api. 

Alat pemadam api khusus misalanya foam (busa) bubuk kimia kering (dry chemical powder), karbondioksida (CO2) yang biasanya dikemas dalam bentuk tabung atau fire extinguisher. Dan seiring perkembangan teknologi, alat pemadam juga semakin baik. Ada yang berbentuk granat pemadam, robot pendeteksi api dan sebagainya. 

Sumber:

Peraturan Menteri Tenaga Kerjar RI Nomor 4 Tahun 1980 tentang APAR