Category Archives: HSE Officer

Merancang Program K3 Galangan Kapal

Program K3 harus disusun sesuai dengan kondisi perusahaan

Galangan kapal adalah lingkungan yang padat aktivitas. Bekerja di ketinggian, pekerjaan panas, penggunaan alat berat, pesawat angkat dan angkut, penggunaan gas-gas dalam tabung bertekanan, bekerja di ruang terbatas dan banyak lagi yang lainnya.

Agar dapat bekerja dengan aman, pengurus atau manajemen perusahaan harus melakukan upaya penerapan keselamatan secara tepat. Agar target keselamatan dapat tercapai, maka perlu disusun program keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Bagaimana cara menyusun program K3 di galangan kapal?, berikut pengalaman dan hal-hal yang menjadi catatan saya.

Langkah pertama, yang perlu dilakukan adalah membuat daftar keperluan di perusahaan untuk pemenuhan syarat K3. Sebagai pedoman, kita bisa melihat kriteria yang ada dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 50 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen K3. Berikut adalah beberapa kriteria yang perlu diperhatikan sebelum menyusun program K3:

  • Komitmen dan kebijakan K3
  • Partisipasi dan tanggung jawab setiap level jabatan terhadap K3
  • Forum atau wadah untuk berduskusi tentang isu-su K3
  • Identifikasi bahaya dan analisa resiko
  • Terdapat upaya pengendalian bahaya
  • Tata cara inspeksi dan perawatan alat kerja
  • Tersedia prosedur tanggap darurat yang dipahami oleh setiap orang yang berada di lingkungan tempat kerja
  • Investigasi insiden dilakukan dan terdapat pelaporannya,
  • Dilakukan pelatihan tentang K3 kepada semua level jabatan

1. Komitmen dan Kebijakan K3

Syarat komitmen K3 adalah pernyataan dalam bentuk tertulis yang menyatakan secara jelas tentang komitmem perusahaan untuk menerapkan cara kerja yang aman demi keselamatan orang maupun terhadap lingkungan.

Dalam pernyataan kebijakan K3 menjelaskan tentang sasaran yang hendak dicapai terkait keselamatan kerja dan lingkungan. Pernyataan kebijakan ini ditandatangani oleh pimpinan tertinggi perusahaan dan disebarluaskan kepada semua bagian-bagian. Agar selalu relevan, komitmen dan kebijakan harus selalu ditinjau secara berkala.

2. Materi Program K3

Program K3 perlu menjelaskan tentang detail tanggung jawab setiap level pekerja, mulai dari manajer, supervisor, pekerja, kontraktor dan pengunjung atau tamu. Di sini dijelaskan tentang bagaimana cara melaporkan kondisi yang tidak aman (unsafe condition) dan perilaku yang tidak aman (unsafe act), termasuk juga bagaiman merespon terhadap sebuah kejadian atau insiden di tempat kerja.

Sebagai pedoman baku di dalam perusahaan, umumnya digunakan prosedur-prosedur (SOP) maupun instruksi kerja (IK) yang disusun dan disahkan untuk dijalankan. Dokumen ini sebagai petunjuk dalam melakukan pekerjaan dengan aman, bagaimana menanggapi setiap insiden atau kondisi emergensi di perusahaan dan langkah-langkah dalam melakukan pemeriksaan dan perawatan fasilitas dan peralatan kerja.

3. Anggaran K3

Setiap perencanaan kegiatan, hal yang tidak bisa ditingglkan adalah biaya. Adalah hal yang mustahil untuk menjalankan program K3 tanpa adanya anggaran yang dipersiapkan untuk itu.

Menyusun program K3 harus memperhatikan anggaran. Persiapkanlah anggaran yang realistis. Sesuaikan kebutuhan program dan tentukan berapa biaya yang diperlukan. Sebab sesederhana apa pun kegiatan yang dilakukan, akan memerlukan dana, misalnya untuk kegiatan pelatihan K3 internal, setidaknya membutuhkan snack dan sebagainya. Jangan lupakan anggaran dalam Menyusun program K3. Karena tanpa anggaran, yakinlah program K3 hanya akan hebat di atas kertas.

4. Safety Commitee atau P2K3

Safety committee atau di dalam peraturan Republik Indonesia kita mengenal tentang Panitia Pembina Keselamtan dan Kesehatan Kerja (P2K3) adalah wadah untuk berdiskusi antara manajer, supervisor dan perwakilan pekerja dari masing-masing bagian untuk membahas isu-isu terkait keselamatan di dalam perusahaan. Ini adalah cara yang dinilai paling efektif untuk menemukan kendala-kendala dan menentukan langkah perbaikan terkait K3.

Untuk mempertemukan penerapan K3 dengan regulasi pemerintah, maka diperlukan bantuan seorang Ahli K3. Tugasnya adalah memberikan saran-saran terkait kondisi perusahaan dan kebutuhan pemenuhan undang-undang, peraturan dan persyaatan lannya terkait penerapan K3.

Ahli K3 bertugas melakukan pengecekan terhadap area kerja, melakukan identifikasi bahaya dan penilaian risiko, melakukan investigasi kecelakaan dan memastikan upaya pengendalian dan prosedu-prosedur keselamatan ditaati.

5. Orientasi K3

Dalam banyak kejadian kecelakaan kerja, tenaga kerja yang baru bergabung sering memberikan kontribusi terhadap timbulnya insiden. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang kondisi tempat kerja, cara kerja peralatan maupun prosedur atau metode yang digunakan.

Faktor psikis atau mental juga banyak mempengaruhi terhadap tenaga kerja baru. Terlebih lagi jika mereka adalah freshgraduate yang minim pengalaman. Rasa canggung dan takut salah, menyebabkan mereka enggan bertanya, meskipun tidak tahu. Hal ini sangat berbahaya di tempat kerja.

Dengan melakukan orientasi, diharapkan orang-orang yang baru bergabung dapat selalu didampingi untuk mendapatkan pengawasan agar tidak melakukan hal hal yang berbahaya.

6. Pelatihan K3

Training atau pelatihan tentang keselamatan adalah salah satu inti dalam program K3. Pelatihan K3 juga merupakan salah satu persyaratan legal, yakni kewajiban pengurus untuk menyampaikan tentang potensi bahaya, cara kerja yang aman dan alat keselamatan yang diperlukan.

Tanggung jawab pengurus perusahaan untuk memastikan pelatihan-pelatihan terkait keselamatan telah dilakukan dan terdokumentasi. Dalam program K3 harus menerangkan tentang kebutuhan-kebutuhan pelatihan terkait K3 terhadap setiap jabatan dan fungsi di dalam orgranisasi atau perusahaan.

Kegiatan pelatihan dapat dilakukan secara internal maupun eksternal, tergantung kebutuhan pelatihan dan sumber daya yang tersedia.

7. Pemeriksaaan dan Pelaporan

Pemeriksaan atau inspeksi diperlukan untuk memastikan berjalannya penerapan K3. Dari proses inspeksi ini dapat ditemukan adanya potensi berbahaya di lingkungan kerja, baik berupa lingkungan, peralatan maupun perilaku manusia.

Temuan-temuan dari kegiatan inspeksi harus dilaporkan kepada pimpinan atau bagian yang memiliki tanggung jawab untuk melakukan perbaikan.

Agar temuan terkait keselamatan dapat diperbaiki, maka perlu dibuatkan sistem bagaimana cara agar memudhkan bagi siapa pun untuk  melaporkan kondisi yang tidak aman di tempat kerja.

8. Investigasi kecelakaan dan pelaporannya

Tidak ada sistem yang sempurna. Ada saja cacat dan celah sehingga di sebuah perusahaan timbul kecelakaan. Untuk mencegah kejadian serupa terulang lagi, maka setiap kejadian kecelakaan harus diteliti penyebabnya dan ditentukan langkah pencegahannya.

Proses investigasi terhadap insiden penting dilakukan untuk mencari faktor-faktor yang menjadi penyebab, menentukan kekurangan-kekurangan yang ada dalam sistem.

Meskipun hal ini penting, namun sayanganya, seringkali insvestigasi kecelakaan ini dilakukan seadanya. Tidak objektif dan transparan. Kurangnya pemahaman menyebabkan karyawan takut untuk memberikan keterangan yang mereka ketahui seputar kejadian kecelakaan.

Ini adalah tugas pengurus perusahaan agar dalam proses investigasi, semua yang terkait dengan kejadian kecelakaan dapat memberikan informasi yang nantinya bermanfaat untuk mencegah hal yang sama terulang.

9. Prosedur Emergency

Program K3 harus mempersiapkan tata cara menghdapi kejadian-kejadian yang tak diinginkan, semisal kebakaran, bencana alam, dan ledakan. Langkah yang tepat dan cepat harus diambil dalam situasi darurat untuk mencegah kerusakan, cedera atau korban, sehingga prosedur yang jelas diperlukan untuk menghadapi situasi darurat.

Pelatihan dan simulasi tanggap terhadap kondisi darurat perlu dilakukan secara berkala agar setiap orang yang berada di perusahaan bisa mengerti dan memahami.

10. Komunikasi dan Perjanjian Kerja

Pekerja atau karyawan, supervisor, dan manajemen harus terbuka untuk melakukan diskusi terkait keselamatan. Pertemuan secara rutin antara perwakilan karyawan dengan pengurus perusahaan diperlukan untuk membahas tentang insiden, potensi bahaya dan prosedur-prosedur keselamatan.

Dengan pernyataan dan sikap menajemen yang berkomitmen menerapkan aturan K3 tentu akan memberikan dampak yang besar terhadap kepatuhan semua lini di perusahaan.

Sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan, maka pengurus harus memastikan pihak eksternal yang terlibat juga ikut mentaati dan mendukung tercapainya target K3. Untuk itu, pengurus harus memasukkan item K3 sebagai salah satu persyaratan kontrak kerja, baik kepada karyawan maupun pihak kontraktor.

11. Pencatatan dan Evaluasi Program

Untuk melakukan perbaikan terhadap program K3, harus dilakukan pencatatan terhadap setiap kejadian atau insiden di dalam perusahaan. Perlu dilakukan penelusuran terhadap kejadian untuk melihat apakah jumlah insiden bertambah atau berkurang.

Pencatatan dan analisis data keselamatan akan membantu menunjukkan bahwa insiden cenderung terjadi pada satu bagian atau section tertentu.

Lakukan diskusi dengan bagian HR untuk mempelajari jika kecelakaan terjadi karena adanya hubungan dngan spesifikasi pekerjaan, kurangnya pelatihan, kurangnya pengalaman atau shift kerja yang terlalu panjang.

Jika telah mengetahui frekuensi dan penyebab insiden di tempat kerja, anda dapat memberikan rekomendasi untuk penyesuaian proses produksi dan kebijakan K3.

Kesimpulan

Demikian gambaran hal-hal yang menjadi perhatian dalam menyusu program K3 di galangan kapal. Dengan menjalankan program K3 di perusahaan, berarti manajemen telah memenuhi kewajiban seperti yang tercantum dalam undang-undang.

Dengan perencanaan program K3 yang tepat, perusahaan akan membentuk reputasi yang baik terhadap karyawan dan pihak-pihak eksternal. Dalam mencegah kecelakaan, penyakit akibat kerja, kerusakan alat atau fasilitas perusahaan dan pengeluaran biaya-biaya yang terkait.

Keselamatan dan kesehatan kerja adalah investasi yang akan memberikan dampak positif terhadap kelangsungan hidup sebuah perusahaan.

Keselamatan Kerja Radiografi Di Galangan Kapal

Peralatan Radiografi

Guna memastikan kekuatan struktur bangunan sebuah kapal, petugas quality control (QC) harus melakukan pengujian kualitas. Salah satu metode pengujian yang digunakan adalah uji tak rusak (non destructive test) yakni menggunakan peralatan radiografi.

Teknis pelaksanaan uji radiografi ini dengan melakukan pengambilan gambar (foto) menggunakan kamera pemancar radiografi ke titik-titik yang ingin diuji. Bentuknya hampir mirip dengan pengambilan foto thorax di ruang rontgen, namun objek di sini adalah sebuah bangunan kapal.

Dari segi akurasi hasil pengujian dan biaya yang diperlukan, menjadikan uji radiografi sebagai metode pengujian yang sering digunakan pada project pembangunan kapal. Namun di balik manfaatnya tersebut, pengurus perusahaan harus memperhatikan faktor keselamatan dari risiko yang mungkin timbul.

Kamera radiografi yang digunakan untuk mengambil gambar saat uji NDT

Peralatan radiografi ini menggunakan zat radioaktif dan/atau pembangkit radiasi pengion, yakni sumber radiasi dalam bentuk pesawat sinar-X dengan energi di bawah 1 (satu) MeV dan pesawat energi tinggi dengan energi sama atau di atas 1 (satu) MeV.

Saya tentu tidak akan membahas tentang kamera atau peralatan radiografi ini secara detail, karena saya bukan ahlinya. Namun dari pengalaman kegiatan di lapangan, beberapa informasi berikut bisa saya bagikan.

Pengendalian Risiko

Hal paling utama dalam pengendalian risiko adalah menghilangkan (eliminasi) sumber atau mengganti (subtitusi) dengan material atau metode yang dinilai lebih aman. Namun jika kedua langkah tersebut tidak memungkinkan, maka diperlukan upaya lain untuk mengontrol bahaya.

1. Menggunakan Jasa Eksternal

Pada umumnya, perusahaan akan meminta pihak ketiga (instansi yang memiliki legalitas) untuk melakukan uji radiografi. Alih-alih menyimpan peralatan dan merekrut operator yang semuanya harus memenuhi persyaratan perizinan yang cukup ribet. Dengan menggunakan jasa pihak eksternal, ini dinilai lebih efektif. Tentu tergantung dengan kebutuhan di perusahaan.

Dari faktor keselamatan, menggunakan jasa pihak eksternal untuk melakukan pengujian radiografi adalah pilihan tepat. Perusahaan hanya perlu mengajukan penawaran pekerjaan, lalu pihak penguji radiografi datang ke lokasi pengujian dengan membawa peralatan, melakukan proses uji, dan kemudian pergi setelah memberikan hasil pengujian.

Keuntungan menggunakan jasa eksternal untuk melakukan uji radiografi di antaranya tidak perlu mengurusi segala jenis perizinan untuk menggunakan zat radioaktif, tidak perlu orang atau tenaga kerja khusus operator radiografi (OR), ahli radiografi (AR).

2. Persiapan Administrasi

Persiapan administrasi atau metode dalam pelaksanaan uji radiografi. Kita dapat menggunakan Job safety analysis (JSA) atau work permit khusus pekerjaan radioaktif (x-ray) untuk dijadikan pedoman dalam pengendalian risiko. Biasanya, perusahaan jasa uji radiografi yang memiliki sistem administrasi keselamatan kerja yang baik, mereka sudah menyiapkan identifikasi daftar potensi bahaya dan analisa risiko lengkap beserta dengan statment metodenya.

Pastikan juga memeriksa kelengkapan kalibrasi alat, baik peralatan kamera radiografi, dan kalibrasi alat detector radiasi. Ini penting untuk memastikan peralatan berfungsi dengan baik dan hasilnya akurat. Selain sertifikat kalibrasi alat, sertifikat kompetensi operator juga perlu. Jangan ragu untuk meminta bukti kepada pihak perusahaan jasa berupa sertifikat operator radiografi dan ahli radiografi.

Dengan kelengkapan administrasi tersebut, perusahaan akan memiliki jaminan hukum jika sewaktu-waktu terjadi hal tak diinginkan selama proses uji radiografi. Ini penting untuk diketahui oleh pengurus perusahaan, khususnya pengawas K3 atau HSE officer.

3. Langkah Aman Dalam Pelaksanaan Uji Radiografi

Sebelum memulai pekerjaan pengujian, penting untuk setiap orang yang terlibat mengetahui secara detail langkah-langkah dan apa risikonya. Terutama apabila petugas atau operator radiografi ini memerlukan bantuan dari pihak yang awam terhadap cara kerja radiografi. Untuk itu perlu dipastikan tercantum dalam JSA beberapa hal berikut:

  • Penetapan daerah pengendalian, ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh area yang akan terdampak dari kegiatan uji radiografi ini.
  • Petugas yang terlibat, operator dan helper, atau mungkin ada tambahan personel untuk tugas membantu lainnya. Mereka semua harus diberitahu dan benar-benar paham tentang langkah aman dalam pekerjaan ini.
  • Langkah-langkah kerja disertai potensi bahaya dan saran pengendalian untuk mengantisipasi potensi bahaya tersebut. Semakin detail diketahui apa potensi bahaya yang mengancam, maka semakin baik pula kesiapan untuk mengontrol risikonya.
  • Pengamanan atau penutupan area untuk sementara (bila diperlukan). Jika area kerja merupakan tempat yang terbuka da memungkinkan ada pihak eksternal masuk ke area, maka penutupan area perlu dilakukan.
  • Pemberian batas, dengan memasang tali kuning atau barricade tape atau biasa lebih dikenal dengan police line.
  • Tanda bahaya, pasang tanda atau rambu K3 yang dapat memberikan informasi tentang adanya bahaya radiasi. Biasanya ada tanda khusus untuk radiasi. Menggunakan lampu flip flop juga bisa untuk menarik perhatian orang lain agar mengetahui bahwa sedang ada sesuatu yang khusus di area tersebut.

4. Perlengkapan Proteksi Radiasi

Berikut adalah beberapa peralatan yang digunakan untuk mengurangi risiko paparan radiasi saat melakukan pekerjaan uji radiografi:

  • Pendos
  • Survey meter
  • Kolimator
  • Tang penjepit bertangkai dengan panjang paling kurang 1 m (satu meter);
  • Lempeng Pb atau perisai radiasi lain yang setara dengan ukuran yang memadai;
  • Tanda radiasi;
  • Peralatan peringatan yang dapat dilihat dan/atau didengar;
  • Tali kuning;
  • Kontener
  • Tang potong bertangkai panjang, paling kurang 0,5 m (lima per sepuluh meter); dan
  • Go No Go gauge.

Pekerjaan radiografi adalah aktivitas yang jarang dilakukan di perusahaan dan kurangnya referensi menjadikannya terasa sulit untuk dipahami. Pengalaman terlibat dalam pekerjaan ini memaksa saya untuk mencari sebanyak mungkin informasi untuk memastikan pekerjaan di tempat saya bekerja berlangsung aman. Hal ini yang menjadi alasan untuk saya menuliskan informasi ini agar dapat memberikan sedikit gambaran.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa ini adalah pedoman yang valid, akan tetapi hanya sekedar tambahan informasi. Jika ingin mendapatkan informasi yang lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, anda dapat menghubungi pihak yang berwenang pada bidang ini, seperti BAPETEN misalnya.

Semoga tulisan ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembacanya, terutama bagi orang-orang yang sedang mengalami hal yang pernah saya alami (keterbatasan informasi K3 radioktif). Jika anda adalah ahlinya dan mendapati kekurangan dalam tulisan ini, mohon dikoreksi demi kita semua. Sebab kita sepakat, Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah tanggung jawab kita semua.

Keselamatan Kerja Penggunaan Listrik di Galangan Kapal

Listrik masih menjadi salah satu kebutuhan pokok untuk menunjang operasional kerja di galangan kapal

Kita tahu, listrik merupakan suatu kebutuhan namun juga memiliki potensi bahaya yang dapat merugikan, baik berupa kerugian harta benda maupun jiwa manusia. Potensi bahaya listrik yakni berupa sengatan arus yang menyebabkan henti jantung dan luka bakar. Selain kepada manusia, potensi bahaya kebakaran dari penghantar arus yang overload atau sambungan yang buruk.

Sebelum menggunakannya, perlu bagi kita mengenali sifat-sifat listrik. Di sini saya ingin mengulas tentang penggunaan energi listrik di galangan kapal. Penggunaan arus listrik di galangan kapal meliputi:

  • kebutuhan mesin las,
  • mesin gerinda,
  • mesin blower,
  • lampu penerangan
  • Dan berbagai macam peralatan lainnya yang memerlukan tenaga listrik sebagai sumber energi. Dapat saya katakan bahwa fungsi tenaga listrik cukup penting dalam kegiatan operasional di galangan kapal.

Resiko Penggunaan Listrik di Galangan Kapal

1. Aktivitas di tempat terbuka (outdoor)

Penggunaan tenaga listrik di outdoor perlu menjadi perhatian bagi karyawan dan pengurus di perusahaan. Kondisi cuaca hujan dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Mengingat bahwa resiko sengatan arus listrik dapat meningkat saat peralatan dalam kondisi basah. Demi keselamatan, kerja, sangat dianjurkan penggunaan alat kelistrikan yang kedap air (waterproof). Meskipun harga peralatan mungkin sedikit lebih mahal, namun tingkat keselamatannya tentu lebih terjamin.

2. Lokasi berpindah-pindah titik (portable)

Selain outdoor, aktivitas di galangan kapal umumnya dilakukan secara berpindah-pindah. Sehingga peralatan listrik yang digunakan bersifat sementara (temporary). Kondisi ini berdampak pada meningkatnya resiko kerusakan isolator peralatan yang disebabkan oleh perpindahan peralatan. Perlu tanggung jawab setiap karyawan dalam mencegah kerusakan yang dapat menyebabkan terjadinya kebocoran arus listrik. 

3. Medan kerja bersifat konduktor

Konstruksi kapal yang berupa logam adalah penghantar arus listrik (konduktor) yang baik. Bekerja di atas kapal berarti berada di permukaan logam yang secara keseluruhannya merupakan penghantar arus listrik. Kebocoran arus listrik pada satu titik akan terhubung ke seluruh permukaan pelat kapal. Ini sangat penting diperhatikan.

Keselamatan dalam Penggunaan Listrik di Galangan Kapal

Demi alasan keselamatan dalam penggunaan arus listrik maka diperlukan perlengkapan keselamatan (safety device). Untuk peralatan-peralatan kerja yang digunakan harus dilengkapi dengan;

  • circuit breaker pada panel listrik yang berfungsi untuk memutuskan arus secara otomatis jika terjadi hubungan singkat (short circuit),
  • sitstem pembumian (grounding) yang berfungsi menyalurkan arus listrik jika terjadi kebocoran.
  • tombol darurat (emergency button)
  • rambu peringatan tanda bahaya

Pengecekan alat kelistrikan secara rutin perlu dilakukan untuk memastikan peralatan dalam keadaan aman untuk digunakan. Pemasangan grounding juga penting dilakukan dari body kapal (hull) untuk menyalurkan arus listrik menuju ke tanah. Perlu untuk memastikan bahan grounding yang digunakan memiliki daya hantar yang baik (disarankan maksimal tahanan 5 ohm) atau sesuai dengan standar yang ditetapkan pemerintah. 

Saat sedang melakukan pekerjaan di sekitar panel listrik atau generator, gunakanlah alat pelindung diri untuk pekerjaan kelistrikan berupa:

  • safety helmet,
  • sarung tangan karet,
  • sepatu yang mampu mengisolasi energi listrik (insulated).
  • pakaian atau baju coverall

Tips Aman Penggunaan Arus Listrik di Galangan Kapal

  • Hilangkan energi listrik sebelum memulai pekerjaan perbaikan, menyambungkan kabel, atau saat sedang melakukan maintenance rutin. Jangan pernah menduga-duga sebelum memastikan bahwa sumber energi telah diputuskan. Gunakan test pen untuk memastikannya.
  • Pastikan power listrik dalam posisi OFF sebelum melakukan perbaikan peralatan listrik
  • Gunakan sistem LOTO (Lock Out Tag Out) sebelum melakukan pekerjaan perbaikan listrik. 
  • Pastikan anda mengetahui tombol emergency STOP, saklar dan sumber power listrik.
  • Periksa kabel-kabel power untuk menghindari kerusakan insulator yang menyebabkan kebocoran arus listrik. Kabel sambungan hanya boleh digunakan untuk sementara waktu, tidak boleh dipasang permanen.
  • Perhatikan tangga, stik/galah, atau benda-benda yang dapat menghantarkan listrik saat menggunakan peralatan di dekat kabel jalur kabel power listrik. Petugas harus selalu memastikan di sekitarnya aman dari jangkauan arus listrik, jangan sampai menjadi diri sendiri sebagai penghantar arus listrik.
  • Berikan dan perhatikan tanda/label tentang adanya arus listrik
  • Jangan melakukan penggalian di area yang belum dipastikan posisi kabel power yang tertanam di tanah. Laporkan ke petugas electrical perusahaan untuk memastikan titik lokasi kabel power.
  • Panel-panel listrik harus ada grounding
  • Sediakan rak-rak untuk mesin/travo las, atau jika memungkinkan, gunakan mesin las/trafo yang didesain untuk pemakaian outdoor.
  • Rak-rak mesin las/travo yang ada di maindeck harus dilapis dengan bahan isolator pada alasnya agar  tidak terhubung langsung dengan lantai deck/body kapal
  • Perhatikan penggunaan blower di atas maindeck, alas blower harus bersifat isolator untuk mencegah kebocoran arus ke pelat maindeck,
  • Pengecekan pada blower menggunakan tespen perlu dilakukan untuk memastikan tidak ada kebocoran arus listrik
  • perhatikan kemungkinan terjadinya flash arc saat menghidupkan tombol power, hal ini dapat menimbulkan percikan api dan berakibat luka bakar serius.

Pencegahan sengatan listrik pada pengelasan:

  • Wewenang operator (welder) hanya sebatas kabel las dari stang las dan massa hingga pada socket (connector) yang ada di mesin/trafo las, menghidupkan dan mematikan mesin las, mengatur ampere pada mesin las yang akan digunakan
  • Clamp kabel massa harus terpasang dengan benar pada material yang sedang dilas
  • Kondisi pakaian, sarung tangan dan sepatu harus benar-benar kering pada saat melakukan pengelasan
  • Letakkan stang las pada tempat yang dapat mengisolasi arus listrik saat sedang tidak digunakan
  • Matikan mesin las saat istirahat atau akan meninggalkan tempat pengelasan
  • Lepaskan, gulung dan rapikan kabel-kabel las saat usai bekerja

Kondisi berbahaya saat tangan, sarung tangan, pakaian kerja dan sepatu dalam kondisi basah ketika sedang melakukan pekerjaan pengelasan.

Sengatan arus listrik juga dapat terjadi ketika stang las diletakkan pada benda kerja, hal ini disebabkan karena arus plus dari clamp massa terhubung dengan arus minus pada stang las

Penutup

Listrik adalah kebutuhan, namun memiliki potensi bahaya bagi manusia dan harta benda. Dengan melakukan upaya-upaya pengendalian resiko, listrik dapat mempermudah kehidupan manusia.

Lebih baik mengeluarkan sedikit tambahan biaya untuk menyediakan peralatan listrik yang aman, daripada menanggung kerugian yang tidak akan pernah bisa dibeli kembali. Jiwa manusia.

Keselamatan Kerja Operasional Pengangkatan

Operasional pengangkatan (lifting operation) merupakan salah satu kegiatan yang memiliki resiko tinggi

PAA sebagai Alat Operasional Pengangkatan

Di berbagai industri, penggunaan pesawat angkat dan pesawat angkut (PAA) banyak digunakan untuk membantu pekerjaan manusia. Material dan peralatan kerja yang berat bahkan manusia diangkut atau dipindahkan dengan menggunakan bantuan PAA. 

Definisi PAA itu sendiri pada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 8 Tahun 2020 tentang Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut, dapat diartikan sebagai:

  • Pesawat Angkat adalah pesawat atau peralatan yang dibuat, dan di pasang untuk mengangkat, menurnankan, mengatur posisi dan/atau menahan benda kerja dan/atau muatan.
  • Pesawat Angkut adalah pesawat atau peralatan yang dibuat dan dikonstruksi untuk memindahkan benda atau muatan, atau orang secara horisontal, vertikal, diagonal, dengan menggunakan kemudi baik di dalamatau di luar pesawatnya, ataupun tidak menggunakan kemudi dan bergerak di atas landasan, permukaan maupun rel atau secara terus menerus dengan menggunakan bantuan ban, atau rantai atau rol.

Unit-unit di perusahaan yang termasuk PAA terdiri atas forklift, manlift, crawler crane, tower crane, conveyor, overhead crane, trailer dan lain sebagainya.

Dalam pembahasan ini, saya ingin menguraikan tentang proses lifting operation menggunakan PAA berupa crawler crane. Berhubung karena saya lebih banyak pengalaman di industri galangan kapal, maka saya akan lebih banyak mengambil gambaran proses lifting di galangan kapal. 

Peralatan yang biasa digunakan dalam proses lifting operation dengan crawler crane terdiri atas:

  • sling (wire atau belt),
  • shackle,
  • tali pandu (tag line) dan
  • kupingan angkat (pad eye). 

Identifikasi Potensi Bahaya Operasional Pengangkatan

Semakin detail potensi bahaya yang ditemukan dalam suatu pekerjaan, maka semakin besar peluang untuk mengendalikan resiko. Oleh karena itu, perlu untuk mengenali potensi-potensi bahaya dari pekerjaan yang hendak dilakukan. Beberapa potensi bahaya yang menjadi catatan dalam melakukan kegiatan lifting operation menggunakan crawler crane di antaranya:

  • Tertabrak, terlindas atau tersenggol pada saat proses crane bergerak menuju lokasi pengangkatan,
  • Bahaya kelistrikan, terutama pada kabel listrik yang tergantung (hanging cable)
  • Tertimpa, terbentur atau terjepit material yang diangkat,
  • Material terjatuh
  • Crane overload dan roboh

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi lifting operation antara lain:

  • Kesiapan personel; terlatih, memahami langkah kerja dan memiliki sertifikat
  • Peralatan; pesawat angkat, alat ikat, shackle dan semua alat yang terlibat harus sesuai
  • Cuaca; hujan, kecepatan angin, petir, atau suasana berkabut
  • Lokasi; tempat pijakan crane, kemiringan permukaan atau kegiatan lifting di air
  • Waktu; sedapat mungkin tidak melakukan lifting di malam hari karena akan mempengaruhi pencahayaan

Persiapan Sebelum Operasional Pengangkatan

1. Personal

Personel atau anggota tim yang hendak melakukan kegiatan pengangkatan, umumnya terdiri atas operator, rigger (juru ikat), petugas pembantu (helper) dan signalman. Personel dalam tim lifting harus memahami dengan benar potensi-potensi bahaya, memahami cara kerja peralatan dan terlatih untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Operator pesawat angkat dan pesawat angkut harus terampil dan mampu mengontrol pergerakan alat secara baik dan benar, memahami kemampuan (load chart) dari unit yang dioperasikannya. Sebagai bukti pemenuhan kualifikasi, seorang operator harus dilengkapi dengan surat izin operasional (SIO) sesuai dengan jenis pesawat angkat dan pesawat angkut yang dioperasikan, yang diterbikan diterbikan oleh Menteri Ketenagakerjaan kerja RI.

Petugas rigger atau juru ikat, secara teknis harus mampu dan terampil dalam memperhitungkan beban dan menentukan kapasitas (WLL/SWL) alat angkat (shackle, sling) yang akan digunakan. Rigger juga harus menentukan titik ikat dengan terlebih dahulu menganalisa titik beban (centre of weight). Pada proses lifting, rigger juga bertindak sebagai pemandu operator untuk mengarahkan pergerakan alat angkat. Seperti halnya operator, seorang rigger juga harus dilengkapi dengan surat izin operasional (SIO) yang diterbikan oleh Menteri Ketenagakerjaan kerja RI.

2. Peralatan

Peralatan yang akan digunakan dalam lifting operation harus dipastikan kondisinya layak dan aman digunakan. Pastikan beberapa hal berikut sebelum menggunakan alat:

  • Kondisi unit crane terawat, dibuktikan dengan laporan pengecekan dan perawatan harian (P2H), dan memiliki surat layak operasional dari dinas tenaga kerja,
  • Kondisi sling (wire & belt) dalam kondisi layak dan aman digunakan
  • Shackle dalam kondisi layak dan aman untuk digunakan
  • Tersedia tali pandu atau tagline
  • Kupingan (pad eye) atau titik ikat pada material yang hendak diangkat dalam kondisi layak

3. Lingkungan

Lingkungan dan faktor cuaca dapat mempengaruhi kegiatan lifting. Perhatikan kondisi lingkungan sekitar, apakah terdapat cukup pencahayaan, bagaimana dengan kecepatan angin, bagaimana dengan landasan tempat berpijak crane? Semua perlu diperhatikan.

Untuk area yang akan menjadi lokasi lifting harus dalam kondisi bersih dari gangguan, baik yang berada di bawah maupun bagian atas. Salah satu yang perlu diperhatikan biasanya adalah kabel power listrik. Pembatasan area dengan menggunakan rambu atau pun barricade tape perlu dilakukan untuk mencegah masuknya orang-orang yang tidak berkempentingan ke area radius lifting.

Untuk memastikan hal tersebut di atas dilakukan, maka sebelum kegiatan lifting operation dimulai, ada baiknya petugas HSE melakukan pengecekan secara menyeluruh. Agar memudahkan, dapat menggunakan Lifting Operation Checklist sebagai pedoman terhadap item-item yang perlu dipenuhi.

Proses Operasional Pengangkatan

Petugas rigger memasang peralatan lifting pada material yang akan diangkat. Shackle dipasang pada titik-titk yang ditetapkan sebagai pusat beban (center of weight). Hal ini dimaksudkan agar keseimbangan beban tetap terjaga proses pengangkatan. Beban yang tidak seimbang berpotensi menyebabkan crane mengalami over load dan rubuh.

Untuk memandu material yang diangkat, petugas rigger perlu menggunakan tali pandu (tagline). Fungsi tali pandu adalah agar anggota tim lifting tidak menyentuh langsung material yang diangakat. Dengan demikian memberikan peluang kepada tim jika sewaktu-waktu beban bergerak di luar kontrol.

Selama proses liftitng, orang-orang dilarang melintas atau berada di bawah beban yang sedang diangkat. Setiap personel harus selalu memperhatikan posisi dan pergerakan material. Pastikan setiap personel selalu dalam posisi yang bebas dan memiliki akses jika sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat.

Petugas rigger memandu operator dalam melakukan pemindahan material menuju titik yang dikehendaki. Komunikasi yang biasa digunakan dapat berupa kode tangan (hand signal)  atau  radio HT . Komunikasi dengan hand signal harus disepakati antara operator dan rigger dan dilatihkan guna menghindari kesalahan instruksi. 

Usai Proses Operasional Pengangkatan

Setelah digunakan, sangat penting untuk melakukan pengecekan terhadap kondisi seluruh peralatan yang telah digunakan. Periksa kondisi crane, shackle, maupun sling yang telah digunakan. Pastikan tidak ada tanda-tanda kerusakan pada alat. Jika menemukan kerusakan pada alat lifting, maka lakukan perawatan atau penggantian sesuai dengan ketentuan penggunaan alat tersebut.

Referensi:

  • Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 8 Tahun 2020 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut

Keselamatan Kerja Blasting dan Painting

Sandblasting

Di galangan kapal, dikenal pekerjaan abrassive blasting. Aktivitas ini merupakan pembersihan permukaan material dengan metode penyemprotan udara bertekanan tinggi (high pressure). Media yang disemprotkan dapat berupa pasir silika, air, steel grit, steel shot, garnet, coper slag dan lain-lain.

Pada umumnya, aktivitas di galangan kapal akan menggunakan pasir silika sebagai media abrasive blasting. Sayangnya, metode blasting menggunakan pasir silica atau sandblasting ini sangat tidak ramah terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.  Debu yang dihasilkan dari blasting menjadi ancaman serius bagi kesehatan pernapasan manusia dan ekosistem yang terdampak.  

Identifikasi Bahaya Sandblasting:

Beberapa potensi bahaya sandblasting:

  1. Debu silika dapat menyebabkan penyakit silicosis
  2. Kebisingan dapat menyebabkan NIHL (Noise Indirect Hearing Loss). Mengenai nilai ambang batas kebisingan dapat melihat tabel NAB berdasarkan Kepmenaker No. 51 tahun 1999.
  3. Kompressor yang digunakan adalah merupakan bejana bertekanan. Untuk keselamatan penggunaannya, silahkan melihat referensi tentang keselamatan pengoperasian kompressor.
  4. Hose-hose sandblasting hingga gun yang digunakan, semuanya membawa tekanan yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan bahaya mekanikal. Beberapa kasus hose sandblasting pecah dan pasir bertekanan mengenai personel yang bekerja, coupling hose terlepas dan mengenai karyawan yang ada di sekitar.
  5. Sandpot yang digunakan sebagai mixer antara udara dan pasir perlu diperhatikan kondisinya, terutama kemampuannya dalam menampung tekanan udara yang disuplai dari compressor. Jika memungkinkan, pengurus sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan secara berkala terhadap sandpot blasting ini.
  6. Pergesekan antara permukaan benda dan media pasir blasting dapat menimbulkan percikan api, perhatikan adanya potensi bahaya kebakaran atau ledakan jika kegiatan sandblasting dilakukan

Pengendalian Bahaya Sandblasting:

Jika memungkinkan untuk mengganti metode sandblasting dengan yang lain, hal ini sangat disarankan. Namun apabila tetap harus menggunakan metode ini, maka berikut saran-saran yang dapat dilakukan (meskipun tidak ada jaminan menurunkan resiko secara penuh):

  1. Lakukan pemeriksaan terhadap peralatan sebelum digunakan,
  2. Gunakan peralatan yang sesuai dengan spesifikasinya (compressor, hose blasting, gun, dan sand pot),
  3. Atur waktu pekerjaan sandblasting agar tidak bersamaan dengan aktivitas lain,
  4. Tetapkan batas area yang terdampak debu, kebisingan atau pun percikan pasir blasting,
  5. Hindari pekerjaan sandblasting di dekat penampungan bahan yang mudah terbakar (flammable material),
  6. Gunakan safety wire pada setiap sambungan (coupling) hose-hose untuk mencegah bahaya mekanikal saat coupling terlepas,
  7. Batasi area pekerjaan, akses hanya diizinkan untuk tim yang terlibat pekerjaan sandblasting,
  8. Setiap pekerja yang terlibat harus terlatih dan paham dengan sistem kerja blasting,
  9. Karyawan yang terlibat harus menggunakan alat pelindung diri yang dipersyaratkan.

Alat pelindung diri yang diperlukan dalam kegiatan sandblasting, antara lain:

  • Helm blasting atau air fed blast helmet
  • Masker debu (dust masker)
  • Pelindung telinga (Ear muffs/ear plugs)
  • Wearpack/Blast apron
  • Sarung tangan kulit/leather gloves
  • Safety shoes

Painting

Kegiatan painting atau pengecatan adalah proses lanjutan setelah permukaan pelat kapal diblasting. Fungsi dari painting ini adalah untuk melindungi seluruh permukaan logam kapal agar tidak mudah terjadi karat, mengurangi gesekan antara permukaan air dan body kapal dan tentunya mempercantik penampilan kapal.

Meskipun memiliki manfaat yang besar terhadap bangunan sebuah kapal, namun proses painting ini perlu dipersiapkan pelaksanaannya, mengingat potensi bahaya yang menyertainya.

Identifikasi potensi bahaya painting:

  1. Bahan dasar cat yang dapat berbahaya bagi kesehatan manusia maupun biota yang ada di lingkungan sekitar,
  2. Masih terkait bahan cat, selain bersifat toksik atau beracun, juga mudah terbakar, bahkan uap pada konsentrasi yang tinggi dapat meledak jika terkena percikan api.
  3. Pada proses painting di dalam ruangan, resiko semakin meningkat disebabkan ventilasi yang kurang sehingga konsentrasi uap cat semakin tinggi.
  4. Bahaya pada penggunaan high pressure airless sprayer, yakni alat yang digunakan untuk menyemprotkan cat ke permukaan pelat atau benda yang dicat. Tekanan tinggi dari airless sprayer ini dapat menyebabkan luka terbuka pada bagian tubuh yang terkena. Meskipun luka yang ditimbulkan tampak seperti luka biasa, namun dampak dari masuknya material cat ke dalam tubuh dapat berakibat serius. Penanganan medis berupa operasi bahkan amputasi pada organ yang terkontaminasi bahan cat terkadang harus dilakukan.

Pengendalian Bahaya Painting

  1. Kenali sifat material dasar penyusun cat (lihat safety data sheet) pada produk yang digunakan,
  2. Pastikan kemasan (kaleng) cat dalam kondisi kedap dan tidak bocor,
  3. Untuk mencegah bahaya kebakaran, simpan cat pada tempat yang sudah ditentukan dengan ventilasi yang baik dan terpasang rambu-rambu peringatan bahaya.
  4. Lakukan pengaturan jadwal atau waktu kerja agar kegiatan painting tidak bersamaan dengan pekerjaan lain, terutama pekerjaan panas (hot work),
  5. Gunakan pelindung pernapasan “Respirator/Air fed mask” yang memenuhi persyaratan keselamatan. Biasanya menggunakan respirator dengan aproval ANSI Z88.2-1992 dan lain sebagainya.
  6. Saat melakukan painting dengan menggunakan semprotan (high pressure airless sprayer) karyawan harus mengenakan alat pelindung diri yang menutup seluruh permukaan tubuh dari paparan cat.

Pekerjaan painting di ruang terbatas:

  • Pekerjaan painting di ruang terbatas memerlukan persiapan yang lebih baik, karena pekerjaan painting dalam kondisi seperti ini tingkat resiko lebih tinggi dibandingkan pada proses terbuka.
  • Gunakan blower untuk membantu sirkulasi udara dan mengeluarkan uap cat dari ruangan,
  • Gunakan penerangan yang berupa lampu “Flame Proof”,
  • Atur lamanya waktu kerja bagi karyawan untuk mengurangi lamanya terpapar bahan cat.

Usai melakukan painting:

  • Kumpulkan dan tempatkan sisa dan kemasan bekas yang masih terkontaminasi pada tempat yang telah ditentukan.
  • Bersihkan semua sisa-sisa cat, terutama yang melekat pada tubuh dan pakaian.
  • Bersihkan diri sebelum pulang dan berkumpul dengan keluarga,
  • Cuci pakaian kerja secara terpisah dari pakaian sehari-hari untuk mencegah kontaminasi

Demikian gambaran bahaya dan saran-saran pengendalian potensi bahaya dari aktivitas sandblasting dan painting di galangan kapal. Semoga bermanfaat, jika ada kritik dan saran, silahkan sampaikan di kolom komentar.

Disclaimer:

Tulisan ini berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi dan dipaparkan secara subjektif. Untuk dijadikan sebagai acuan tentunya harus dilakukan penelitian dan kajian secara ilmiah..

Bahaya Tenggelam dan Keselamatan Kerja di Tepi Air

Baru-baru ini ada berita di media online yang mengabarkan tentang seorang karyawan yang bekerja di galangan kapal meninggal akibat tenggelam. Dari informasi tersebut diketahui bahwa karyawan terjatuh, kepalanya terbentur dan kemudian terbawa arus. Korban sempat dinyatakan hilang dan baru ditemukan keesokan harinya.

Belajar dari kejadian kecelakaan tersebut, bagi yang akan bekerja di tepi/atas permukaan air harus selalu mewaspadai bahaya tenggelam.

Banyak orang yang berdalih bisa berenang sehingga tidak perlu khawatir akan keselamatannya jika sewaktu-waktu terjatuh ke air. Faktanya, dalam banyak kejadian orang yang tenggelam diketahui memiliki kemampuan berenang.

Seperti pada kasus yang diberitakan di atas, korban pingsan akibat benturan di kepalanya saat terjatuh dan kemudian terbawa arus. Tentu dengan kondisi seperti ini, kita tidak bisa lagi berharap pada kemampuan berenang.

Banyak hal yang menjadi penyebab kecelakaan saat bekerja di tepi/permukaan air. Dari berbagai kasus kejadian korban tenggelam disebabkan oleh:

  1. Korban tidak bisa berenang. Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk berenang. Meskipun di sekolah dulu ada kurikulum mata pelajaran olahraga renang, tapi kenyataannya banyak orang yang belum bisa berenang.
  2. Korban kram atau kelelahan saat berenang. Kalau pun mampu berenang, seseorang bisa saja kelelahan atau mengalami kram sehingga tidak terselamatkan.
  3. Arus kencang, sekuat apapun seseorang dalam kondisi arus perairan yang deras akan sulit berhasil menyelamatkan diri.
  4. Korban pingsan/tidak sadarkan diri. Saat terjatuh, korban terbentur pada objek dan pingsan atau tidak sadarkan diri.
  5. Panik, ini adalah faktor utama yang menggagalkan upaya penyelamatan, baik kepada diri sendiri atau pun orang lain. Kepanikan satu orang dapat mencelakakan yang lainnya.

Apakah kita masih bisa merasa cukup aman dari bahaya yang mengancam saat bekerja di tepi/ atas permukaan air?

Dari berbagai kejadian yang sudah ada semestinya cukup menjadi pembelajaran buat kita. Tidak ada lagi alasan bagi siapa saja yang akan bekerja di tepi/atas permukaan air untuk mengabaikan syarat keselamatan.

Saran-saran keselamatan selama bekerja di tepi/atas permukaan permukaan air:

  1. Sedapat mungkin, hindari bekerja di dekat tepi/atas permukaan air, pindahkan posisi pekerjaan jika memungkinkan.
  2. Pasang pagar penghalang untuk mencegah orang terjatuh ke air. Hal ini dapat merujuk kepada aturan Kepmenaker RI Nomor 9 Tahun 2016 tentang K3 bekerja di ketinggian.
  3. Persiapkan personel atau karyawan yang hendak bekerja di tepi/atas permukaan air agar siap secara fisik dan mental, salah satu yang dilakukan adalah memastikan mereka mampu berenang. Beberapa paket pelatihan sea survival atau teknik bertahan di air sudah ditawarkan oleh perusahaan jasa pelatihan,
  4. Pastikan pencahayaan tercukupi, terutama saat kegiatan aktivitas di malam hari,
  5. Perhatikan adanya pengaruh pasang surut permukaan air atau pergerakan gelombang. Hindari bekerja di tepi permukaan air pada saat cuaca buruk atau angin kencang.
  6. Persiapkan alat penolong orang jatuh atau lifebuoy pada tempat-tempat yang mudah dijangkau untuk digunakan sewaktu-waktu ada orang jatuh ke air.
  7. Apabila diperlukan, lengkapi setiap personel atau karyawan yang bekerja di dekat permukaan air dengan life jacket atau pelampung. Mengenai peraturan penggunaan alat pelindung diri, kita dapat merujuk ke situs U.S Coast Guard.
  8. Lakukan pelatihan dan simulasi pertolongan terhadap orang yang jatuh ke air.

Dengan memahami potensi bahaya bekerja di tepi/permukaan air, akan menumbuhkan kesadaran kita untuk melakukan pengendalian terhadap resiko yang mungkin ada. Under estimate adalah penyebab timbulnya penyesalan di kemudian hari. Semoga menjadi tambahan informasi dan memberikan manfaat.

Disclaimer:
Tulisan ini berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi dan dipaparkan secara subjektif. Untuk dijadikan sebagai acuan tentunya harus dilakukan penelitian dan kajian secara ilmiah.

K3 pada Alat Bertekanan (High Pressure Equipment)

Balon salah satu alat bertekanan (high pressure equipment)
Airbag merupakan alat yang dikempa dengan udara bertekanan untuk menopang bobot kapal saat dinaikkan ke area dockyard

Kegiatan pengujian kebocoran pada tangki kompartemen kapal, perpipaan, dan bagian-bagian kedap lainnya memerlukan kegiatan yang melibatkan tekanan tinggi (high pressure). Air test contohnya, dilakukan dengan memompa udara kedalam tangka hingga mencapai tekanan tertentu untuk melihat apakah terdapat kebocoran atau tidak pada hasil las-lasan tangka kapal.

Demikian pula dengan hydrotest yang dilakukan untuk menguji kebocoran pada sambungan perpipaan. Kegiatan ini juga menggunakan tekanan untuk mengalirkan air di dalam pipa untuk mengukur ketahanan sambungan perpipaan guna menjamin kehandalan instalasinya.

Untuk membersihkan permukaan pelat pada body (hull) kapal dilakukan kegiatan blasting, baik menggunakan media pasir maupun air. Kegiatan ini juga melibatkan high pressure untuk menyemprotkan media blasting.

Pada beberapa galangan kapal menaikkan kapal untuk kegiatan dry dock dengan menggunakan airbag (balon). Kegiatan pemompaan airbag juga melibatkan high pressure.

High Pressure Equipment (ALat kerja bertekanan)

1. Kompressor

Kompressor dengan berbagai ukuran seringkali didapati pada sebuah galangan kapal. Hal ini mengingat bahwa memang pekerjaan di galangan kapal banyak membutuhkan kompressor.

Periksa dan lakukan perawatan secara berkala terhadap kompressor, pastikan perlengkapan keselamatannya (safety device) ada dan berfungsi dengan baik.

Perhatikan safety release (safety valve) berfungsi, clamp-clamp, hose-hose dalam kondisi utuh dan tidak melampaui masa kadaluarsanya, terdapat safety wire pada setiap sambungan (coupling), terdapat pressure gauge, tabung kompressor telah diuji dan berizin dari dinas tenaga kerja.

  • Periksa peralatan setiap kali akan digunakan, pastikan kondisinya layak pakai
  • Lengkapi setiap peralatan keselamatan (safety device) yang diperlukan pada alat kerja, misalnya wire safety pada coupling hose compressor, safety valve, manometer/pressure gauge,
  • Analisa potensi bahaya dan tentukan area-area yang mungkin terdampak jika terjadi kegagalan peralatan,
  • Sedapat mungkin batasi akses masuk area yang terdampak dan jaga jarak aman dengan cara memberi penanda (rambu-rambu) keselamatan
  • Lakukan pengujian dan sertifikasi dari pihak eksternal yang legal (misalnya PJK3) untuk peralatan bertekanan yang digunakan

2. Tabung-tabung bertekanan (Pressurized Cylinders)

High pressure equipment
Tabung-tabung bertekanan berisi gas untuk pekerjaan panas

Aktivitas kerja di galangan sangat banyak membutuhkan pemakaian tabung-tabung gas bertekanan, diantaranya oksigen, LPG dan asetilin. Namun tahukah anda jika tabung-tabung gas bertekanan ini memiliki potensi bahaya yang besar. Sehingga dalam penggunaannya diperlukan penanganan yang benar untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

Beberapa hal yang perlu diketahui dalam menggunakan tabung gas bertekanan, yakni diantaranya:

  1. Tempatkan tabung-tabung gas dalam posisi berdiri (vertikal) pada pallet atau rak atau dalam keadaan terikat agar tidak mudah rebah
  2. Saat mengangkut tabung gas, gunakanlah pallet atau rak. Jika memindahkan tabung secara manual, gunakanlah cradle atau putarlah tabung tetap dalam posisi berdiri. Menyeret atau menggelindingkan tabung gas dapat mengakibatkan kerusakan pada tabung tersebut.
  3. Pastikan tidak ada kebocoran pada sambungan-sambungan, gunakan cairan sabun untuk mendeteksi kebocoran gas. Jangan menggunakan peralatan jika terjadi kebocoran gas, perbaiki atau lakukan penggantian
  4. Sebelum melakukan cutting, pastikan flashback arrester sudah terpasang pada regulator dan cutting torch untuk mencegah terjadi nyala api balik.
  5. Tempatkan tabung pada posisi yang aman dan tidak mengganggu lalu lalang kendaraan
  6. Jangan pernah melakukan pekerjaan panas di dekat benda-benda yang mudah terbakar (jarak minimal 5 meter). Pastikan agar benda yang mudah terbakar tidak terkena api dari aktivitas panas
  7. Pastikan terdapat fire extinguisher yang mudah dijangkau saat melakukan pekerjaan menggunakan oxyfuel cutting
  8. Usai melakukan pekerjaan cutting, pantau lokasi kerja untuk memastikan tidak ada nyala api yang tersisa
  9. Tutup valve tabung yang sudah kosong, berikan penanda (CYLINDER EMPTY, DON’T USE)
  10. Pasang cap penutup valve tabung oksigen saat sedang tidak digunakan
  11. Pada penyimpanan tabung, pisahkan antara tabung gas oksigen dengan tabung incompatible gas, semisal LPG atau asetilin. Pastikan area penyimpanan dilengkapi dengan ventilasi agar sirkulasi udara berjalan dengan baik.