Category Archives: HSE Officer

Kenapa Mau jadi HSE Officer?

Kenapa memilih jadi HSE Officer?, karena HSE officer itu keren…

HSE Officer hanya posisi pelengkap

Banyak orang yang berpendapat bahwa bekerja sebagai HSE (Health, Safety and Environment) Officer di sebuah perusahaan itu merupakan kebanggaan dan posisi yang nyaman. Seorang HSE Officer tidak perlu bekerja berat, berkeringat dan tidak usah pusing memikirkan pencapaian hasil produksi. Intinya adalah, HSE Officer selalu tampil gagah dengan out fit yang melekat pada dirinya.

Secara sepintas memang seperti itu kelihatannya. Tapi belum tentu sama dengan apa yang dirasakan oleh si HSE Officer itu sendiri. Mungkin rekan-rekan HSE Officer ada yang berpendapat berbeda, tetapi secara pribadi saya merasakan hal itu. Bahwa HSE Officer hanya berusaha terlihat santuy, namun sebaliknya penuh dengan beban pikiran karena merasa bertanggung jawab terhadap banyak hal di perusahaan.

Saya ingin coba memaparkan situasi yang dialami oleh HSE Officer di perusahaan manufaktur atau industri-industri padat karya. Seperti kita ketahui, di negeri ini banyak terdapat indsutri perkayuan, garment, tekstil, perkapalan, pengerjaan logam, konstruksi bangunan dan lain sebagainya. Di mana perusahaan seperti ini pada umumnya HSE Officer hanya dijadikan sebagai pemain pelengkap.

Jika anda adalah HSE Officer dan tidak pernah mengalami hal itu, mungkin karena anda berada pada sektor yang memang mengutamakan K3 dalam kegiatan operasionalnya. Sektor migas umpanya, memang akan sangat memperhatikan faktor keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Karena adanya persyaratan market yang meminta untuk itu. Ikuti standard K3 yang ditetapkan oleh pasar, atau produk anda tidak akan dibeli oleh mereka. Mau tidak mau, suka tidak suka, perusahaan akan menjalankan itu.

Lain halnya dengan industri padat karya, K3 dijalankan hanya sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi pemerintah yang juga lemah dalam pengawasan. Jadilah kalimat UTAMAKAN KESELAMATAN hanya sebagai slogan yang kebanyakan tidak dijalankan dan HSE Officer terkadang harus menjadi tameng jika timbul insiden fatality.

Alasan kenapa tetap memilih jadi HSE Officer

Sampai di sini masih memandang bahwa HSE Officer itu adalah pekerjaan yang keren?.

“Saya sih Yes. Absolutely.”

Kenapa masih bertahan sebgai HSE Officer di industri yang memandang K3 tidak ada nilai jualnya?. Karena kita diberi kesempatan di sini, dan kita tahu, di industri  ini tempat bekerja orang banyak.  Dan mereka adalah para pejuang pencari nafkah untuk anak istrinya, tulang punggung keluarga.

Siapa yang akan peduli dengan keselamatan mereka, orang-orang yang jangankan meneteskan keringat, bahkan terkadang darah pun mereka relakan.

Itu alasan kenapa tetap memilih jadi HSE Officer.

Keselamatan Kerja adalah Kebutuhan

Briefing sebelum memulai aktivitas untuk memastikan kelengkapan alat keselamatan setiap anggota tim

Bekerja sebagai HSE Officer di perusahaan, saya pernah berkali-kali menghadapi bantahan terkait aturan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang kami rekomendasikan kepada karyawan. Salah satu yang paling populer adalah masalah penggunaan alat pelindung diri (APD).

Tidak satu dua kali, kami, orang-orang HSE dibantah dan didebat masalah penggunaan APD ini. Karena untuk beberapa kondisi, memang penggunaan APD membuat rasa tidak nyaman. Sesak, berat, gerah, panas dan lain sebagainya yang menjadi alasan mengapa karyawan enggan memakai APD.

Tetapi, melihat kondisi yang umum sekarang ini, bisa kita temui, di mana-mana orang menggunakan APD, khususnya masker. Ini untuk masyarakat umum. Terlebih lagi untuk tenaga medis yang khusus menangani covid-19. Seorang dokter atau perawat yang biasanya bekerja dengan pakaian rapi, bersih dan terlihat elegan, kini harus terbungkus full dengan pakaian yang pasti sesak, panas, ribet dan rasa tidak nayaman lainnya.

Pertanyaannya, mengapa masyarakat rela membeli masker, meskipun mungkin dengan harga mahal untuk mereka pakai?. Mengapa dokter dan perawat yang terbiasa menggunakan pakaian rapi dan santai harus memakai pakaian pelindung full saat menghadapi pasien covid-19?.

Jawabannya adalah KARENA MERASA PERLU.

Ini pula lah yang sebenarnya harus kita tumbuhkan kepada karyawan di perusahaan. Perasaan perlu, butuh terhadap penggunaan APD dan segala bentuk program K3 yang kita ajukan. Caranya adalah dengan memaparkan secara logis alasan mengapa hal itu perlu dilakukan. Jika sudah masuk akal bagi mereka, maka mereka yang akan meminta tanpa harus berdebat terlebih dahulu.

HSE Officer Wajib Bisa Public Speaking

Bekerja sebagai HSE Officer, satu hal yang wajib dilakukan adalah tampil berbicara di depan orang banyak.

Seringkali orang kesulitan untuk melakukan hal yang satu ini. Perasaan grogi, tidak percaya diri, keringat dingin, kedua kaki rasanya tidak kuat menahan berat badan, tangan gemetaran, suara bergetar menahan gugup. Kira-kira seperti itu kondisi bagi seseorang yang tidak terbiasa berbicara di depan orang banyak.

Akan tetapi hal itu harus bisa dilakukan oleh seorang HSE Officer. Wajib! Kalau belum bisa?, latihan, paksa agar bisa!

Karena tugas HSE Officer ini adalah menyampaikan pesan-pesan keselamatan kepada setiap orang. Pada saat meeting, safety talk, HSE Induction, HSE Training, dll.

Dari yang pernah saya alami dan rasakan, ada beberapa hal yang saya lakukan untuk meredakan nervous ketika berbicara di depan orang banyak. 

1. Pahami dengan baik apa yang ingin disampaikan

Ibarat akan menghadapi musuh, jika berbekal banyak peluru, maka kita akan merasa lebih pede alias percaya diri. Bagi seorang pembicara di depan banyak orang, pengetahuan dan informasi yang memadai adalah amunisi penting.  

Pemahaman yang cukup luas terhadap topik pembicaraan akan membangun rasa percaya diri. Demikian pula halnya seorang HSE Officer, dia harus benar-benar memahami betul apa yang akan dia presentasikan kepada orang banyak.

2. Kenali siapa audiens

Kenali musuhmu, begitu pesan ahli strategi perang Cina kuno, Sun Tzu. Dengan mengetahui siapa mereka, kita akan mampu mencari celah mereka dan menutupi celah mungkin kita miliki. 

Dengan mengenali audiens, kita mampu mengukur seberapa paham mereka dengan apa yang akan kita bicarakan. Itu yang menjadi alasan mengapa kita perlu mengenali mereka. 

3. Lakukan interaksi, pancing respon audiens dengan humor

Bisa dibayangkan ketika sedang berbicara di depan orang banyak, dan orang-orang itu terlihat tidak antusias mendengarkan apa yang kita ucapkan. Ini akan membuat kita seketika merasa down, rasa percaya diri perlahan mulai goyah. 

Mati gaya, dan akhirnya konsep yang ada di kepala menjadi buyar. 

Dalam kondisi seperti ini, untuk memecah kebuntuan saya biasa memancing respon audiens dengan melemparkan pertanyaan secara langsung kepada salah seorang dari mereka. Bertanya dan meminta pendapat akan menarik minat mereka dengan apa yang kita sampaikan.

Lebih baik lagi jika kita bisa mencairkan suasana dengan selingan humor di sela-sela presentasi yang kita sampaikan. Dengan sedikit humor, orang-orang biasanya akan lebih bersemangat dan terhindar dari rasa bosan. 

4. Temukan alasan, mengapa kita perlu berbicara di depan audiens

Yang tak kalah pentingnya adalah alasan mengapa kita perlu melakukan hal tersebut. Seorang HSE Officer harus bicara, melakukan promosi, mengkampanyekan perilaku keselamatan dan kesehatan dalam bekerja. 

Ini alasan mengapa kita perlu tampil berbicara di depan banyak orang. Kita harus melakukan itu. Jika tidak dilakukan, maka akan ada sekian banyak orang yang terancam berperilaku tidak aman dan menimbulkan kecelakaan yang merugikan. 

Dengan mengetahui alasan ini, maka seorang HSE Officer akan tampil memberikan kampanye K3 di hadapan ratusan bahkan ribuan orang. Demi menyampaikan pesan keselamatan. Bukankah ini layak disebut sebuah perjuangan? 

5. Berlatih, ingat pepatah: “ala bisa karena biasa”

Tentunya, untuk mahir terhadap sesuatu harus ditempuh dengan berlatih. Sering-sering berlatih, bisa dilakukan sendiri di rumah atau di depan rekan-rekan satu tim. Minta mereka untuk menilai secara objektif terhadap apa yang mungkin perlu diperbaiki.

Semakin sering mencoba berbicara di depan orang banyak, maka akan lebih mudah menekan perasaan gugup atau nervous.

Barangkali rekan-rekan punya kiat-kiat tersendiri dalam megelola rasa gugup saat tampil di depan orang banyak?, boleh dong dibagikan pengalamannya….

Catatan dari Galangan Kapal: Kerja Panas (Hot Work)

Salah satu bentuk kerja panas adalah welding atau pengelasan

Untuk membangun dan memperbaiki sebuah kapal diperlukan pekerjaan yang melibatkan api, atau disebut kerja panas. Dalam bahasa Inggris biasa dikenal dengan istilah hot work. Tentunya yang dimaksud di sini adalah pekerjaan untuk kapal besi yah, bukan kapal kayu.

Jenis-jenis kerja panas

Lalu apa saja yang dimaksud pekerjaan panas?. Kerja panas (hot work) adalah setiap aktivitas pekerjaan yang dalam pelaksanaannya menggunakan nyala api atau menimbulkan percikan api.

Termasuk kerja panas antara lain meliputi: 

  • Proses pemotongan logam (cutting) menggunakan alat yang namanya flame cutting. Dalam pemakaiannya, alat ini menggunakan gas oksigen dan elpiji/asetilin untuk menyalakan api,
  • Proses pengelasan (welding), yakni penyambungan dua bagian logam dengan cara memanaskan hingga titik cair pada kedua bagian tersebut.
  • Proses brazing, modelnya hampir sama dengan alat flame cutting, namun dipadu dengan stik kuningan yang dicairkan. Biasanya digunakan untuk menambahkan permukaan yang mengalami pengikisan (abrasi),
  • Proses gerinda (grinding), dilakukan untuk membersihkan permukaan hasil pekerjaan sebelum proses finishing (painting)

Sebenarnya masih ada banyak lagi jenis kerja panas yang dilakukan untuk pembangunan atau perbaikan sebuah kapal. Biasanya tergantung dari jenis kapal atau pun standar kelas untuk kapal tersebut.

Potensi bahaya dan resiko kerja panas

Karena pekerjaan ini selalu melibatkan api, maka tentunya potensi bahaya utamanya adalah panas. Resiko paling ringan adalah luka bakar akibat percikan api atau cairan logam panas. Luka bakar ringan, sedang hingga berat, setiap waktu bisa saja terjadi.

Selain berpotensi menimbulkan luka bakar pada pekerja, kerja panas juga berpotensi menimbulkan kerugian berupa kebakaran bahkan ledakan. Beberapa kejadian seperti ini kerap terjadi, terutama dalam proyek perbaikan kapal (ship repair).

Tingginya frekuensi kerja dan banyaknya item pekerjaan panas menjadi penyebab tingginya resiko. Untuk itu diperlukan upaya-upaya pengendalian bahaya dalam melakukan pekerjaan panas (hot work) di galangan kapal. 

Langkah aman untuk kerja panas

Setelah mengetahui resiko dari kerja panas, maka diperlukan langkah-langkah agar tetap aman dalam bekerja. Dan demi alasan keselamatan, maka setiap orang yang berada di area proyek pekerjaan kapal perlu memperhatikan hal-hal sebelum memulai pekerjaan. Hal tersebut antara lain:

  1. Lakukan pengecekan area secara keseluruhan, perhatikan titik-titik yang mungkin terkena api. Pastikan semua area yang terdampak tersebut bebas dari bahan mudah terbakar atau pun meledak. Biasanya, untuk memastikan hal ini digunakan izin kerja panas (hot work permit) sebelum memulai aktivitas kerja panas;
  2. Lakukan pengecekan untuk memastikan alat-alat kerja dalam kondisi baik dan layak digunakan, misalnya pada sambungan cutting torch dan hose (selang) serta regulator bebas dari kebocoran gas;
  3. Lakukan housekeeping secara berkesinambungan di tempat kerja untuk menghindari penumpukan material yang berpotensi menjadi bahan baku saat terjadi kebakaran;
  4. Apabila diperlukan, pastikan ada seorang fire watcher/helper yang menjaga percikan api;
  5. Pastikan tersedia APAR (fire extinguisher) yang setiap saat siap digunakan jika terjadi keadaan darurat kebakaran;
  6. Atur jarak penempatan tabung-tabung oksigen dan LPG/asetilin, pastikan agar tidak terjangkau percikan api dari kegiatan pekerjaan panas;
  7. Hindari terjadinya pekerjaan yang sifatnya berlawanan, misalnya aktivitas pekerjaan pengecatan (painting), sebaiknya lakukan pengaturan waktu kerja agar tidak bersamaan;
  8. Pasang pelindung pada material yang dapat terbakar menggunakan fire blanket jika arah percikan api/spark tak dapat dihindari;
  9. Gunakan APD yang diperlukan seperti safety glass, safety shoes, safety helmet, sarung tangan kulit (welding glove), dan pakaian pelindung (flame retardant);
  10. Saat bekerja di ruangan terbatas (confined space) pastikan cukup penerangan dan ventilasi agar aman dari resiko kebakaran atau ledakan;
  11. Keluarkan hose dan alat cutting dari tangki/ruang terbatas (confined space) saat usai digunakan. (Ingat, beberapa kejadian ledakan pada tangki diakibatkan kebocoran gas yang terakumulasi di dalam).
  12. Matikan peralatan dan tutup semua valve/keran tabung gas saat sedang tidak digunakan;
  13. Luangkan waktu untuk memeriksa setiap area yang terkena percikan api untuk memastikan tidak ada sisa api yang masih menyala sebelum meninggalkan area kerja.

Kira-kira seperti itulah gambaran kerja panas yang dilakukan dalam proyek pembangunan dan perbaikan kapal. Tidak heran, banyak yang bilang kerja di galangan kapal itu panas. Kerjanya setiap saat berhadapan dengan besi-besi, percikan api dan umumnya di tempat terbuka yang terpapar matahari langsung.

Tapi apa pun pekerjaan itu, cintailah dan lakukan dengan sepenuh hati. Karena mungkin banyak orang di luar sana yang sebenarnya sangat mengidamkan pekerjaan kita sekarang. Bener kan?

Referensi:

  • Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor 186 Tahun 1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja;

  • Instruksi Menteri Tenaga No. INS.11/M/BW/1997 tentang Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan Kebakaran;

  • Standard fo Fire Prevention During Welding, Cutting, and Other Hot Work, NFPA 51B 2009 Edition

Penerapan K3 Galangan Kapal: Confined Space Entry

salah satu ruang terbatas di kapal adalah tangki kompartemen

Masih seputar pekerjaan di galangan kapal. Dalam pengerjaan sebuah konstruksi kapal, salah satu kegiatan yang tak dapat dihindari adalah aktivitas di dalam ruang terbatas. Bekerja di ruang terbatas atau confined space entry (biasa disingkat CSE) merupakan pekerjaan yang penuh dengan resiko dan berpotensi menimbulkan kecelakaan fatal.

Oleh karenanya, pekerjaan CSE dapat dikatakan sebagai pekerjaan dengan major hazard potential (potensi bahaya besar). Sehingga dalam melakukan pekerjaan ini perlu persiapan yang baik guna menghindari kerugian besar, yang berupa kecelakaan fatal. Maka untuk melakukan pekerjaan CSE sesuai prinsip K3 perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Identifikasi Bahaya dan Pengendalian

Sangat penting untuk mengenali segala bentuk bahaya yang mungkin ada dalam suatu pekerjaan. Dengan mengetahui potensi bahaya yang ada, akan memberikan peluang bagi kita untuk melakukan pengendalian bahaya. Potensi bahaya pada pekerjaan CSE di galangan kapal meliputi:

Tekanan

Pada umumnya tangki kapal (kompartement) yang telah beroperasi dalam waktu yang lama akan terbentuk gas metan di dalamnya, sehingga saat akan membuka penutup tangki (manhole cover) perlu memperthatikan adanya tekanan dari dalam tangki. 

Petugas cleaning tangki yang biasa melakukan pembukaan cover manhole perlu menyisakan setidaknya empat baut sebagai penahan cover manhole jika sewaktu-waktu tekanan gas dari dalam tangki menekan keluar. membuka cover manhole.

Cerita pengalaman kerja di galangan kapal memberikan informasi bahwa pernah terjadi kasus di mana saat cover manhole dibuka, tiba-tiba tekanan yang berasal dari dalam tangki mendorong dengan kuat sehingga mengakibatkan cover manhole terlempar beberapa meter ke udara. Hal inilah yang perlu diwaspadai bagi pekerja saat hendak

Atmosfir yang buruk

Tangki bahan bakar (fuel tank) yang lama dalam keadaan tertutup (kedap udara) gas-gas berbahaya, seperti metan, H2S (hydrogen sulphida), CO (karbon monoksida). Kekurangan O2 oksigen juga perlu diwaspadai terjadi di dalam tangki, minimnya ventilasi ke dalam tangki menyebabkan suplai oksigen menjadi terbatas. 

Perlu diketahui bahwa kekurangan oksigen dapat mempengaruhi kesehatan pekerja, bahkan hanya dalam hitungan menit. Kadar oksigen normal bagi manusia berkisar antara 19-23%, lebih ataupun kurang daripada itu akan memberikan dampak buruk bagi manusia. 

Kekurangan oksigen bagi manusia menyebabkan perasaan lemah, pusing hingga tidak sadarkan diri. Dalam waktu yang lama dapat berakhir pada kematian. Dengan melakukan pengujian kadar oksigen di dalam tangki serta penambahan alat untuk ventilasi (blower) dapat menghindari kondisi tersebut.

Ruang sempit

Karakter tangki pada kapal berbeda-beda, untuk pekerjaan di dalam tangki yang sempit akan menambah kesulitan bagi pekerja dalam melakukan tugasnya. Tangki cover dam, ruang steering gear, fore peak, fuel tank dan lain-lain merupakan ruang-ruang sempit yang harus dimasuki oleh pekerja untuk melakukan pekerjaan. Posisi yang sempit menyebabkan pekerja harus bekerja dalam posisi yang kikuk. Bekerja dengan posisi yang tidak energonomi ini tentu menjadi beban tambahan bagi pekerja.

Bahaya tambahan dapat berasal dari aktivitas kerja di dalam tangki. Misalnya pekerjaan panas (hot work) di dalam tangki yang menghasilkan asap (CO), pekerjaan pengecatan menghasilkan uap cat yang bersifat beracun dan mudah terbakar, pekerjaan cleaning tangki yang menggunakan bahan pembersih yang dapat mengganggu kesehatan, semuanya perlu diwaspadai sebelum bekerja di dalam tangki. Untuk pekerjaan hot work, seperti penggunaan fuel cutting perlu memperhatikan peralatan (hose dan gun cutting) yang digunakan di dalam ruang terbatas.

Pastikan peralatan tersebut benar-benar bebas dari kebocoran, baik gas fuel (LPG/asetilin) atau oksigen. Kebocoran yang terjadi di dalam ruang terbatas akan mengurung gas sehingga berakumulasi dan dapat menimbulkan bahaya, baik berupa keracunan maupun kebakaran dan ledakan. Keluarkan peralatan cutting dari tangki jika sedang tidak digunakan atau saat pekerjaan telah selesai.

Terperosok

Keberadaan lubang (manhole) di maindeck tak jarang menjadi perangkap yang membahayakan saat cover manhole tersebut dibuka. Area kerja yang sempit dan gelap menjadi faktor semakin besarnya potensi bagi pekerja yang bekerja di area manhole terbuka untuk terperosok ke dalam tangki. 

Memasang penanda yang jelas pada manhole, memasang hard barricade pada area manhole yang terbuka, memberikan pencahayaan yang cukup pada area kerja dapat dilakukan untuk menurunkan risiko orang terperosok ke dalam tangki.

Terjebak (Engulfment)

Tangki manhole seringkali menjadi “lubang maut” bagi pekerja di galangan kapal. Pekerja yang masuk dan bekerja di dalam tangki tidak diketahui keberadaannya oleh pekerja lain. Saat pekerja sedang melakukan kegiatan pekerjaan di dalam tangki, tiba-tiba ada pekerja lain yang menutup manhole tanpa menyadari keberadaan pekerja yang masih ada di dalam tangki. Kejadian mengerikan ini bukan angan-angan kosong yang mustahil terjad. Pengawas di lapangan sangat perlu memperhatikan potensi bahaya ini. 

Dengan selalu memperhatikan kondisi karyawan yang masuk ke dalam tangki diharapkan dapat mencegah kejadian pekerja yang terjebak di dalam tangki. Di dalam pedoman bekerja ruang terbatas, pemerintah Indonesia telah menegaskan perlu adanya petugas pengawas (attendance) pada setiap tangki yang akan dikerjakan. Tugas dari attendance ini adalah untuk selalu memantau kondisi pekerja di dalam tangki dan bertugas sebagai penyampai informasi tentang keadaan di dalam maupun di luar tangki.

Listrik

Bekerja di tangki yang terbatas pencahayaannya mengharuskan pekerja menggunakan bantuan penerangan di dalam tangki. Menggunakan lampu berarti memerlukan arus listrik yang harus dimasukkan ke dalam tangki. Sementara jalur untuk keluar masuk hanya ada satu manhole, sehingga potensi pekerja tersengat arus listrik sangat mungkin terjadi. Dengan selalu memperhatikan jalur kabel power listrik, memastikan bahwa kabel power yang digunakan dalam kondisi utuh, tidak ada kebocoran isolasi. 

Penggunaan lampu charge tentu sangat dianjurkan untuk mengurangi resiko sengatan arus listrik. Namun kembali lagi kepada kemampuan perusahaan, karena ini menyangku biaya. Apakah perusahaan mau mengeluarkan sedikit tambahan biaya agar pekerjanya dapat bekerja lebih aman?, di sinilah peran seorang HSE officer untuk melakukan negosiasi kepada pimpinan agar kecelakaan dapat dicegah.

Panas

Bekerja di dalam tangki kapal dengan ventilasi yang minim serta kalor sinar matahari yang terkonduksi pada pelat menyebabkan suhu di dalam tangki semakin meningkat. Ancaman dehidrasi maupun heat stress sangat perlu diwaspadai bagi pekerja di dalam tangki. Guna menekan resiko dehidrasi, maka karyawan perlu mengkonsumsi air yang cukup, serta mengatur waktu kerja di dalam tangki. 

Dengan pembatasan waktu kerja di dalam tangki, serta mengatur penjadwalan kerja (misalnya untuk pekerjaan di dalam tangki dilakukan pada pagi hari untuk menghindari suhu panas yang meningkat di dalam tangki akibat paparan sinar matahari).

Langkah Mitigasi dalam Situasi Darurat

Hal ironis seringkali terjadi pada kecelakaan di dalam tangki/ruang terbatas. Beberapa kejadian yang disampaikan oleh media massa tentang kecelakaan di ruang terbatas, di mana korban justru bertambah saat hendak menolong korban. Kurangnya pengetahuan terhadap bahaya yang ada menyebabkan orang bertindak salah. Ada pepatah yang dipopulerkan oleh City of Anderson, SC – Fire Department bahwa The difference between a hero and a fool is training.

Pengusaha/Pengurus harus menyiapkan tim rescue atau petugas khusus yang terlatih untuk melakukan pertolongan dengan cepat jika terjadi kondisi darurat di dalam ruang terbatas. Tim rescue ini selain terlatih juga harus dilengkapi dengan fasilitas untuk melakukan pertolongan dengan aman, misalnya triangle. Perlu diperhatikan, kurangnya keterampilan petugas penolong sangat mungkin memperburuk situasi.

Sumber Referensi:

  • Keputusan Dirjen Binwasnaker No. Kep. 113/DJPPK/IX/2006 tentang Pedoman dan Pengawasan Teknis Keselamatan dan Kesehatan Kerja Ruang Terbatas (Confined Spaces);
  • Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. No. SE. 01/MEN/PPK/IV2012 tentang Pemenuhan Kewajiban Syarat-Syarat Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Ruang Terbatas/Confined Spaces;
  • Shipyard Industry Standards U.S. Department of Labour Occupational Safety and Health Administration OSHA 2268-10R 2014

Keselamatan Bekerja di Ketinggian

Dalam proses pekerjaan konstruksi kapal, baik untuk pembangunan kapal baru atau pekerjaan repair diperlukan banyak aktifitas bekerja di ketinggian (working at height). 

Pekerjaan-pekerjaan di galangan kapal yang mengharuskan aktifitas kerja di ketinggian di ataranya; proses fit up, di mana petugas fitter harus menjangkau titik-titik yang hendak dipadukan (fitting). Demikian pula halnya dengan kegiatan pengelasan (welding), petugas las pun harus mencapai secara keseluruhan bagian-bagian yang akan dilas.

Tidak hanya sampai di situ, pada kegiatan pengujian mutu (quality control inspection), proses grinding, proses painting dan lain-lain. Dapat dipastikan bahwa pekerjaan pada ketinggian merupakan salah satu aktifitas pokok dalam proses produksi di galangan kapal.

Definisi Bekerja di Ketinggian

Berdasarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI, Nomor 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan pada Ketinggian, disebutkan bahwa: 

Bekerja pada ketinggian adalah kegiatan atau aktifitas pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kerja pada tempat di permukaan tanah atau perairan yang terdapat perbedaan ketinggian dan memiliki potensi jatuh yang menyebabkan tenaga kerja atau orang lain yang berada di tempat kerja cedera atau meninggal dunia atau menyebabkan kerusakan harta benda.”

Jika melihat definisi yang tercantum dalam Permenaker tersebut, maka pekerjaan di ketinggian pada aktifitas galangan kapal meliputi: pekerjaan di perancah (scaffolding), pekerjaan di maindeck, pekerjaan menggunakan man lift, pekerjaan menggunakan akses berupa tangga (ladder), dan pekerjaan lain yang memiliki potensi orang terjatuh dari permukaan yang berbeda. 

Potensi Bahaya Bekerja di Ketinggian

Pekerjaan di ketinggian dikatakan sebagai pekerjaan dengan bahaya besar (major hazard), karena dapat menyebabkan kecelakaan yang fatal (kematian). Berbagai kasus kecelakaan terjatuh dari ketinggian, sebagian besar kasus berakibat pada kematian. Faktor yang mempengaruhi tingkat keparahan saat terjatuh adalah kondisi area kerja.

Bahaya utama bekerja di ketinggian adalah terjatuh dari ketinggian. Namun selain itu, bahaya lain yang penting untuk diperhtikan adalah seluruh area yang terdampak aktivitas kerja di ketinggian. 

Potensi bahaya tertimpa peralatan kerja, tertimpa material sangat mungkin mengibatkan cedera yang fatal, sehingga wajib untuk dilakukan pencegahan sebelum melakukan pekerjaan. 

Seperti diketahui, bahwa pekerjaan di galangan kapal hampir secara keseluruhan yang dikerjakan adalah logam. Pemotongan dan penggabungan bagian-bagian kapal yang dikerjakan di ketinggian sewaktu-waktu dapat terjatuh dan menimpa apa saja yang ada di bawahnya.

Langkah-langkah Bekerja Aman di Ketinggian

Dengan persiapan yang baik dan benar tentu sangat diperlukan untuk mencegah kemungkinan terburuk dari aktifitas kerja di ketinggian. Bekerja pada ketinggian wajib memenuhi persyaratan K3 yang meliputi: Perencanaan, prosedur kerja, teknik bekerja aman, APD, perangkat pelindung jatuh dan tenaga kerja.

Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan saat bekerja di ketinggian:

  • Persiapkan lokasi untuk bekerja di ketinggian, pasang handrail/guardrail pada permukaan yang terbuka untuk pencegah terjatuh dari ketinggian;
  • Berikan pembatas (barricade tape/safety line) pada bagian bawah yang akan dikerjakan untuk mencegah orang melintas atau berlalu-lalang di bawah aktifitas kerja di ketinggian;
  • Guna menghindari tersandung, terpeleset, atau terjatuhnya material dari ketinggian maka perlu untuk selalu menjaga kebersihkan dan kerapihan material atau pun peralatan kerja, khususnya di tempat berjalan kaki (walkway);
  • Untuk mencegah bahaya kebakaran, sebelum melakukan pekerjaan panas di ketinggian, wajib untuk terlebih dahulu memindahkan atau melindungi material-material yang mudah terbakar di sekitar area kerja terdampak;
  • Untuk setiap akses di ketinggian harus dalam kondisi pencahayaan cukup dan dapat terlihat dengan jelas;
  • Untuk mencegah dari bahaya tertimpa, maka persiapkan jalur khusus bagi pekerja bagi pekerja lain agar terhindar dari bahaya tertimpa;
  • Bagi pekerja di ketinggian dilarang menjatuhkan atau melempar material maupun peralatan kerja;
  • Bila menggunakan scaffolding, pastikan scaffolding terpasang dengan aman dan kuat, pijakannya stabil, dan terpasang pagar pengaman;
  • Mintalah pengawas untuk memeriksa kelayakan scaffolding;
  • Pilih tangga yang standar untuk bekerja di ketinggian, perhatikan sudut kemiringan dan posisi tangga harus stabil serta pastikan tangga dalam kondisi baik.
  • Setelah pekerjaan selesai, bersihkan area kerja dan rapikan peralatan seperti semula.
  • Laporkan pada atasan jika anda menemukan potensi bahaya terjatuh atau kecelakaan terjatuh di area kerja. Hentikan pekerjaan bila diperlukan sampai kondisi benar-benar aman untuk kembali melanjutkan pekerjaan.
  • Jika diperlukan, pakai alat pelindung jatuh (full body harness) saat bekerja di ketinggian. Pastikan anda menggunakan alat pelindung diri yang tepat dan peralatan dalam kondisi baik.

Demikian gambaran dan saran-saran keselamatan bekerja pada ketinggian di galangan kapal. Bagi rekan-rekan yang memiliki pengalaman ataupun gagasan tentang K3L di galangan kapal, sangat diharapkan kesediannya untuk saling berbagi ilmu. Semoga bermanfaat.

Sumber Referensi

  • Undang-Undang No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan  Kerja;
  • Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI No. 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan pada Ketinggian;
  • Shipyard Industry Standards, U.S. Department of Labour Occupational Safety and Health Administration OHSA 2268-10R 2014

Penerapan K3 Galangan Kapal

Sebagai negara maritim, Indonesia tentu tidak bisa lepas dari moda transportasi air, yakni kapal. Untuk mendukung ketersediaan armada laut ini, maka industri galangan kapal adalah suatu kebutuhan yang mutlak bagi Indonesia.

Keberadaan galangan kapal mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi bangsa, di antaranya dalam hal penyerapan tenaga kerja. Ini adalah sebuah peluang dan sekaligus tantangan, melihat kondisi industri galangan yang belum sepenuhnya dikelola dengan baik.

Dari pantauan langsung di lapangan, secara pribadi saya melihat industri ini seolah terbebas dari pengawasan. Dan sebagai pekerja di bidang keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L), hal yang menjadi fokus perhatian saya tentunya adalah persoalan keselamatan tenaga kerja dan pengendalian dampak terhadap lingkungan.

Dalam tulisan ini, saya ingin membahas tentang penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di lingkup industri galangan kapal. Prinsip dasar keselamatan kerja adalah mengidentifikasi potensi-potensi bahaya dan melakukan upaya pencegahan atau pengendalian resiko hingga pada tingkat atau level yang paling rendah atau ringan.

Untuk melakukan identifikasi potensi bahaya, terlebih dahulu kita perlu mengenal proses produksi atau flow process. Di galangan kapal terdapat berbagai item pekerjaan yang memiliki potensi bahaya berdampak fatal. Oleh karena itu perlu dilakukan langkah-langkah pengendalian bahaya guna menekan resiko timbulnya kerugian, baik kepada perusahaan atau pun pekerja.

Berikut adalah jenis-jenis aktivitas pekerjaan di galangan kapal beserta gambaran potensi bahaya yang menyertainya:

Working at Height (Bekerja di Ketinggian)

Salah satu aktivitas kerja di galangan kapal adalah bekerja di ketinggian (working at height). Kebutuhan bekerja di ketinggian ini untuk menjangkau bagian-bagian kapal yang sedang dikerjakan. Bekerja di ketinggian termasuk kategori pekerjaan yang memiliki resiko kecelakaan dengan dampak fatal. 

Beberapa potensi bahaya terkait bekerja di ketinggian, di antaranya: terjatuh dari ketinggian, terperosok, posisi kerja terbatas atau gerak tubuh yang kikuk (tidak ergonomi), dan potensi orang tertimpa peralatan atau material.

Oleh sebab itu, sebelum melakukan pekerjaan di ketinggian perlu adanya persiapan-persiapan untuk mengendalikan potensi bahaya yang ada. Sebagai acuan regulasi untuk keselamatan bekerja di ketinggian, kita dapat merujuk kepada Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan pada Ketinggian.

Berdasarkan regulasi tersebut, upaya pencegahan kecelakaan dapat dilakukan dengan cara penyediaan akses bekerja di ketinggian, mengurangi aktivitas di ketinggian (jika memungkinkan), memasang pembatas pada permukaan-permukaan yang terbuka, penggunaan alat work restraint untuk pencegahan jatuh. Dan sebagai langkah terakhir adalah penggunaan full body harness sebagai alat pelindung jatuh.

Confined Sace Entry (BeKerja di Ruang Terbatas)

Kegiatan di ruang terbatas (confined space entry) merupakan aktivitas yang tidak dapat dihindari dalam proses produksi di galangan kapal. Pembuatan atau perbaikan ruang-ruang tangki bahan bakar atau kompartemen mengharuskan pekerja untuk beraktivitas di ruang terbatas.

Beberapa pekerjaan yang biasanya harus dilakukan di ruang terbatas antara lain: inspection (pengecekan) yang dilakukan oleh petugas quality control (QC) atau oleh petugas surveyor dari pemerintah (Biro Klasifikasi Indonesia), kegiatan cleaning tank, bahkan pekerjaan panas (hotwork) seperti pemotongan menggunakan flame cutting, pengelasan (welding), dan lain sebagainya. 

Agar pekerjaan dapat dilakukan dengan aman, maka diperlukan upaya untuk mengidentifikasi potensi bahaya yang berkaitan dengan pekerjaan di ruang terbatas. Perlu diketahui bahwa potensi bahaya terkait pekerjaan di ruang terbatas cukup beragam dan dapat berakibat fatal jika gagal dalam melakukan pengendalian resiko.

Ancaman bahaya bekerja di ruang terbatas meliputi: kekurangan oksigen, kekurangan pencahayaan, ketakukan tak beralasan (claustrophobia), potensi gas berbahaya (metan, CO dan H2S), potensi terjatuh, terperosok bahkan  terperangkap (engulfment) di dalam ruang terbatas. 

Selain bahaya yang disebabkan oleh karakteristik ruang terbatas, potensi bahaya juga dapat dikarenakan oleh peralatan kerja yang digunakan. Misalnya, kebutuhan pencahayaan dan alat sirkulasi udara (blower) menimbulkan adanya resiko bahaya arus listrik. 

Kerja panas (hot work) di dalam ruang terbatas juga dapat menambah, yakni potensi bahaya ledakan, keracunan uap atau asap dari pekerjaan, atau turunnya kadar oksigen akibat terdesak gas yang dihasilkan oleh pekerjaan panas.  

Regulasi pemerintah tentang keselamatan bekerja di ruang terbatas tertuang dalam Keputusan Dirjen Pembinaan dan  Pengawasan Ketenagakerjaan Nomor IX tahun 2006 tentang Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Ruang Terbatas (confined space entry).

Hot Work (Kerja Panas)

Proses produksi di galangan kapal tidak dapat terlepas dari berbagai aktivitas kerja panas (hot work). Dimulai dari proses pemotongan (cutting) material, perakitan bagian-bagian (fit up), pekerjaan pengelasan (welding), pemanasan permukaan (firing), gouging, brazing grinding dan lain sebagainya.

Karakteristik kerja panas yang melibatkan atau menghasilkan nyala api berpotensi menimbulkan resiko kebakaran maupun ledakan. Percikan logam panas dan api terbuka berpotensi menimbulkan luka bakar ringan hingga tingkat yang serius terhadap pekerja.

Demi keselamatan dalam bekerja, perlu dilakukan langkah-langkah pengendalian bahaya sebelum memulai kerja panas, antara lain: pengecekan sebelum bekerja (hot work checklist), penerbitan izin kerja panas (hot work permit), dan upaya mitigasi lain yang diperlukan terkait bahaya kebakaran dan ledakan.

Regulasi pemerintah Republik Indonesia yang mengatur tentang penanggulangan bahaya kebakaran dan ledakan di perusahaan antara lain:  

  • Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor: 04 Tahun 1980 tentang Syarat-Syarat Pemasangan APAR,
  • Instruksi Menteri Tenaga Kerja Nomor: INS. 11/M/BW/1997 tentang Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan Kebakaran,
  • Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor: 186 Tahun 1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja.

High Pressure Equipment (Bekerja dengan Alat Bertekanan)

Alat kerja bertekanan (high pressure equipment) yang dimaksud di sini adalah peralatan yang melibatkan adanya wadah terisi gas atau udara bertekanan. Wadah tersebut biasa juga disebut bejana bertekanan. Pada umumnya di galangan menggunakan bejana bertekanan, seperti tabung oksigen (O2 cylinder), kompresor dan sand pot blasting. Beberapa galangan juga menggunakan air bag atau balon untuk proses penarikan dan penurunan kapal .

Seperti diketahui bahwa oksigen merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kegiatan pemotongan (cutting) dan fitting, sehingga pekerjaan di galangan kapal tidak dapat terlepas dari penggunaan tabung oksigen. Sementara itu, kompressor digunakan dalam aktivitas antara lain pekerjaan sand blasting, water jetting, kegiatan memompa airbag, maupun pada pekerjaan pengecatan (spray painting).

Beberapa aktivitas lain di galangan kapal juga melibatkan tekanan tinggi, seperti kegiatan uji kebocoran tangki kompartemen dengan metode air test, yakni dengan memompa udara ke dalam kompartemen menggunakan kompressor, lalu kemudian memeriksa hasil pengelasan (welding) pada setiap sambungan pelat. Kegiatan uji kebocoran dengan metode hydrotest juga memanfaatkan tekanan tinggi untuk menguji kebocoran sistem perpipaan di kapal.

Kebutuhan produksi di galangan kapal mengharuskan bekerja menggunakan peralatan bertekanan. Mengingat resiko kecelakaan yang berpotensi ditimbulkan dapat berakibat fatal, maka demi keselamatan diperlukan upaya pengendalian resiko secara maksimal. Bahaya utama dari pekerjaan bertekanan adalah potensi ledakan. Sehingga dalam penggunaannya perlu penanganan khusus agar resiko terkait dapat diminimalisir.

Syarat kelayakan suatu bejana bertekanan perlu dibuktikan dengan adanya sertifikat konstruksi bejana dan surat izin penggunaan dari dinas tenaga kerja RI. Selain persyaratan izin, pengujian dan perawatan secara berkala oleh internal pengurus juga wajib dilakukan. 

Sebagai bahan dalam upaya penerapan keselamatan penggunaan bejana bertekanan, pemerintah RI telah menerbitkan regulasi berupa  Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bejana Tekanan dan Tangki Timbun.

Bekerja di Tepi Permukaan Air

Terkadang, dalam kondisi tertentu, proses produksi mengharuskan pekerjaan dilakukan di atas atau di tepi permukaan air. Pekerjaan itu meliputi proses mooring kapal yang akan melakukan docking, maupun perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan selama kapal tertambat.

Pada aktivitas menyeberang dari jetty menuju kapal, atau saat perpindahan pekerja dari kapal ke kapal memiliki potensi orang terjatuh. Resiko terjatuh ke air dapat berakibat kematian. Penyebabnya beragam, karena tidak mampu berenang, terbawa arus atau mengalami benturan sehingga tidak sadarkan diri dan tenggelam.   

Dengan beberapa kejadian serupa di tempat lain dalam industri yang sama mengisyaratkan bahwa resiko pekerja terjatuh ke air cukup tinggi. Oleh sebab itu, pekerjaan di atas atau di tepi permukaan air perlu mendapatkan perhatian dari pihak manajemen perusahaan.

Berbagai cara pengendalian bahaya bekerja di tepi/atas permukaan air dapat ditempuh dengan menyediakan pagar (guard rail) pada bagian tepi. Akses untuk naik dan turun dari kapal juga perlu dipersiapkan. Jika tidak memungkinkan untuk pemasangan guard rail, maka perlu ditetapkan aturan penggunaan alat pelindung diri berupa pelampung (life jacket) saat berada di tepi atau di atas permukaan air. 

Painting (Pengecatan)

Painting atau pengecatan pada konstruksi kapal, selain untuk memberikan warna yang menarik juga sebagai pelapis (coating) terhadap permukaan logam untuk mencegah proses terbentuknya karat (korosi). Mengingat bahwa permukaan lambung kapal akan menghadapi medan yang ekstrem, maka bahan cat yang digunakan pun berupa bahan khusus.

Namun sayangnya, karena kebutuhan bahan cat yang khusus tersebut juga membawa resiko buruk terhadap kesehatan manusia dan biota di lingkungan sekitar. Sehingga dalam penggunaan cat perlu diperhatikan, mulai dari penyimpanan, pengangkutan, proses pemakaian hingga pasca penggunaan cat. Limbah dari kegiatan ini dapat berupa sisa cat dan thinner, maupun kaleng yang tercemar.

Pekerjaan painting di dalam ruangan/tangki juga merupakan bagian pekerjaan beresiko tinggi. Uap dari aktivitas pengecatan yang terakumulasi di dalam tangki, dapat menimbulkan kebakaran dan ledakan. Hal itu sangat mungkin terjadi, baik pada saat proses pengaplikasian cat maupun setelah pekerjaan selesai dilakukan. 

Demi alasan keselamatan dalam pekerjaan painting, wajib memperhatikan informasi yang ada di dalam material safety data sheet (MSDS) produk cat, dan regulasi pemerintah yang mengatur tentang hal ini. 

Sebagai bahan rujukan, kita dapat melihat beberapa regulasi pemerintah berikut ini; 

  • Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No.KEP. 187/MEN/1999 tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja,
  • Peraturan Menteri Tenaga Kerja,  Transmigrasi Nomor Per.13/Men/X/2011 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja,
  • SNI 19-0232-2005 Nilai Ambang Batas (NAB) zat kimia di udara tempat kerja.

Lifting Operation (Operasional Pengangkatan)

Di dalam proses menyatukan (assembling) bagian-bagian konstruksi kapal diperlukan bantuan pesawat angkat dan angkut untuk melakukan operasional pengangkatan (lifting operation). Macam-macam pesawat angkat yang biasa digunakan antara lain: forklift, tower crane, overhead crane dan mobile crane, dll.

Penggunaan pesawat angkat dan angkut memiliki bermacam potensi bahaya yang harus dicegah untuk menghindari kerugian. Diperlukan persiapan-persiapan sebelum melakukan aktivitas. Baik kesiapan alat, operator maupun metode pengoperasiannya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait kegiatan pengangkatan adalah; pesawat angkat dan angkut dalam kondisi layak dioperasikan. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya sertifikat atau surat kelayakan dari badan atau pihak berwenang, dalam hal ini adalah Dinas Tenaga Kerja.

Selain pesawat angkat dan angkut dalam kondisi layak, operator juga harus merupakan orang-orang yang telah terlatih. Hal itu dibuktikan dengan sertifikat pelatihan serta surat izin operasional dari Kementerian Tenaga Kerja RI.

Jika alat angkat dan angkut, operator telah memenuhi persyaratan, maka selanjutnya adalah metode atau prosedur dalam operasional pengangkatan. Tim yang bertugas melakukan pengangkatan harus memahami dengan benar antara kemampuan alat angkat dan beban yang akan diangkat. Petugas yang biasanya melakukan ini di perusahaan adalah seorang juru ikat atau rigger.

Olah gerak pesawat angkat dan angkut, area-area kerja, serta orang-orang yang mungkin terdampak aktivitas pengangkatan harus diperhatikan. Jika diperlukan, tim yang melakukan kegiatan pengangkatan dapat memasang pembatas area (barricade), untuk mencegah orang lain masuk ke area berbahaya.

  • Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No 5 Tahun 1985 tentang Pesawat Angkat dan Angkut;
  • Peraturan Menteri tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor 9 Tahun 2010 tentang Operator dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut

Electrical (Penggunaan Tenaga Listrik)

Untuk kebutuhan mesin las, mesin gerinda, blower, lampu penerangan area kerja, pompa listrik, dan berbagai macam kebutuhan lainnya yang memerlukan tenaga listrik. Sehingga fungsi tenaga listrik cukup penting dalam aktivitas produksi di galangan kapal.

Aktivitas kerja di galangan pada umumnya dilakukan di tempat terbuka dan berpindah-pindah titik. Sehingga peralatan listrik yang digunakan bersifat sementara (temporary). Kondisi demikian tentu menambah resiko sewaktu-waktu jaringan listrik dapat terjadi kebocoran disebabkan karena penggunaannya selalu berpindah-pindah. 

Penggunaan tenaga listrik di outdoor juga perlu menjadi perhatian bagi pekerja, bahwa resiko akan meningkat jika peralatan kelistrikan dalam kondisi basah akibat terkena hujan. Demi keselamatan, penggunaan peralatan kelistrikan yang kedap air (water proof) sangat dianjurkan.

Selain itu, perlengkapan keselamatan untuk peralata juga harus dilengkapi, misalnya autobreker panel listrik yang mampu memutuskan arus secara otomatis jika terjadi hubungan singkat (short circuit). Pemasangan pembumian (grounding) dan pengecekan alat kelistrikan secara rutin untuk memastikan isolatornya dalam kondisi utuh.

Sebagai pedoman dalam menyediakan dan menggunakan  tenaga listrik secara aman dapat mengacu pada Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2011.

Radiography Test (Uji Radiografi)

Tahap akhir pembangungan konstuksi kapal sebelum dilakukan coating adalah pengujian untuk memastikan ketahanan konstruksi. Pengujian dilakukan pada titik-titik hasil pengelasan di setiap sambungan.

Salah satu metode pengujian yang umum dilakukan adalah uji tidak rusak (Non Destructive Test) dengan menggunakan kamera radioaktif atau X-Ray. Dari gambar yang didapatkan akan memperlihatkan hasil pengelasan secara keseluruhan. 

Seperti dijelaskan dari berbagai sumber tentang dampak paparan radioaktif, yakni dapat menimbulkan efek somatik maupun genetik. Sehingga bukan hal yang berlebihan jika berurusan dengan radioakatif harus ekstra berhati-hati, baik dalam penyimpanan, pengangkutan maupun penggunaannya.

Untuk upaya menurunkan resiko terjadinya paparan radioaktif ini, perlu mempertimbangkan tingkat urgensi penggunaannya. Jika memungkinkan, sebaiknya menggunakan metode pengujian lain namun memiliki fungsi yang sama. Atau biasa disebut dengan metode subtitusi.

Namun, jika sekiranya penggunaan radioaktif benar-benar harus dilakukan, maka langkah-langkah untuk keselamatan wajib dilakukan secara maksimal.

Upaya keselamatan yang dapat dilakukan di antaranya; penyerahan pekerjaan kepada pihak eksternal yang memang secara khusus menangani masalah radioaktif. Membatasi atau mengisolasi area yang terdampak, sehingga menurunkan resiko orang lain terpapar.

Beberapa regulasi pemerintah RI yang mengatur tentang radioaktif:

  1. Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 7 Tahun 2009 tentang Keselamatan Radiasi dalam Penggunaan Peralatan Radiografi Industri;
  2. Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 Tahun 2008 tentang Perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuklir;
  3. Peraturan Pemerintah RI Nomor 33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan  Keamanan Sumber Radioaktif.

Ada banyak lagi aktivitas-aktivitas kerja di galangan yang memiliki potensi bahaya dan perlu diidentifikasi untuk dilakukan pengendalian guna mencegah terjadinya kecelakaan. Di dalam prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3),  semakin banyak  potensi bahaya dari suatu pekerjaan yang teridentifikasi, maka semakin lengkap pula upaya pengendalian yang dapat dilakukan. Sehingga dengan begitu, resiko dapat diturunkan. 

sumber:

1. Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Direktorat Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan R.I; 

2. Shipyard Industry Standards, U.S. Department of Labour, Occupational Safety and Health Administration, OHSA 2268-10R 2014