Keselamatan Kerja Radiografi Di Galangan Kapal

Peralatan Radiografi

Guna memastikan kekuatan struktur bangunan sebuah kapal, petugas quality control (QC) harus melakukan pengujian kualitas. Salah satu metode pengujian yang digunakan adalah uji tak rusak (non destructive test) yakni menggunakan peralatan radiografi.

Teknis pelaksanaan uji radiografi ini dengan melakukan pengambilan gambar (foto) menggunakan kamera pemancar radiografi ke titik-titik yang ingin diuji. Bentuknya hampir mirip dengan pengambilan foto thorax di ruang rontgen, namun objek di sini adalah sebuah bangunan kapal.

Dari segi akurasi hasil pengujian dan biaya yang diperlukan, menjadikan uji radiografi sebagai metode pengujian yang sering digunakan pada project pembangunan kapal. Namun di balik manfaatnya tersebut, pengurus perusahaan harus memperhatikan faktor keselamatan dari risiko yang mungkin timbul.

Kamera radiografi yang digunakan untuk mengambil gambar saat uji NDT

Peralatan radiografi ini menggunakan zat radioaktif dan/atau pembangkit radiasi pengion, yakni sumber radiasi dalam bentuk pesawat sinar-X dengan energi di bawah 1 (satu) MeV dan pesawat energi tinggi dengan energi sama atau di atas 1 (satu) MeV.

Saya tentu tidak akan membahas tentang kamera atau peralatan radiografi ini secara detail, karena saya bukan ahlinya. Namun dari pengalaman kegiatan di lapangan, beberapa informasi berikut bisa saya bagikan.

Pengendalian Risiko

Hal paling utama dalam pengendalian risiko adalah menghilangkan (eliminasi) sumber atau mengganti (subtitusi) dengan material atau metode yang dinilai lebih aman. Namun jika kedua langkah tersebut tidak memungkinkan, maka diperlukan upaya lain untuk mengontrol bahaya.

1. Menggunakan Jasa Eksternal

Pada umumnya, perusahaan akan meminta pihak ketiga (instansi yang memiliki legalitas) untuk melakukan uji radiografi. Alih-alih menyimpan peralatan dan merekrut operator yang semuanya harus memenuhi persyaratan perizinan yang cukup ribet. Dengan menggunakan jasa pihak eksternal, ini dinilai lebih efektif. Tentu tergantung dengan kebutuhan di perusahaan.

Dari faktor keselamatan, menggunakan jasa pihak eksternal untuk melakukan pengujian radiografi adalah pilihan tepat. Perusahaan hanya perlu mengajukan penawaran pekerjaan, lalu pihak penguji radiografi datang ke lokasi pengujian dengan membawa peralatan, melakukan proses uji, dan kemudian pergi setelah memberikan hasil pengujian.

Keuntungan menggunakan jasa eksternal untuk melakukan uji radiografi di antaranya tidak perlu mengurusi segala jenis perizinan untuk menggunakan zat radioaktif, tidak perlu orang atau tenaga kerja khusus operator radiografi (OR), ahli radiografi (AR).

2. Persiapan Administrasi

Persiapan administrasi atau metode dalam pelaksanaan uji radiografi. Kita dapat menggunakan Job safety analysis (JSA) atau work permit khusus pekerjaan radioaktif (x-ray) untuk dijadikan pedoman dalam pengendalian risiko. Biasanya, perusahaan jasa uji radiografi yang memiliki sistem administrasi keselamatan kerja yang baik, mereka sudah menyiapkan identifikasi daftar potensi bahaya dan analisa risiko lengkap beserta dengan statment metodenya.

Pastikan juga memeriksa kelengkapan kalibrasi alat, baik peralatan kamera radiografi, dan kalibrasi alat detector radiasi. Ini penting untuk memastikan peralatan berfungsi dengan baik dan hasilnya akurat. Selain sertifikat kalibrasi alat, sertifikat kompetensi operator juga perlu. Jangan ragu untuk meminta bukti kepada pihak perusahaan jasa berupa sertifikat operator radiografi dan ahli radiografi.

Dengan kelengkapan administrasi tersebut, perusahaan akan memiliki jaminan hukum jika sewaktu-waktu terjadi hal tak diinginkan selama proses uji radiografi. Ini penting untuk diketahui oleh pengurus perusahaan, khususnya pengawas K3 atau HSE officer.

3. Langkah Aman Dalam Pelaksanaan Uji Radiografi

Sebelum memulai pekerjaan pengujian, penting untuk setiap orang yang terlibat mengetahui secara detail langkah-langkah dan apa risikonya. Terutama apabila petugas atau operator radiografi ini memerlukan bantuan dari pihak yang awam terhadap cara kerja radiografi. Untuk itu perlu dipastikan tercantum dalam JSA beberapa hal berikut:

  • Penetapan daerah pengendalian, ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh area yang akan terdampak dari kegiatan uji radiografi ini.
  • Petugas yang terlibat, operator dan helper, atau mungkin ada tambahan personel untuk tugas membantu lainnya. Mereka semua harus diberitahu dan benar-benar paham tentang langkah aman dalam pekerjaan ini.
  • Langkah-langkah kerja disertai potensi bahaya dan saran pengendalian untuk mengantisipasi potensi bahaya tersebut. Semakin detail diketahui apa potensi bahaya yang mengancam, maka semakin baik pula kesiapan untuk mengontrol risikonya.
  • Pengamanan atau penutupan area untuk sementara (bila diperlukan). Jika area kerja merupakan tempat yang terbuka da memungkinkan ada pihak eksternal masuk ke area, maka penutupan area perlu dilakukan.
  • Pemberian batas, dengan memasang tali kuning atau barricade tape atau biasa lebih dikenal dengan police line.
  • Tanda bahaya, pasang tanda atau rambu K3 yang dapat memberikan informasi tentang adanya bahaya radiasi. Biasanya ada tanda khusus untuk radiasi. Menggunakan lampu flip flop juga bisa untuk menarik perhatian orang lain agar mengetahui bahwa sedang ada sesuatu yang khusus di area tersebut.

4. Perlengkapan Proteksi Radiasi

Berikut adalah beberapa peralatan yang digunakan untuk mengurangi risiko paparan radiasi saat melakukan pekerjaan uji radiografi:

  • Pendos
  • Survey meter
  • Kolimator
  • Tang penjepit bertangkai dengan panjang paling kurang 1 m (satu meter);
  • Lempeng Pb atau perisai radiasi lain yang setara dengan ukuran yang memadai;
  • Tanda radiasi;
  • Peralatan peringatan yang dapat dilihat dan/atau didengar;
  • Tali kuning;
  • Kontener
  • Tang potong bertangkai panjang, paling kurang 0,5 m (lima per sepuluh meter); dan
  • Go No Go gauge.

Pekerjaan radiografi adalah aktivitas yang jarang dilakukan di perusahaan dan kurangnya referensi menjadikannya terasa sulit untuk dipahami. Pengalaman terlibat dalam pekerjaan ini memaksa saya untuk mencari sebanyak mungkin informasi untuk memastikan pekerjaan di tempat saya bekerja berlangsung aman. Hal ini yang menjadi alasan untuk saya menuliskan informasi ini agar dapat memberikan sedikit gambaran.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa ini adalah pedoman yang valid, akan tetapi hanya sekedar tambahan informasi. Jika ingin mendapatkan informasi yang lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, anda dapat menghubungi pihak yang berwenang pada bidang ini, seperti BAPETEN misalnya.

Semoga tulisan ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembacanya, terutama bagi orang-orang yang sedang mengalami hal yang pernah saya alami (keterbatasan informasi K3 radioktif). Jika anda adalah ahlinya dan mendapati kekurangan dalam tulisan ini, mohon dikoreksi demi kita semua. Sebab kita sepakat, Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah tanggung jawab kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *