Mengenal Sumber Bahaya Kebakaran di Tempat Kerja

Nyala api merupakan salah satu kebutuhan manusia, bukankah begitu?. Memasak makanan, menghangatkan tubuh, memanaskan air untuk menyeduh kopi favorit, hingga menyalakan rokok bagi anda yang pecandu nikotin. Demikian banyak manfaatnya sehingga api tidak bisa dihilangkan dari kehidupan manusia. Namun sayangnya, ancaman kebakaran juka akan terus menyertai.

Api tidak bisa dihilangkan, ia akan terus ada sepanjang kehidupan manusia. Kita hanya perlu berdamai dan hidup berdampingan dengan api (seperti corona saja yah…). Agar bisa berdamai dengan api, maka kita perlu untuk mengenali sifat dan tahu dari mana munculnya.

Di dalam teori penanggulangan bahaya kebakaran dikenal beberapa sumber nyala api. Khusus di tempat kerja, berikut adalah sumber-sumber nyala api yang dapat berakibat kebakaran:

1. Aktivitas Pekerjaan

Kegiatan pekerjaan panas (hot work) yang tidak dipersiapkan dengan baik dapat menjadi penyebab terjadinya kebakaran dan ledakan di tempat kerja. Sekecil apa pun api yang dihasilkan, jangan pernah mengabaikannya. Karena syarat untuk penyalaan api tidak membutuhkan api besar, cukup dengan percikan bisa mengakibatkan kebakaran bahkan ledakan.

Nyala api dapat bersumber dari aktivitas pekerjaan di perusahaan. Coba perhatikan kegiatan pekerjaan yang ada di lingkungan tempat kerja. Apakah di antara aktivitas itu ada yang melibatkan nyala api atau menghasilkan percikan api?. Aktivitas kerja panas atau hot work antara lain:

  • pengelasan (welding),
  • gerinda (grinding),
  • oxyfuel cutting/flame cutting,
  • brazing, firing

Bahkan kegiatan memasak di dapur atau kantin perusahaan dapat menjadi sumber kebakaran yang perlu diwaspadai.

2. Material Kerja

Bahan-bahan material yang digunakan untuk keperluan produksi seringkali merupakan B3 (bahan berbahaya dan beracun). Di antara B3 ini ada yang sifatnya sangat mudah terbakar. Bahan-bahan seperti ini akan menimbulkan nyala jika suhu ruangan meningkat beberapa derajat saja. Bahkan ada yang dapat bereaksi antara satu dengan yang lainnya. Bertemunya dua material yang incompatible dapat memicu timbulnya nyala api tanpa perlu proses pemanasan terlebih dahulu.

Untuk mengenali sifat-sifat material kerja, kita dapat melihat petunjuk yang ada di kemasan atau lembar data keselamatan bahan (LDKB), atau istilah lainnya Safety Data Sheet (SDS). Substansi yang terkandung dalam B3 akan ditampilkan pada LDKB atau SDS tersebut. Lembaran ini akan menerangkan sifat bahan yang beracun, dapat terbakar (combustibel), mudah terbakar (flammabel) atau mudah meledak (explosive).

Bahan mudah meledak:

  • trinitrotoluene (TNT), biasanya digunakan untuk penghancuran gedung tua, atau peledakan di lokasi tambang
  • Ammonium nitrat, umumnya digunakan sebagai pupuk kaya nitrogen, dan campuran bahan peledak pada pertambangan, penggalian dan konstruksi sipil. 
  • nitroselulosa, sebagai bahan baku atau bahan penolong untuk proses produksi industri maupun keperluan militer

Bahan mudah terbakar:

  • butane
  • propane
  • aseton
  • benzene
  • Bensin
  • Solar
  • Aseton
  • Toluena

3. Peralatan Kerja

Kebakaran dapat bersumber dari peralatan kerja. Seperti kita saksikan peralatan kerja membutuhkan bahan bakar sebagai sumber energi. Selain bahan bakar, listrik juga merupakan energi penggerak peralatan kerja tersebut. Bahan bakar dan listrik merupakan sumber-sumber nyala api.

Motor penggerak yang menggunakan bahan bakar sebagai sumber energi dapat terbakar dalam kondisi tertentu. Misalnya overheat akibat kegagalan sistem pendingin pada engine. Buruknya sistem kelistrikan pada engine juga bisa memicu timbulnya api. Selain dari kedua hal itu, gesekan pada bagian-bagian yang bergerak atau berputar juga dapat menimbulkan nyala api pada peralatan kerja.

4. Listrik

Selain sistem kelistrikan pada engine, instalasi listrik di tempat kerja pada umumnya juga merupakan ancaman terhadap timbulnya sumber-sumber kembakaran. Korsleting atau short circuit, over beban pada kabel penghantar dan lain sebagainya. 

Pengisolasian kabel yang buruk dapat menyebabkan kebocoran listrik dan berakibat terjadinya hubungan singkat (short circuit) apabila saling bersentuhan satu dengan yang lain. Kekuatan hantar arus pada kabel listrik yang tidak diperhitungkan antara beban dengan kapasitas kabel dapat menimbulkan panas dan menyebabkan nyala api. 

5. Fenomena Alam

Nyala api dapat bersumber dari langit dan dari dalam bumi tempat kita berpijak. Petir dapat turun mengenai benda-benda di sekitar kita. Sementara gunung berapi yang aktif sewaktu-waktu dapat memuntahkan lava dari dalam perutnya. Fenomena alam ini dapat menjadi sumber nyala api dan mengakibatkan kebakaran.

Pada bulan April 2021 lalu, https://metro.tempo.co mengabarkan tentang kebakaran akibat sambaran petir di Gunung Putri Bogor yang menyebabkan mess TKA terbakar. Sementara pada Juli 2021 media www.kompas.id memberitakan bahwa 14,87 hektar hutan lereng Merapi terbakar akibat lontaran lava pijar dari gunung berapi.

6. Perilaku Manusia

Sikap dan perilaku manusia bisa menjadi penyebab bahaya kebakaran yang paling sering terjadi. Kurangnya pengetahuan dan kelalaian adalah dua hal yang kerap merugikan. Kebakaran skala kecil hingga yang besar sudah seringkali terjadi akibat perilaku manusia. Mengabaikan syarat-syarat keselamatan pencegahan kebakaran, atau dengan sengaja melakukan sabotase (arson), hingga yang paling sepele namun berakibat fatal, yakni merokok tidak pada tempatnya.

Kesimpulan

Api adalah kebutuhan manusia yang tidak bisa dihilangkan perannya dalam kehidupan. Mengendalikan bahaya kebakaran tidak dapat dilakukan dengan menghilangkan sumber-sumbernya, namun hanya perlu upaya pengendalian agar api tetap di dalam kontrol kia. Mengenali sumber-sumber bahaya kebakaran sangat penting untuk upaya pencegahan dan proteksi kebakaran.

Leave a Comment