Meningkatkan Keuntungan Perusahaan Melalui Penerapan K3

Photo by Adeolu Eletu on Unsplash

Momen bulan K3 Nasional Tahun 2020 merupakan tahun ke-50 sejak terbitnya undang-undang nomor 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja. Artinya 50 tahun sudah undang-undang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) itu berlaku.

Namun, dalam pidato sambutan Menteri Ketenagakerjaan RI pada upacara hari Keselamatan dan Kesehatan Kerja tahun 2020 menyatakan bahwa K3 belum sepenuhnya berjalan.

Dalam upaya promosi, selalu dihubungkan antara penerapan K3 dengan pertumbuhan ekonomi, perkembangan perusahaan, peningkatan keuntungan bagi perusahaan dan lain sebagainya.

Lalu apa hubungan K3 dengan ekonomi?

Pada suatu kesempatan, seorang teman di perusahaan pernah menanyakan hal tersebut kepada saya;

“apa hubungannya penerapan K3 dengan ekonomi nasional? Kata si teman tadi setelah melihat tulisan di spanduk yang berisi tema bulan K3 nasional tahun 2019.

Menurut saya, pertanyaan itu wajar bagi sebagian orang, terlebih yang masih awam terhadap K3. Pada umumnya orang memahami penerapan K3 sebagai beban bagi perusahaan. Karena ada biaya cukup besar yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk memenuhi perysaratan K3.

Kita ambil contoh misalnya dalam sebuah perusahaan konstruksi. Untuk satu orang pekerja konstruksi, perusahaan harus mengeluarkan biaya perlengkapan alat pelidung diri (sepatu keselamatan, helm keselamatan, baju coverall, kaca mata pelindung,  sarung tangan), dengan standar kualitas minimal, setidaknya menghabiskan  biaya Rp. 1.500.000,- per orang.

Ini baru bicara tentang alat pelindung diri, yang merupakan syarat paling dasar dari penerapan K3. Belum lagi jika di dalam proyek memerlukan aktivitas yang sifatnya beresiko tinggi, pekerjaan panas, high pressure, ruang terbatas, bekerja di ketinggian, menggunakan pesawat angkat dan angkut, dan lain sebagainya.

Tentu syarat K3 yang wajib dipenuhi semakin banyak lagi, dan biayanya pun akan bertambah besar. Biaya pelatihan dan sertifikasi, baik operator maupun peralatan. Biaya untuk penyediaan alat proteksi bahaya kebakaran, kelengkapan emergency, dan lain sebagainya.

Semakin tinggi resiko pekerjaan, semakin mahal pula anggaran penerapan K3 yang diperlukan.

Lantas bagaimana peranan K3 dalam meningkatkan keuntungan bagi sebuah perusahaan?. Berikut pemaparan tentang beberapa manfaat K3 bagi perusahaan:

Penerapan K3 mempengaruhi loyalitas karyawan

Pengusaha yang baik pasti memandang karyawannya sebagai asset paling berharga di dalam perusahaannya. Terutama karyawan yang sudah memiliki skill mumpuni.

Namun pengusaha harus memahami, bahwa semakin tinggi kualifikasi seorang karyawan maka semakin tinggi pula standar yang dia tetapkan bagi dirinya. Selain masalah salary, tunjangan fasilitas, mereka juga sudah akan memperhitungkan masalah keselamatan (safety).  

Dan salah satu ciri yang membedakan antara pekerja profesional dengan pekerja amatir adalah dari segi keselamatan dalam bekerja.

Pekerja profesional tidak akan segan-segan meninggalkan tempat kerja yang dirasa tidak mampu menjamin keselamatannya. Mereka berani berspekulasi, toh skillnya sudah mumpuni. Daripada bekerja tetapi senantiasa terancam bahaya, sementara masih banyak pilihan di tempat lain.

Kesimpulannya, karyawan akan betah dan loyal kepada perusahaan, salah satu alasannya adalah komitmen perusahaan dalam menjamin keselamatan karyawannya. Sungguh kerugian bagi perusahaan jika ditinggalkan oleh karyawan hanya karena tidak mampu memberikan rasa aman di tempat kerjanya.

Penerapan K3 membangun kepercayaan pasar

Hidup matinya perusahaan  adalah tergantung pada pasar. Apa pun bentuk usahanya, pasarlah yang akan menjadi penentu.

Dan merupakan salah satu isu yang sedang trending di pasar global adalah tentang keselamatan, kesehatan dan kelestarian lingkungan. Sehingga, menjadi persyaratan bagi produsen untuk memenuhi syarat tersebut agar dapat diterima di pasar global.

Ada pengalaman di perusahaan galangan kapal, ketika salah satu perusahaan support transportasi pertambangan hendak menaikkan kapalnya untuk perbaikan di galangan tersebut.

Selain dari sistem progress pelaksanaan perbaikan, hal yang tak kalah mereka tekankan adalah masalah keselamatan. Sehingga pihak galangan harus berupaya keras untuk memenuhinya. 

Dan alhasil, tidak sia-sia. Selain dari nilai proyek yang cukup besar, tak kalah pentingnya yakni portofolio bagi perusahaan . Bisa dibayangkan, keberhasilan galangan tersebut mengerjakan proyek perbaikan kapal dari perusahaan kelas iternasional akan membangun kepercayaan bagi pemilik-pemilik kapal lainnya.

Hal ini menjadi magnet bagi perusahaan-perusahaan lain untuk memberikan proyek pebaikan dan pembangungan kapalnya kedepan. Sungguh sangat disayangkan jika peluang mendapatkan proyek besar harus gagal hanya karena perusahaan tidak mampu memenuhi persyaratan K3.

Penerapan K3 mampu menekan biaya asuransi

Perusahaan dengan asset yang mahal tentunya meminta jaminan dari pihak asuransi. Dimaksudkan agar ketika terjadi hal yang tak diinginkan, maka kerugian perusahaan akan tertutupi oleh perlindungan asuransi.

Namun, prinsip penentuan premi dan nilai jaminan asuransi adalah dari ditentukan dari tingkat resiko pesertanya. Semakin tinggi resiko peserta asuransi, maka semakin mahal premi dan sebliknya jaminan yang diberikan justru lebih kecil.

Lain halnya jika hasil penilaian terhadap peserta memiliki resiko yang rendah, maka niali premi yang perlu dibayarkan pun akan lebih murah dan sebalikanya jaminan yang diberikan akan lebih besar.

Dengan perusahaan menerapkan K3, maka akan menekan resiko kerugian yang mungkin timbul. Resiko yang kecil akan menarik pihak asuransi untuk berani memberikan jaminan yang besar dengan premi yang rendah. Lumayan bukan?.

Nah, jika kita kembali mengkalkulasi biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menerapkan K3, dibandingkan dengan tiga keuntungan yang disebutkan di atas, manakah yang lebih besar angkanya?. Silahkan dihitung-hitung sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *