Dasar Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja

Kabar tentang kejadian kebakaran di perusahaan hingga hari ini masih terus terdengar. Skala kebakaran dengan tingkat kerugian kecil hingga yang besar masih terjadi. Kerugian berupa kerusakan harta benda, pencemaran lingkungan, hingga korban jiwa pun berjatuhan. 

Untuk menurunkan angka kejadian dan kerugian akibat kebakaran, pemerintah RI sebenarnya telah menerbitkan berbagai peraturan terkait kewajiban penanggulangan bahaya kebakaran di tempat kerja. Beberapa di antaranya seperti: 

  • Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja;
  • Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor 186 Tahun 1999 tentang Unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja;
  • Kepmenaker RI Nomor 4 Tahun 1980 tentang Syarat-Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan;
  • Instruksi Menteri Tenaga Kerja No. Ins. 11/M/BW/1997 tentang Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan Kebakaran;
  • Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomo 140 Tahun 2004 tentang Pemenuhan Kewajiban Syarat-Syarat K3 Industri Kimia dengan Potensi Bahaya Besar (Major Hazard Installation).

Pada regulasi yang diterbitkan pemerintah tersebut menyebutkan langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh pengusaha dan manajemen perusahaan untuk penanggulangan kebakaran di tempat kerja. Langkah penanggulangan kebakaran di tempat kerja terdiri atas:

1. Identifikasi Sumber Bahaya Kebakaran

Peralatan kerja merupakan salah satu sumber bahaya kebakaran

Pengurus perusahaan wajib mengidentifikasi setiap sumber-sumber energi di tempat kerja yang dapat berpotensi menimbulkan bahaya kebakaran. Beberapa sumber nyala api antara lain:

  • Matahari
  • Gesekan
  • Pembakaran dalam engine (internal combustion)
  • Reaksi bahan kimia
  • Sambaran petir
  • Listrik statis
  • Arus listrik
  • Aktivitas manusia
Kegiatan kerja panas (hot work) di tempa kerja

Hal-hal yang perlu menjadi perhatian dalam proses identifikasi potensi bahaya kebakaran di tempat kerja adalah;

  • Proses aktivitas yang berkaitan dengan penyalaan api dan penggunaan bahan mudah terbakar, misalnya: pengelasan, penggunaan oxyfuel cutting, gerinda atau kerja panas (hot work) lainnya;
  • Penggunaan atau penyimpanan bahan mudah terbakar, misalnya: penampungan bahan thinner, bahan bakar minyak, penampungan flammable gas, dan lain sebagainya.
  • Aktivitas yang harus dilakukan di dekat penampungan bahan mudah terbakar.

Dalam proses identifikasi diperlukan pola kritis sehingga ditemukan hasil yang maksimal. Semakin detail potensi bahaya yang ditemukan, maka semakin efektif penanggulangan kebakaran. (Terkait identifikasi bahaya dan penilaian resiko (Hazard Identification and Risk Assessment) akan kita bahas pada sesi lain).

2. Pengendalian Sumber-Sumber Energi

Setelah sumber-sumber bahaya kebakaran tercatat dan telah dilakukan analisis resiko, maka selanjutnya adalah mengendalikan sumber-sumber energi tersebut. 

Penanggulangan kebakaran diawali dengan pencegahan nyala api yang tidak dikehendaki. Mencegah nyala api lebih baik daripada memadamkan kebakaran. Pencegahan nyala api yang tidak dikehendaki dengan mengontrol sumber-sumber penyalaan api di tempat kerja. 

Pengendalian nyala api adalah dengan memastikan bahwa percikan dan nyala api yang bersumber dari aktivitas kerja tetap dalam kendali atau kontrol. Sehingga nyala api tersebut dipastikan tidak menyebar atau membesar sehingga berada di luar kontrol kita. 

Pengendalian sumber-sumber energi panas dilakukan dengan langkah:

  • Penerapan izin kerja pada pekerjaan panas (hot work),
  • Metode penyimpanan bahan kimia agar tidak melanggar kaidah kompatibel,
  • Pemasangan instalasi penyalur petir,
  • Maintenance alat atau mesin yang mengalami gesekan.

3. Penyediaan Sarana Proteksi Kebakaran

Fire Extinguisher sebagai salah satu sarana proteksi kebakaran

Sarana penanggulangan kebakaran terdiri atas sistem proteksi kebakaran aktif dan pasif. Sarana proteksi kebakaran aktif berupa:

  • Fire extinguisher atau APAR dan fire blanket
  • Sistem alarm kebakaran otomatis
  • Fire hydrant system (fire pump, sprinkler, fire monitor, fire box).

Sementara sarana proteksi kebakaran pasif berupa:

  • Jalur evakuasi, pintu darurat, tangga darurat dan tempat berkumpul (muster point),
  • Pengendali asap, panas dan gas
  • Kipas angin bertekanan (pressurized fan)
  • Kompartementasi
  • Fire damper

4. Tim Penanggulangan Kebakaran

Pelatihan petugas pemadam kebakaran

Sistem penangulangan kebakaran terdiri dari tim penanggulangan kebakaran, fasilitas pemadam kebakaran dan metode atau prosedur penanggulangan kebakaran. 

Tim penanggulangan kebakaran terdiri dari personel yang telah dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi keadaan darurat kebakaran. Peran personel penanggulangan kebakaran perlu diatur agar terstruktur sehingga jelas tugas dan fungsinya masing-masing.

Unit penanggulagan kebakaran di tempat kerja terdiri dari beberapa level, antara lain:

  • Kelas D, yakni petugas peran kebakaran,
  • Kelas C, yakni tim pemadam kebakaran (fire brigade)
  • Kelas B, yakni koordinator pemada kebakaran
  • Kelas A, yakni ahli K3 penanggulangan kebakaran

Fasilitas pemadam kebakaran yang meliputi alat pemadaman api ringan, fire hydrant, portable fire pump, hingga fire truck harus dalam kondisi senantiasa siap dan handal untuk digunakan.   

Metode atau prosedur penanggulangan kebakaran diperulkan sebagai pedoman dalam melakukan penanggulangan pada pra kejadian, saat kejadian dan pasca kejadian. Metode ini biasanya dalam bentuk prosedur tanggap darurat atau emergency response plan (ERP).

Penutup

Penanggulangan kebakaran di tempat kerja meliputi langkah pencegahan nyala api yang tidak dikehendaki, pengendalian nyala api dari aktivitas dan pemadaman api yang menyala di luar kontrol. 

Demikian ulasan tentang dasar penanggulangan kebakaran di tempat kerja. Ini adalah murni hasil pengamatan dan pemikiran saya pribadi serta berdasarkan referensi yang saya temukan. Semoga bermanfaat.

Leave a Comment