Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Galangan Kapal

Sebagai negara maritim, Indonesia tidak bisa lepas dari moda transportasi air, yakni kapal. Untuk mendukung ketersediaan armada ini, maka industri galangan kapal adalah suatu kebutuhan yang mutlak.

Keberadaan galangan kapal mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi bangsa, di antaranya dalam hal penyerapan tenaga kerja. Ini adalah sebuah peluang dan sekaligus tantangan, melihat kondisi industri galangan yang belum sepenuhnya dikelola dengan baik.

Dari pantauan langsung di lapangan, secara pribadi saya melihat industri ini seolah terbebas dari pengawasan. Dan sebagai pekerja di bidang keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L), hal yang menjadi fokus perhatian saya tentunya adalah persoalan keselamatan tenaga kerja dan pengendalian dampak terhadap lingkungan.

Dalam tulisan ini, saya ingin membahas tentang penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di lingkup industri galangan kapal. Prinsip dasar keselamatan kerja adalah mengidentifikasi potensi-potensi bahaya dan melakukan upaya pencegahan atau pengendalian resiko hingga pada tingkat atau level yang paling rendah atau ringan.

Untuk melakukan identifikasi potensi bahaya, terlebih dahulu kita perlu mengenal proses produksi atau flow process. Di galangan kapal terdapat berbagai item pekerjaan yang memiliki potensi bahaya berdampak fatal. Oleh karena itu perlu dilakukan langkah-langkah pengendalian bahaya guna menekan resiko timbulnya kerugian, baik kepada perusahaan atau pun pekerja.

Berikut adalah jenis-jenis aktivitas pekerjaan di galangan kapal beserta gambaran potensi bahaya yang menyertainya:

Working at Height (Bekerja di Ketinggian)

Aktivitas karyawan galangan kapal bekerja di ketinggian
Aktivitas karyawan di galangan kapal yang bekerja di ketinggian menggunakan scaffolding sebagai akses.

Salah satu aktivitas kerja di galangan kapal adalah bekerja di ketinggian (working at height). Kebutuhan bekerja di ketinggian ini untuk menjangkau bagian-bagian kapal yang sedang dikerjakan. Bekerja di ketinggian termasuk kategori pekerjaan yang memiliki resiko kecelakaan dengan dampak fatal. 

Beberapa potensi bahaya terkait bekerja di ketinggian, di antaranya: terjatuh dari ketinggian, terperosok, posisi kerja terbatas atau gerak tubuh yang kikuk (tidak ergonomi), dan potensi orang tertimpa peralatan atau material.

Oleh sebab itu, sebelum melakukan pekerjaan di ketinggian perlu adanya persiapan-persiapan untuk mengendalikan potensi bahaya yang ada. Sebagai acuan regulasi untuk keselamatan bekerja di ketinggian, kita dapat merujuk kepada Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan pada Ketinggian.

Berdasarkan regulasi tersebut, upaya pencegahan kecelakaan dapat dilakukan dengan cara penyediaan akses bekerja di ketinggian, mengurangi aktivitas di ketinggian (jika memungkinkan), memasang pembatas pada permukaan-permukaan yang terbuka, penggunaan alat work restraint untuk pencegahan jatuh. Dan sebagai langkah terakhir adalah penggunaan full body harness sebagai alat pelindung jatuh.

Confined Sace Entry (BeKerja di Ruang Terbatas)

Aktivitas di dalam ruang terbatas (confined space) seringkali diperlukan untuk melakukan perbaikan pada tangki-tangki atau kompartemen kapal
Aktivitas di dalam ruang terbatas (confined space) seringkali diperlukan untuk melakukan perbaikan pada tangki-tangki atau kompartemen kapal

Kegiatan di ruang terbatas (confined space entry) merupakan aktivitas yang harus dilakukan di galangan kapal. Pembuatan atau perbaikan ruang-ruang tangki atau kompartemen mengharuskan untuk bekerja di dalamnya.

Pekerjaan yang biasanya harus dilakukan di ruang terbatas antara lain: inspection (pengecekan) oleh petugas quality control (QC) atau oleh petugas surveyor (misalnya Biro Klasifikasi Indonesia). Pekerjaan rutin lainnya adalah cleaning tank, pekerjaan panas seperti pemotongan dengan flame cutting, pengelasan (welding) dan lain sebagainya. 

Identifikasi potensi bahaya dan pengendalian risiko perlu dilakukan sebelum memulai pekerjaan di ruang terbatas. Potensi bahaya terkait pekerjaan di ruang terbatas cukup beragam dan dapat berakibat fatal jika gagal dalam melakukan pengendalian risiko.

Ancaman bahaya bekerja di ruang terbatas meliputi:

  • atmosfer berbahaya, kekurangan oksigen, gas berbahaya, gas mudah terbakar/meledak
  • pencahayaan kurang
  • ketakukan tak beralasan (claustrophobia)
  • potensi terjatuh, terperosok bahkan
  • terperangkap (engulfment

Selain bahaya yang disebabkan oleh karakteristik ruang terbatas, potensi bahaya juga dapat dikarenakan oleh peralatan kerja yang digunakan. Misalnya, kebutuhan listrik untuk pencahayaan atau alat elektronik lainnya.

Jenis aktivitas juga menjadi sumber bahaya, misalnya pekerjaan panas (welding dan cutting) yang menimbulkan asap, atau pekerjaan pengecatan yang menghasilkan uap mudah terbakar, bahkan berpotensi terjadi ledakan. 

Regulasi pemerintah tentang K3 bekerja di ruang terbatas terdapat dalam Keputusan Dirjen Pembinaan dan  Pengawasan Ketenagakerjaan Nomor IX tahun 2006 tentang Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Ruang Terbatas.

Hot Work (Kerja Panas)

Kerja panas atau hot work adalah jenis pekerjaan yang akan selalu ditemui dalam proses produksi di galangan kapal. Pekerjaan pengelasan, fitter, brazing, dan sebagainya.
Kerja panas atau hot work adalah jenis pekerjaan yang akan selalu ditemui dalam proses produksi di galangan kapal. Pekerjaan pengelasan, fitter, brazing, dan sebagainya.

Proses produksi di galangan kapal tidak dapat terlepas dari berbagai aktivitas kerja panas (hot work). Dimulai dari proses pemotongan (cutting) material, perakitan bagian-bagian (fit up), pekerjaan pengelasan (welding), pemanasan permukaan (firing), gouging, brazing grinding dan lain sebagainya.

Karakteristik kerja panas yang melibatkan atau menghasilkan nyala api berpotensi menimbulkan resiko kebakaran maupun ledakan. Percikan logam panas dan api terbuka berpotensi menimbulkan luka bakar ringan hingga tingkat yang serius terhadap pekerja.

Demi keselamatan dalam bekerja, perlu dilakukan langkah-langkah pengendalian bahaya sebelum memulai kerja panas, antara lain: pengecekan sebelum bekerja (hot work checklist), penerbitan izin kerja panas (hot work permit), dan upaya mitigasi lain yang diperlukan terkait bahaya kebakaran dan ledakan.

Regulasi pemerintah Republik Indonesia yang mengatur tentang penanggulangan bahaya kebakaran dan ledakan di perusahaan antara lain:  

  • Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor: 04 Tahun 1980 tentang Syarat-Syarat Pemasangan APAR,
  • Instruksi Menteri Tenaga Kerja Nomor: INS. 11/M/BW/1997 tentang Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan Kebakaran,
  • Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor: 186 Tahun 1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja.

High Pressure Equipment (Bekerja dengan Alat Bertekanan)

Tabung-tabung yang berisi gas bertekanan menjadi kebutuhan pokok dalam operasional kerja di galangan kapal. Hal ini perlu penanganan yang serius mengingat material tersebut cukup berbahaya
Tabung-tabung yang berisi gas bertekanan menjadi kebutuhan pokok dalam operasional kerja di galangan kapal. Hal ini perlu penanganan yang serius mengingat material tersebut cukup berbahaya.

Alat kerja bertekanan (high pressure equipment) yang dimaksud adalah peralatan atau adanya wadah berisi gas atau udara bertekanan. Alat ini disebut bajana bertekanan.  Pada umumnya, bejana bertekanan yang digunakan di galangan seperti; tabung oksigen (O2), kompresor, sand pot blasting dan airbag. 

Potensi bahaya bejana bertekanan adalah ledakan dengan risiko kecelakaan yang dapat berakibat fatal. Demi keselamatan diperlukan upaya pengendalian resiko secara maksimal. Untuk itu diperlukan pananganan khusus dalam penggunaannya agar risiko terkait dapat diminimalisir.

Syarat kelayakan suatu bejana bertekanan perlu dibuktikan dengan adanya sertifikat konstruksi bejana dan surat izin penggunaan dari Dinas Tenaga Kerja RI. Selain izin penggunaan, pengujian dan perawatan secara berkala oleh bagian fasilitas internal perusahaan juga wajib dilakukan. 

Untuk informasi syarat keselamatan penggunaan bejana bertekanan, Pemerintah RI telah menerbitkan regulasi berupa Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2016 tentang K3 Bejana Tekanan dan Tangki Timbun.

Bekerja di Tepi Permukaan Air

Bekerja di tepi permukaan air mengandung risiko terjatuh dan tenggelam, karyawan harus memahami risiko ini dan mempersiapkan langkah pencegahan maupun mitigasi
Persiapan sebelum memulai kegiatan di tepi atau di atas air. Bekerja di tepi permukaan air mengandung risiko terjatuh dan tenggelam, karyawan harus memahami risiko ini dan mempersiapkan langkah pencegahan maupun mitigasi.

Terkadang, dalam kondisi tertentu, proses produksi mengharuskan pekerjaan dilakukan di atas atau di tepi permukaan air. Pekerjaan itu meliputi proses mooring kapal yang akan melakukan docking, maupun perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan selama kapal tertambat.

Pada aktivitas menyeberang dari jetty menuju kapal, atau saat perpindahan pekerja dari kapal ke kapal memiliki potensi orang terjatuh. Resiko terjatuh ke air dapat berakibat kematian. Penyebabnya beragam, karena tidak mampu berenang, terbawa arus atau mengalami benturan sehingga tidak sadarkan diri dan tenggelam.   

Dengan beberapa kejadian serupa di tempat lain dalam industri yang sama mengisyaratkan bahwa resiko pekerja terjatuh ke air cukup tinggi. Oleh sebab itu, pekerjaan di atas atau di tepi permukaan air perlu mendapatkan perhatian dari pihak manajemen perusahaan.

Berbagai cara pengendalian bahaya bekerja di tepi/atas permukaan air dapat ditempuh dengan menyediakan pagar (guard rail) pada bagian tepi. Akses untuk naik dan turun dari kapal juga perlu dipersiapkan. Jika tidak memungkinkan untuk pemasangan guard rail, maka perlu ditetapkan aturan penggunaan alat pelindung diri berupa pelampung (life jacket) saat berada di tepi atau di atas permukaan air. 

Coating (Pengecatan)

Proses coating atau pengecatan
Proses coating atau pengecatan adalah bagian penting dalam pada proses finishing kapal. Namun bahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah termasuk B3.

Painting atau pengecatan pada konstruksi kapal, selain untuk memberikan warna yang menarik juga sebagai pelapis (coating) terhadap permukaan logam untuk mencegah proses terbentuknya karat (korosi). Mengingat bahwa permukaan lambung kapal akan menghadapi medan yang ekstrem, maka bahan cat yang digunakan pun berupa bahan khusus.

Namun sayangnya, karena kebutuhan bahan cat yang khusus tersebut juga membawa resiko buruk terhadap kesehatan manusia dan biota di lingkungan sekitar. Sehingga dalam penggunaan cat perlu diperhatikan, mulai dari penyimpanan, pengangkutan, proses pemakaian hingga pasca penggunaan cat. Limbah dari kegiatan ini dapat berupa sisa cat dan thinner, maupun kaleng yang tercemar.

Pekerjaan painting di dalam ruangan/tangki juga merupakan bagian pekerjaan beresiko tinggi. Uap dari aktivitas pengecatan yang terakumulasi di dalam tangki, dapat menimbulkan kebakaran dan ledakan. Hal itu sangat mungkin terjadi, baik pada saat proses pengaplikasian cat maupun setelah pekerjaan selesai dilakukan. 

Demi alasan keselamatan dalam pekerjaan painting, wajib memperhatikan informasi yang ada di dalam material safety data sheet (MSDS) produk cat, dan regulasi pemerintah yang mengatur tentang hal ini. 

Sebagai bahan rujukan, kita dapat melihat beberapa regulasi pemerintah berikut ini; 

  • Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No.KEP. 187/MEN/1999 tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja,
  • Peraturan Menteri Tenaga Kerja,  Transmigrasi Nomor Per.13/Men/X/2011 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja,
  • SNI 19-0232-2005 Nilai Ambang Batas (NAB) zat kimia di udara tempat kerja.

Lifting Operation (Operasional Pengangkatan)

Operasional pengangkatan atau lifting operation
Operasional pengangkatan, bagian aktivitas yang perlu persiapan dan perhitungan yang matang karena memiliki risiko terhadap keselamatan orang dan aset atau properti.

Untuk proses menyatukan (assembling) bagian-bagian konstruksi kapal dilakukan kegiatan pengangkatan (lifting operation). Beberapa jenis pesawat angkat dan angkut yang biasa digunakan antara lain: forklift, tower crane, overhead crane dan mobile crane, dll.

Penggunaan pesawat angkat dan angkut memiliki bermacam potensi bahaya yang harus dicegah untuk menghindari kerugian. Diperlukan persiapan-persiapan sebelum melakukan aktivitas. Baik kesiapan alat, operator maupun metode pengoperasiannya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait kegiatan pengangkatan adalah; pesawat angkat dan angkut dalam kondisi layak dioperasikan. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya sertifikat atau surat kelayakan dari badan atau pihak berwenang, dalam hal ini adalah Dinas Tenaga Kerja.

Selain pesawat angkat dan angkut dalam kondisi layak, operator juga harus merupakan orang-orang yang telah terlatih. Hal itu dibuktikan dengan sertifikat pelatihan serta surat izin operasional dari Kementerian Tenaga Kerja RI.

Jika alat angkat dan angkut, operator telah memenuhi persyaratan, maka selanjutnya adalah metode atau prosedur dalam operasional pengangkatan. Tim yang bertugas melakukan pengangkatan harus memahami dengan benar antara kemampuan alat angkat dan beban yang akan diangkat. Petugas yang biasanya melakukan ini di perusahaan adalah seorang juru ikat atau rigger.

Olah gerak pesawat angkat dan angkut, area-area kerja, serta orang-orang yang mungkin terdampak aktivitas pengangkatan harus diperhatikan. Jika diperlukan, tim yang melakukan kegiatan pengangkatan dapat memasang pembatas area (barricade), untuk mencegah orang lain masuk ke area berbahaya.

  • Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No 5 Tahun 1985 tentang Pesawat Angkat dan Angkut;
  • Peraturan Menteri tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor 9 Tahun 2010 tentang Operator dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut

Electrical (Penggunaan Tenaga Listrik)

K3 kelistrikan
Pengamanan terhadap sumber atau jaringan listrik dilakukan untuk membatasi akses guna meminimalisir potensi orang terkena bahaya arus listrik.

Untuk kebutuhan mesin las, mesin gerinda, blower, lampu penerangan area kerja, pompa listrik, dan berbagai macam kebutuhan lainnya yang memerlukan tenaga listrik. Sehingga fungsi tenaga listrik cukup penting dalam aktivitas produksi di galangan kapal.

Aktivitas kerja di galangan pada umumnya dilakukan di tempat terbuka dan berpindah-pindah titik. Sehingga peralatan listrik yang digunakan bersifat sementara (temporary). Kondisi demikian tentu menambah resiko sewaktu-waktu jaringan listrik dapat terjadi kebocoran disebabkan karena penggunaannya selalu berpindah-pindah. 

Penggunaan tenaga listrik di outdoor juga perlu menjadi perhatian bagi pekerja, bahwa resiko akan meningkat jika peralatan kelistrikan dalam kondisi basah akibat terkena hujan. Demi keselamatan, penggunaan peralatan kelistrikan yang kedap air (water proof) sangat dianjurkan.

Selain itu, perlengkapan keselamatan untuk peralata juga harus dilengkapi, misalnya autobreker panel listrik yang mampu memutuskan arus secara otomatis jika terjadi hubungan singkat (short circuit). Pemasangan pembumian (grounding) dan pengecekan alat kelistrikan secara rutin untuk memastikan isolatornya dalam kondisi utuh.

Sebagai pedoman dalam menyediakan dan menggunakan  tenaga listrik secara aman dapat mengacu pada Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2011.

Radiography Test (Uji Radiografi)

Kamera radiografi
Peralatan berupa kamera radiografi terkadang perlu digunakan dalam melakukan tes kekuatan konstruksi kapal

Tahap akhir pembangungan konstuksi kapal sebelum dilakukan coating adalah pengujian untuk memastikan ketahanan konstruksi. Pengujian dilakukan pada titik-titik hasil pengelasan di setiap sambungan.

Salah satu metode pengujian yang umum dilakukan adalah uji tidak rusak (Non Destructive Test) dengan menggunakan kamera radioaktif atau X-Ray. Dari gambar yang didapatkan akan memperlihatkan hasil pengelasan secara keseluruhan. 

Seperti dijelaskan dari berbagai sumber tentang dampak paparan radioaktif, yakni dapat menimbulkan efek somatik maupun genetik. Sehingga bukan hal yang berlebihan jika berurusan dengan radioakatif harus ekstra berhati-hati, baik dalam penyimpanan, pengangkutan maupun penggunaannya.

Untuk upaya menurunkan resiko terjadinya paparan radioaktif ini, perlu mempertimbangkan tingkat urgensi penggunaannya. Jika memungkinkan, sebaiknya menggunakan metode pengujian lain namun memiliki fungsi yang sama. Atau biasa disebut dengan metode subtitusi.

Namun, jika sekiranya penggunaan radioaktif benar-benar harus dilakukan, maka langkah-langkah untuk keselamatan wajib dilakukan secara maksimal.

Upaya keselamatan yang dapat dilakukan di antaranya; penyerahan pekerjaan kepada pihak eksternal yang memang secara khusus menangani masalah radioaktif. Membatasi atau mengisolasi area yang terdampak, sehingga menurunkan resiko orang lain terpapar.

Beberapa regulasi pemerintah RI yang mengatur tentang radioaktif:

  1. Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 7 Tahun 2009 tentang Keselamatan Radiasi dalam Penggunaan Peralatan Radiografi Industri;
  2. Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 Tahun 2008 tentang Perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuklir;
  3. Peraturan Pemerintah RI Nomor 33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan  Keamanan Sumber Radioaktif.

Ada banyak lagi aktivitas-aktivitas kerja di galangan yang memiliki potensi bahaya dan perlu diidentifikasi untuk dilakukan pengendalian guna mencegah terjadinya kecelakaan. Di dalam prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3),  semakin banyak  potensi bahaya dari suatu pekerjaan yang teridentifikasi, maka semakin lengkap pula upaya pengendalian yang dapat dilakukan. Sehingga dengan begitu, resiko dapat diturunkan. 

sumber:

1. Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Direktorat Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan R.I; 

2. Shipyard Industry Standards, U.S. Department of Labour, Occupational Safety and Health Administration, OHSA 2268-10R 2014 

2 comments

    1. Bukan, itu foto yang saya ambil sendiri dari galangan yang saya kunjungi. Kecuali foto pertama, itu sumbernya dari unsplash, penyedia foto free copyright. Maaf, apa ada masalah dengan foto tersebut?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *