Tag Archives: galangan kapal

Keselamatan Kerja Radiografi Di Galangan Kapal

Peralatan Radiografi

Guna memastikan kekuatan struktur bangunan sebuah kapal, petugas quality control (QC) harus melakukan pengujian kualitas. Salah satu metode pengujian yang digunakan adalah uji tak rusak (non destructive test) yakni menggunakan peralatan radiografi.

Teknis pelaksanaan uji radiografi ini dengan melakukan pengambilan gambar (foto) menggunakan kamera pemancar radiografi ke titik-titik yang ingin diuji. Bentuknya hampir mirip dengan pengambilan foto thorax di ruang rontgen, namun objek di sini adalah sebuah bangunan kapal.

Dari segi akurasi hasil pengujian dan biaya yang diperlukan, menjadikan uji radiografi sebagai metode pengujian yang sering digunakan pada project pembangunan kapal. Namun di balik manfaatnya tersebut, pengurus perusahaan harus memperhatikan faktor keselamatan dari risiko yang mungkin timbul.

Kamera radiografi yang digunakan untuk mengambil gambar saat uji NDT

Peralatan radiografi ini menggunakan zat radioaktif dan/atau pembangkit radiasi pengion, yakni sumber radiasi dalam bentuk pesawat sinar-X dengan energi di bawah 1 (satu) MeV dan pesawat energi tinggi dengan energi sama atau di atas 1 (satu) MeV.

Saya tentu tidak akan membahas tentang kamera atau peralatan radiografi ini secara detail, karena saya bukan ahlinya. Namun dari pengalaman kegiatan di lapangan, beberapa informasi berikut bisa saya bagikan.

Pengendalian Risiko

Hal paling utama dalam pengendalian risiko adalah menghilangkan (eliminasi) sumber atau mengganti (subtitusi) dengan material atau metode yang dinilai lebih aman. Namun jika kedua langkah tersebut tidak memungkinkan, maka diperlukan upaya lain untuk mengontrol bahaya.

1. Menggunakan Jasa Eksternal

Pada umumnya, perusahaan akan meminta pihak ketiga (instansi yang memiliki legalitas) untuk melakukan uji radiografi. Alih-alih menyimpan peralatan dan merekrut operator yang semuanya harus memenuhi persyaratan perizinan yang cukup ribet. Dengan menggunakan jasa pihak eksternal, ini dinilai lebih efektif. Tentu tergantung dengan kebutuhan di perusahaan.

Dari faktor keselamatan, menggunakan jasa pihak eksternal untuk melakukan pengujian radiografi adalah pilihan tepat. Perusahaan hanya perlu mengajukan penawaran pekerjaan, lalu pihak penguji radiografi datang ke lokasi pengujian dengan membawa peralatan, melakukan proses uji, dan kemudian pergi setelah memberikan hasil pengujian.

Keuntungan menggunakan jasa eksternal untuk melakukan uji radiografi di antaranya tidak perlu mengurusi segala jenis perizinan untuk menggunakan zat radioaktif, tidak perlu orang atau tenaga kerja khusus operator radiografi (OR), ahli radiografi (AR).

2. Persiapan Administrasi

Persiapan administrasi atau metode dalam pelaksanaan uji radiografi. Kita dapat menggunakan Job safety analysis (JSA) atau work permit khusus pekerjaan radioaktif (x-ray) untuk dijadikan pedoman dalam pengendalian risiko. Biasanya, perusahaan jasa uji radiografi yang memiliki sistem administrasi keselamatan kerja yang baik, mereka sudah menyiapkan identifikasi daftar potensi bahaya dan analisa risiko lengkap beserta dengan statment metodenya.

Pastikan juga memeriksa kelengkapan kalibrasi alat, baik peralatan kamera radiografi, dan kalibrasi alat detector radiasi. Ini penting untuk memastikan peralatan berfungsi dengan baik dan hasilnya akurat. Selain sertifikat kalibrasi alat, sertifikat kompetensi operator juga perlu. Jangan ragu untuk meminta bukti kepada pihak perusahaan jasa berupa sertifikat operator radiografi dan ahli radiografi.

Dengan kelengkapan administrasi tersebut, perusahaan akan memiliki jaminan hukum jika sewaktu-waktu terjadi hal tak diinginkan selama proses uji radiografi. Ini penting untuk diketahui oleh pengurus perusahaan, khususnya pengawas K3 atau HSE officer.

3. Langkah Aman Dalam Pelaksanaan Uji Radiografi

Sebelum memulai pekerjaan pengujian, penting untuk setiap orang yang terlibat mengetahui secara detail langkah-langkah dan apa risikonya. Terutama apabila petugas atau operator radiografi ini memerlukan bantuan dari pihak yang awam terhadap cara kerja radiografi. Untuk itu perlu dipastikan tercantum dalam JSA beberapa hal berikut:

  • Penetapan daerah pengendalian, ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh area yang akan terdampak dari kegiatan uji radiografi ini.
  • Petugas yang terlibat, operator dan helper, atau mungkin ada tambahan personel untuk tugas membantu lainnya. Mereka semua harus diberitahu dan benar-benar paham tentang langkah aman dalam pekerjaan ini.
  • Langkah-langkah kerja disertai potensi bahaya dan saran pengendalian untuk mengantisipasi potensi bahaya tersebut. Semakin detail diketahui apa potensi bahaya yang mengancam, maka semakin baik pula kesiapan untuk mengontrol risikonya.
  • Pengamanan atau penutupan area untuk sementara (bila diperlukan). Jika area kerja merupakan tempat yang terbuka da memungkinkan ada pihak eksternal masuk ke area, maka penutupan area perlu dilakukan.
  • Pemberian batas, dengan memasang tali kuning atau barricade tape atau biasa lebih dikenal dengan police line.
  • Tanda bahaya, pasang tanda atau rambu K3 yang dapat memberikan informasi tentang adanya bahaya radiasi. Biasanya ada tanda khusus untuk radiasi. Menggunakan lampu flip flop juga bisa untuk menarik perhatian orang lain agar mengetahui bahwa sedang ada sesuatu yang khusus di area tersebut.

4. Perlengkapan Proteksi Radiasi

Berikut adalah beberapa peralatan yang digunakan untuk mengurangi risiko paparan radiasi saat melakukan pekerjaan uji radiografi:

  • Pendos
  • Survey meter
  • Kolimator
  • Tang penjepit bertangkai dengan panjang paling kurang 1 m (satu meter);
  • Lempeng Pb atau perisai radiasi lain yang setara dengan ukuran yang memadai;
  • Tanda radiasi;
  • Peralatan peringatan yang dapat dilihat dan/atau didengar;
  • Tali kuning;
  • Kontener
  • Tang potong bertangkai panjang, paling kurang 0,5 m (lima per sepuluh meter); dan
  • Go No Go gauge.

Pekerjaan radiografi adalah aktivitas yang jarang dilakukan di perusahaan dan kurangnya referensi menjadikannya terasa sulit untuk dipahami. Pengalaman terlibat dalam pekerjaan ini memaksa saya untuk mencari sebanyak mungkin informasi untuk memastikan pekerjaan di tempat saya bekerja berlangsung aman. Hal ini yang menjadi alasan untuk saya menuliskan informasi ini agar dapat memberikan sedikit gambaran.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa ini adalah pedoman yang valid, akan tetapi hanya sekedar tambahan informasi. Jika ingin mendapatkan informasi yang lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum, anda dapat menghubungi pihak yang berwenang pada bidang ini, seperti BAPETEN misalnya.

Semoga tulisan ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembacanya, terutama bagi orang-orang yang sedang mengalami hal yang pernah saya alami (keterbatasan informasi K3 radioktif). Jika anda adalah ahlinya dan mendapati kekurangan dalam tulisan ini, mohon dikoreksi demi kita semua. Sebab kita sepakat, Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah tanggung jawab kita semua.

Keselamatan Kerja Operasional Pengangkatan

Operasional pengangkatan (lifting operation) merupakan salah satu kegiatan yang memiliki resiko tinggi

PAA sebagai Alat Operasional Pengangkatan

Di berbagai industri, penggunaan pesawat angkat dan pesawat angkut (PAA) banyak digunakan untuk membantu pekerjaan manusia. Material dan peralatan kerja yang berat bahkan manusia diangkut atau dipindahkan dengan menggunakan bantuan PAA. 

Definisi PAA itu sendiri pada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 8 Tahun 2020 tentang Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut, dapat diartikan sebagai:

  • Pesawat Angkat adalah pesawat atau peralatan yang dibuat, dan di pasang untuk mengangkat, menurnankan, mengatur posisi dan/atau menahan benda kerja dan/atau muatan.
  • Pesawat Angkut adalah pesawat atau peralatan yang dibuat dan dikonstruksi untuk memindahkan benda atau muatan, atau orang secara horisontal, vertikal, diagonal, dengan menggunakan kemudi baik di dalamatau di luar pesawatnya, ataupun tidak menggunakan kemudi dan bergerak di atas landasan, permukaan maupun rel atau secara terus menerus dengan menggunakan bantuan ban, atau rantai atau rol.

Unit-unit di perusahaan yang termasuk PAA terdiri atas forklift, manlift, crawler crane, tower crane, conveyor, overhead crane, trailer dan lain sebagainya.

Dalam pembahasan ini, saya ingin menguraikan tentang proses lifting operation menggunakan PAA berupa crawler crane. Berhubung karena saya lebih banyak pengalaman di industri galangan kapal, maka saya akan lebih banyak mengambil gambaran proses lifting di galangan kapal. 

Peralatan yang biasa digunakan dalam proses lifting operation dengan crawler crane terdiri atas:

  • sling (wire atau belt),
  • shackle,
  • tali pandu (tag line) dan
  • kupingan angkat (pad eye). 

Identifikasi Potensi Bahaya Operasional Pengangkatan

Semakin detail potensi bahaya yang ditemukan dalam suatu pekerjaan, maka semakin besar peluang untuk mengendalikan resiko. Oleh karena itu, perlu untuk mengenali potensi-potensi bahaya dari pekerjaan yang hendak dilakukan. Beberapa potensi bahaya yang menjadi catatan dalam melakukan kegiatan lifting operation menggunakan crawler crane di antaranya:

  • Tertabrak, terlindas atau tersenggol pada saat proses crane bergerak menuju lokasi pengangkatan,
  • Bahaya kelistrikan, terutama pada kabel listrik yang tergantung (hanging cable)
  • Tertimpa, terbentur atau terjepit material yang diangkat,
  • Material terjatuh
  • Crane overload dan roboh

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi lifting operation antara lain:

  • Kesiapan personel; terlatih, memahami langkah kerja dan memiliki sertifikat
  • Peralatan; pesawat angkat, alat ikat, shackle dan semua alat yang terlibat harus sesuai
  • Cuaca; hujan, kecepatan angin, petir, atau suasana berkabut
  • Lokasi; tempat pijakan crane, kemiringan permukaan atau kegiatan lifting di air
  • Waktu; sedapat mungkin tidak melakukan lifting di malam hari karena akan mempengaruhi pencahayaan

Persiapan Sebelum Operasional Pengangkatan

1. Personal

Personel atau anggota tim yang hendak melakukan kegiatan pengangkatan, umumnya terdiri atas operator, rigger (juru ikat), petugas pembantu (helper) dan signalman. Personel dalam tim lifting harus memahami dengan benar potensi-potensi bahaya, memahami cara kerja peralatan dan terlatih untuk melakukan pekerjaan tersebut.

Operator pesawat angkat dan pesawat angkut harus terampil dan mampu mengontrol pergerakan alat secara baik dan benar, memahami kemampuan (load chart) dari unit yang dioperasikannya. Sebagai bukti pemenuhan kualifikasi, seorang operator harus dilengkapi dengan surat izin operasional (SIO) sesuai dengan jenis pesawat angkat dan pesawat angkut yang dioperasikan, yang diterbikan diterbikan oleh Menteri Ketenagakerjaan kerja RI.

Petugas rigger atau juru ikat, secara teknis harus mampu dan terampil dalam memperhitungkan beban dan menentukan kapasitas (WLL/SWL) alat angkat (shackle, sling) yang akan digunakan. Rigger juga harus menentukan titik ikat dengan terlebih dahulu menganalisa titik beban (centre of weight). Pada proses lifting, rigger juga bertindak sebagai pemandu operator untuk mengarahkan pergerakan alat angkat. Seperti halnya operator, seorang rigger juga harus dilengkapi dengan surat izin operasional (SIO) yang diterbikan oleh Menteri Ketenagakerjaan kerja RI.

2. Peralatan

Peralatan yang akan digunakan dalam lifting operation harus dipastikan kondisinya layak dan aman digunakan. Pastikan beberapa hal berikut sebelum menggunakan alat:

  • Kondisi unit crane terawat, dibuktikan dengan laporan pengecekan dan perawatan harian (P2H), dan memiliki surat layak operasional dari dinas tenaga kerja,
  • Kondisi sling (wire & belt) dalam kondisi layak dan aman digunakan
  • Shackle dalam kondisi layak dan aman untuk digunakan
  • Tersedia tali pandu atau tagline
  • Kupingan (pad eye) atau titik ikat pada material yang hendak diangkat dalam kondisi layak

3. Lingkungan

Lingkungan dan faktor cuaca dapat mempengaruhi kegiatan lifting. Perhatikan kondisi lingkungan sekitar, apakah terdapat cukup pencahayaan, bagaimana dengan kecepatan angin, bagaimana dengan landasan tempat berpijak crane? Semua perlu diperhatikan.

Untuk area yang akan menjadi lokasi lifting harus dalam kondisi bersih dari gangguan, baik yang berada di bawah maupun bagian atas. Salah satu yang perlu diperhatikan biasanya adalah kabel power listrik. Pembatasan area dengan menggunakan rambu atau pun barricade tape perlu dilakukan untuk mencegah masuknya orang-orang yang tidak berkempentingan ke area radius lifting.

Untuk memastikan hal tersebut di atas dilakukan, maka sebelum kegiatan lifting operation dimulai, ada baiknya petugas HSE melakukan pengecekan secara menyeluruh. Agar memudahkan, dapat menggunakan Lifting Operation Checklist sebagai pedoman terhadap item-item yang perlu dipenuhi.

Proses Operasional Pengangkatan

Petugas rigger memasang peralatan lifting pada material yang akan diangkat. Shackle dipasang pada titik-titk yang ditetapkan sebagai pusat beban (center of weight). Hal ini dimaksudkan agar keseimbangan beban tetap terjaga proses pengangkatan. Beban yang tidak seimbang berpotensi menyebabkan crane mengalami over load dan rubuh.

Untuk memandu material yang diangkat, petugas rigger perlu menggunakan tali pandu (tagline). Fungsi tali pandu adalah agar anggota tim lifting tidak menyentuh langsung material yang diangakat. Dengan demikian memberikan peluang kepada tim jika sewaktu-waktu beban bergerak di luar kontrol.

Selama proses liftitng, orang-orang dilarang melintas atau berada di bawah beban yang sedang diangkat. Setiap personel harus selalu memperhatikan posisi dan pergerakan material. Pastikan setiap personel selalu dalam posisi yang bebas dan memiliki akses jika sewaktu-waktu terjadi kondisi darurat.

Petugas rigger memandu operator dalam melakukan pemindahan material menuju titik yang dikehendaki. Komunikasi yang biasa digunakan dapat berupa kode tangan (hand signal)  atau  radio HT . Komunikasi dengan hand signal harus disepakati antara operator dan rigger dan dilatihkan guna menghindari kesalahan instruksi. 

Usai Proses Operasional Pengangkatan

Setelah digunakan, sangat penting untuk melakukan pengecekan terhadap kondisi seluruh peralatan yang telah digunakan. Periksa kondisi crane, shackle, maupun sling yang telah digunakan. Pastikan tidak ada tanda-tanda kerusakan pada alat. Jika menemukan kerusakan pada alat lifting, maka lakukan perawatan atau penggantian sesuai dengan ketentuan penggunaan alat tersebut.

Referensi:

  • Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 8 Tahun 2020 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut

Penerapan K3 Galangan Kapal

Sebagai negara maritim, Indonesia tentu tidak bisa lepas dari moda transportasi air, yakni kapal. Untuk mendukung ketersediaan armada laut ini, maka industri galangan kapal adalah suatu kebutuhan yang mutlak bagi Indonesia.

Keberadaan galangan kapal mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi bangsa, di antaranya dalam hal penyerapan tenaga kerja. Ini adalah sebuah peluang dan sekaligus tantangan, melihat kondisi industri galangan yang belum sepenuhnya dikelola dengan baik.

Dari pantauan langsung di lapangan, secara pribadi saya melihat industri ini seolah terbebas dari pengawasan. Dan sebagai pekerja di bidang keselamatan, kesehatan kerja dan lingkungan (K3L), hal yang menjadi fokus perhatian saya tentunya adalah persoalan keselamatan tenaga kerja dan pengendalian dampak terhadap lingkungan.

Dalam tulisan ini, saya ingin membahas tentang penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di lingkup industri galangan kapal. Prinsip dasar keselamatan kerja adalah mengidentifikasi potensi-potensi bahaya dan melakukan upaya pencegahan atau pengendalian resiko hingga pada tingkat atau level yang paling rendah atau ringan.

Untuk melakukan identifikasi potensi bahaya, terlebih dahulu kita perlu mengenal proses produksi atau flow process. Di galangan kapal terdapat berbagai item pekerjaan yang memiliki potensi bahaya berdampak fatal. Oleh karena itu perlu dilakukan langkah-langkah pengendalian bahaya guna menekan resiko timbulnya kerugian, baik kepada perusahaan atau pun pekerja.

Berikut adalah jenis-jenis aktivitas pekerjaan di galangan kapal beserta gambaran potensi bahaya yang menyertainya:

Working at Height (Bekerja di Ketinggian)

Salah satu aktivitas kerja di galangan kapal adalah bekerja di ketinggian (working at height). Kebutuhan bekerja di ketinggian ini untuk menjangkau bagian-bagian kapal yang sedang dikerjakan. Bekerja di ketinggian termasuk kategori pekerjaan yang memiliki resiko kecelakaan dengan dampak fatal. 

Beberapa potensi bahaya terkait bekerja di ketinggian, di antaranya: terjatuh dari ketinggian, terperosok, posisi kerja terbatas atau gerak tubuh yang kikuk (tidak ergonomi), dan potensi orang tertimpa peralatan atau material.

Oleh sebab itu, sebelum melakukan pekerjaan di ketinggian perlu adanya persiapan-persiapan untuk mengendalikan potensi bahaya yang ada. Sebagai acuan regulasi untuk keselamatan bekerja di ketinggian, kita dapat merujuk kepada Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan pada Ketinggian.

Berdasarkan regulasi tersebut, upaya pencegahan kecelakaan dapat dilakukan dengan cara penyediaan akses bekerja di ketinggian, mengurangi aktivitas di ketinggian (jika memungkinkan), memasang pembatas pada permukaan-permukaan yang terbuka, penggunaan alat work restraint untuk pencegahan jatuh. Dan sebagai langkah terakhir adalah penggunaan full body harness sebagai alat pelindung jatuh.

Confined Sace Entry (BeKerja di Ruang Terbatas)

Kegiatan di ruang terbatas (confined space entry) merupakan aktivitas yang tidak dapat dihindari dalam proses produksi di galangan kapal. Pembuatan atau perbaikan ruang-ruang tangki bahan bakar atau kompartemen mengharuskan pekerja untuk beraktivitas di ruang terbatas.

Beberapa pekerjaan yang biasanya harus dilakukan di ruang terbatas antara lain: inspection (pengecekan) yang dilakukan oleh petugas quality control (QC) atau oleh petugas surveyor dari pemerintah (Biro Klasifikasi Indonesia), kegiatan cleaning tank, bahkan pekerjaan panas (hotwork) seperti pemotongan menggunakan flame cutting, pengelasan (welding), dan lain sebagainya. 

Agar pekerjaan dapat dilakukan dengan aman, maka diperlukan upaya untuk mengidentifikasi potensi bahaya yang berkaitan dengan pekerjaan di ruang terbatas. Perlu diketahui bahwa potensi bahaya terkait pekerjaan di ruang terbatas cukup beragam dan dapat berakibat fatal jika gagal dalam melakukan pengendalian resiko.

Ancaman bahaya bekerja di ruang terbatas meliputi: kekurangan oksigen, kekurangan pencahayaan, ketakukan tak beralasan (claustrophobia), potensi gas berbahaya (metan, CO dan H2S), potensi terjatuh, terperosok bahkan  terperangkap (engulfment) di dalam ruang terbatas. 

Selain bahaya yang disebabkan oleh karakteristik ruang terbatas, potensi bahaya juga dapat dikarenakan oleh peralatan kerja yang digunakan. Misalnya, kebutuhan pencahayaan dan alat sirkulasi udara (blower) menimbulkan adanya resiko bahaya arus listrik. 

Kerja panas (hot work) di dalam ruang terbatas juga dapat menambah, yakni potensi bahaya ledakan, keracunan uap atau asap dari pekerjaan, atau turunnya kadar oksigen akibat terdesak gas yang dihasilkan oleh pekerjaan panas.  

Regulasi pemerintah tentang keselamatan bekerja di ruang terbatas tertuang dalam Keputusan Dirjen Pembinaan dan  Pengawasan Ketenagakerjaan Nomor IX tahun 2006 tentang Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Ruang Terbatas (confined space entry).

Hot Work (Kerja Panas)

Proses produksi di galangan kapal tidak dapat terlepas dari berbagai aktivitas kerja panas (hot work). Dimulai dari proses pemotongan (cutting) material, perakitan bagian-bagian (fit up), pekerjaan pengelasan (welding), pemanasan permukaan (firing), gouging, brazing grinding dan lain sebagainya.

Karakteristik kerja panas yang melibatkan atau menghasilkan nyala api berpotensi menimbulkan resiko kebakaran maupun ledakan. Percikan logam panas dan api terbuka berpotensi menimbulkan luka bakar ringan hingga tingkat yang serius terhadap pekerja.

Demi keselamatan dalam bekerja, perlu dilakukan langkah-langkah pengendalian bahaya sebelum memulai kerja panas, antara lain: pengecekan sebelum bekerja (hot work checklist), penerbitan izin kerja panas (hot work permit), dan upaya mitigasi lain yang diperlukan terkait bahaya kebakaran dan ledakan.

Regulasi pemerintah Republik Indonesia yang mengatur tentang penanggulangan bahaya kebakaran dan ledakan di perusahaan antara lain:  

  • Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor: 04 Tahun 1980 tentang Syarat-Syarat Pemasangan APAR,
  • Instruksi Menteri Tenaga Kerja Nomor: INS. 11/M/BW/1997 tentang Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan Kebakaran,
  • Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor: 186 Tahun 1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja.

High Pressure Equipment (Bekerja dengan Alat Bertekanan)

Alat kerja bertekanan (high pressure equipment) yang dimaksud di sini adalah peralatan yang melibatkan adanya wadah terisi gas atau udara bertekanan. Wadah tersebut biasa juga disebut bejana bertekanan. Pada umumnya di galangan menggunakan bejana bertekanan, seperti tabung oksigen (O2 cylinder), kompresor dan sand pot blasting. Beberapa galangan juga menggunakan air bag atau balon untuk proses penarikan dan penurunan kapal .

Seperti diketahui bahwa oksigen merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kegiatan pemotongan (cutting) dan fitting, sehingga pekerjaan di galangan kapal tidak dapat terlepas dari penggunaan tabung oksigen. Sementara itu, kompressor digunakan dalam aktivitas antara lain pekerjaan sand blasting, water jetting, kegiatan memompa airbag, maupun pada pekerjaan pengecatan (spray painting).

Beberapa aktivitas lain di galangan kapal juga melibatkan tekanan tinggi, seperti kegiatan uji kebocoran tangki kompartemen dengan metode air test, yakni dengan memompa udara ke dalam kompartemen menggunakan kompressor, lalu kemudian memeriksa hasil pengelasan (welding) pada setiap sambungan pelat. Kegiatan uji kebocoran dengan metode hydrotest juga memanfaatkan tekanan tinggi untuk menguji kebocoran sistem perpipaan di kapal.

Kebutuhan produksi di galangan kapal mengharuskan bekerja menggunakan peralatan bertekanan. Mengingat resiko kecelakaan yang berpotensi ditimbulkan dapat berakibat fatal, maka demi keselamatan diperlukan upaya pengendalian resiko secara maksimal. Bahaya utama dari pekerjaan bertekanan adalah potensi ledakan. Sehingga dalam penggunaannya perlu penanganan khusus agar resiko terkait dapat diminimalisir.

Syarat kelayakan suatu bejana bertekanan perlu dibuktikan dengan adanya sertifikat konstruksi bejana dan surat izin penggunaan dari dinas tenaga kerja RI. Selain persyaratan izin, pengujian dan perawatan secara berkala oleh internal pengurus juga wajib dilakukan. 

Sebagai bahan dalam upaya penerapan keselamatan penggunaan bejana bertekanan, pemerintah RI telah menerbitkan regulasi berupa  Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bejana Tekanan dan Tangki Timbun.

Bekerja di Tepi Permukaan Air

Terkadang, dalam kondisi tertentu, proses produksi mengharuskan pekerjaan dilakukan di atas atau di tepi permukaan air. Pekerjaan itu meliputi proses mooring kapal yang akan melakukan docking, maupun perbaikan-perbaikan yang perlu dilakukan selama kapal tertambat.

Pada aktivitas menyeberang dari jetty menuju kapal, atau saat perpindahan pekerja dari kapal ke kapal memiliki potensi orang terjatuh. Resiko terjatuh ke air dapat berakibat kematian. Penyebabnya beragam, karena tidak mampu berenang, terbawa arus atau mengalami benturan sehingga tidak sadarkan diri dan tenggelam.   

Dengan beberapa kejadian serupa di tempat lain dalam industri yang sama mengisyaratkan bahwa resiko pekerja terjatuh ke air cukup tinggi. Oleh sebab itu, pekerjaan di atas atau di tepi permukaan air perlu mendapatkan perhatian dari pihak manajemen perusahaan.

Berbagai cara pengendalian bahaya bekerja di tepi/atas permukaan air dapat ditempuh dengan menyediakan pagar (guard rail) pada bagian tepi. Akses untuk naik dan turun dari kapal juga perlu dipersiapkan. Jika tidak memungkinkan untuk pemasangan guard rail, maka perlu ditetapkan aturan penggunaan alat pelindung diri berupa pelampung (life jacket) saat berada di tepi atau di atas permukaan air. 

Painting (Pengecatan)

Painting atau pengecatan pada konstruksi kapal, selain untuk memberikan warna yang menarik juga sebagai pelapis (coating) terhadap permukaan logam untuk mencegah proses terbentuknya karat (korosi). Mengingat bahwa permukaan lambung kapal akan menghadapi medan yang ekstrem, maka bahan cat yang digunakan pun berupa bahan khusus.

Namun sayangnya, karena kebutuhan bahan cat yang khusus tersebut juga membawa resiko buruk terhadap kesehatan manusia dan biota di lingkungan sekitar. Sehingga dalam penggunaan cat perlu diperhatikan, mulai dari penyimpanan, pengangkutan, proses pemakaian hingga pasca penggunaan cat. Limbah dari kegiatan ini dapat berupa sisa cat dan thinner, maupun kaleng yang tercemar.

Pekerjaan painting di dalam ruangan/tangki juga merupakan bagian pekerjaan beresiko tinggi. Uap dari aktivitas pengecatan yang terakumulasi di dalam tangki, dapat menimbulkan kebakaran dan ledakan. Hal itu sangat mungkin terjadi, baik pada saat proses pengaplikasian cat maupun setelah pekerjaan selesai dilakukan. 

Demi alasan keselamatan dalam pekerjaan painting, wajib memperhatikan informasi yang ada di dalam material safety data sheet (MSDS) produk cat, dan regulasi pemerintah yang mengatur tentang hal ini. 

Sebagai bahan rujukan, kita dapat melihat beberapa regulasi pemerintah berikut ini; 

  • Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No.KEP. 187/MEN/1999 tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja,
  • Peraturan Menteri Tenaga Kerja,  Transmigrasi Nomor Per.13/Men/X/2011 Tahun 2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja,
  • SNI 19-0232-2005 Nilai Ambang Batas (NAB) zat kimia di udara tempat kerja.

Lifting Operation (Operasional Pengangkatan)

Di dalam proses menyatukan (assembling) bagian-bagian konstruksi kapal diperlukan bantuan pesawat angkat dan angkut untuk melakukan operasional pengangkatan (lifting operation). Macam-macam pesawat angkat yang biasa digunakan antara lain: forklift, tower crane, overhead crane dan mobile crane, dll.

Penggunaan pesawat angkat dan angkut memiliki bermacam potensi bahaya yang harus dicegah untuk menghindari kerugian. Diperlukan persiapan-persiapan sebelum melakukan aktivitas. Baik kesiapan alat, operator maupun metode pengoperasiannya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait kegiatan pengangkatan adalah; pesawat angkat dan angkut dalam kondisi layak dioperasikan. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya sertifikat atau surat kelayakan dari badan atau pihak berwenang, dalam hal ini adalah Dinas Tenaga Kerja.

Selain pesawat angkat dan angkut dalam kondisi layak, operator juga harus merupakan orang-orang yang telah terlatih. Hal itu dibuktikan dengan sertifikat pelatihan serta surat izin operasional dari Kementerian Tenaga Kerja RI.

Jika alat angkat dan angkut, operator telah memenuhi persyaratan, maka selanjutnya adalah metode atau prosedur dalam operasional pengangkatan. Tim yang bertugas melakukan pengangkatan harus memahami dengan benar antara kemampuan alat angkat dan beban yang akan diangkat. Petugas yang biasanya melakukan ini di perusahaan adalah seorang juru ikat atau rigger.

Olah gerak pesawat angkat dan angkut, area-area kerja, serta orang-orang yang mungkin terdampak aktivitas pengangkatan harus diperhatikan. Jika diperlukan, tim yang melakukan kegiatan pengangkatan dapat memasang pembatas area (barricade), untuk mencegah orang lain masuk ke area berbahaya.

  • Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No 5 Tahun 1985 tentang Pesawat Angkat dan Angkut;
  • Peraturan Menteri tenaga Kerja dan Transmigrasi RI Nomor 9 Tahun 2010 tentang Operator dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut

Electrical (Penggunaan Tenaga Listrik)

Untuk kebutuhan mesin las, mesin gerinda, blower, lampu penerangan area kerja, pompa listrik, dan berbagai macam kebutuhan lainnya yang memerlukan tenaga listrik. Sehingga fungsi tenaga listrik cukup penting dalam aktivitas produksi di galangan kapal.

Aktivitas kerja di galangan pada umumnya dilakukan di tempat terbuka dan berpindah-pindah titik. Sehingga peralatan listrik yang digunakan bersifat sementara (temporary). Kondisi demikian tentu menambah resiko sewaktu-waktu jaringan listrik dapat terjadi kebocoran disebabkan karena penggunaannya selalu berpindah-pindah. 

Penggunaan tenaga listrik di outdoor juga perlu menjadi perhatian bagi pekerja, bahwa resiko akan meningkat jika peralatan kelistrikan dalam kondisi basah akibat terkena hujan. Demi keselamatan, penggunaan peralatan kelistrikan yang kedap air (water proof) sangat dianjurkan.

Selain itu, perlengkapan keselamatan untuk peralata juga harus dilengkapi, misalnya autobreker panel listrik yang mampu memutuskan arus secara otomatis jika terjadi hubungan singkat (short circuit). Pemasangan pembumian (grounding) dan pengecekan alat kelistrikan secara rutin untuk memastikan isolatornya dalam kondisi utuh.

Sebagai pedoman dalam menyediakan dan menggunakan  tenaga listrik secara aman dapat mengacu pada Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2011.

Radiography Test (Uji Radiografi)

Tahap akhir pembangungan konstuksi kapal sebelum dilakukan coating adalah pengujian untuk memastikan ketahanan konstruksi. Pengujian dilakukan pada titik-titik hasil pengelasan di setiap sambungan.

Salah satu metode pengujian yang umum dilakukan adalah uji tidak rusak (Non Destructive Test) dengan menggunakan kamera radioaktif atau X-Ray. Dari gambar yang didapatkan akan memperlihatkan hasil pengelasan secara keseluruhan. 

Seperti dijelaskan dari berbagai sumber tentang dampak paparan radioaktif, yakni dapat menimbulkan efek somatik maupun genetik. Sehingga bukan hal yang berlebihan jika berurusan dengan radioakatif harus ekstra berhati-hati, baik dalam penyimpanan, pengangkutan maupun penggunaannya.

Untuk upaya menurunkan resiko terjadinya paparan radioaktif ini, perlu mempertimbangkan tingkat urgensi penggunaannya. Jika memungkinkan, sebaiknya menggunakan metode pengujian lain namun memiliki fungsi yang sama. Atau biasa disebut dengan metode subtitusi.

Namun, jika sekiranya penggunaan radioaktif benar-benar harus dilakukan, maka langkah-langkah untuk keselamatan wajib dilakukan secara maksimal.

Upaya keselamatan yang dapat dilakukan di antaranya; penyerahan pekerjaan kepada pihak eksternal yang memang secara khusus menangani masalah radioaktif. Membatasi atau mengisolasi area yang terdampak, sehingga menurunkan resiko orang lain terpapar.

Beberapa regulasi pemerintah RI yang mengatur tentang radioaktif:

  1. Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 7 Tahun 2009 tentang Keselamatan Radiasi dalam Penggunaan Peralatan Radiografi Industri;
  2. Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 Tahun 2008 tentang Perizinan Pemanfaatan Sumber Radiasi Pengion dan Bahan Nuklir;
  3. Peraturan Pemerintah RI Nomor 33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan  Keamanan Sumber Radioaktif.

Ada banyak lagi aktivitas-aktivitas kerja di galangan yang memiliki potensi bahaya dan perlu diidentifikasi untuk dilakukan pengendalian guna mencegah terjadinya kecelakaan. Di dalam prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3),  semakin banyak  potensi bahaya dari suatu pekerjaan yang teridentifikasi, maka semakin lengkap pula upaya pengendalian yang dapat dilakukan. Sehingga dengan begitu, resiko dapat diturunkan. 

sumber:

1. Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Direktorat Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan R.I; 

2. Shipyard Industry Standards, U.S. Department of Labour, Occupational Safety and Health Administration, OHSA 2268-10R 2014