11 Pertanyaan Wawancara Kerja untuk Safety Officer

Wawancara kerja adalah hal yang penting untuk dipersiapkan karena merupakan salah satu penentu diterima atau tidaknya seseorang bekerja di perusahaan. Khusus bagi rekan-rekan calon safety officer yang sedang menunggu panggilan wawancara kerja di perusahaan impiannya, ada baiknya mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan itu nantinya. Kira-kira apa saja pertanyaan yang akan muncul dalam wawancara kerja safety officer yah?.

Saya beberapa kali diminta mewawancarai calon safety officer, ada beberapa pertanyaan yang saya anggap penting untuk ditanyakan kepada kandidat. Hal ini bertujuan untuk menilai seberapa mampu ia nantinya bekerja untuk posisi tersebut. Mengingat bahwa jabatan sebagai safety officer di perusahaan merupakan posisi yang “seksi”, saya merasa perlu berhati-hati dalam menyeleksi. Berikut pertanyaan yang biasa saya ajukan di dalam wawancara kerja untuk posisi safety officer:

Wawancara kerja safety officer

1. Sebutkan beberapa regulasi pemerintah RI tentang K3!

Untuk melihat seberapa jauh kandidat mengerti tentang regulasi pemerintah yang mengatur tentang keselamatan dan kesehatan kerja. Seorang petugas K3 atau safety officer wajib mengetahui dasar ia bekerja, yakni salah satunya mengacu kepada peraturan dan perundang-undangan K3. Saya biasanya meminta untuk menyebutkan minimal 3 peraturan atau undang-undang terkait K3.

  • Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja
  • Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan
  • Peraturan pemerintah nomor 50 Tahun 2012 tentang sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
  • dll.

2. Jelaskan tugas dan tanggung jawab safety officer di perusahaan!

Penting untuk menilai seberapa paham kandidat dengan tugas dan tanggung jawabnya di perusahaan. Kandidat seharusnya bisa menjawab dengan menjelaskan tugas-tugas pokok safety officer. Mulai dari daily activity, weekly dan monthly.

Tugas dan tanggung jawab safety officer dapat berupa daily inspection, mencatat dan melaporkan temuan-temuan terkait K3, memberikan saran-saran perbaikan, aktif melakukan promosi K3, memastikan fasilitas dan alat keselamatan dalam kondisi lengkap dan layak digunakan, berpartisipasi aktif dalam penanganan jika imbul insiden di tempat kerja.  

3. Beberapa fasilitas dan alat keselamatan kerja yang biasanya diperlukan di perusahaan!

Pertanyaan ini untuk melihat seberapa jauh pemahaman kandidat terhadap fasilitas dan alat-alat keselamatan yang diperlukan pada sebuah perusahaan. Minimal kandidat bisa menyebutkan 5 fasilitas atau peralatan keselamatan secara umum. Misalnya, muster point, jalur evakuasi, alat pemadam api ringan (APAR), fire hydrant, gas tester, sound level meter, dan alat-alat pelindung diri.

4. Sebutkan lima level pengendalian risiko (risk control), dan contohnya masing-masing!

Seorang safety officer wajib tahu level pengendalian risiko di tempat kerja. Pengendalian risiko tersebut antara lain:

  • Eliminasi, yakni menghilangkan sumber-sumber bahaya.
  • Subtitusi, yakni dengan mengganti bahan atau alat yang lebih aman dan ramah lingkungan.
  • Rekayasa teknis (engineering), yakni membuat desain, memasang isolasi terhadap alat atau pun tempat kerja agar aman.
  • Administratif, yakni dengan membuat prosedur kerja, instruksi kerja, pengaturan roster kerja, sistem work permit, dan lain sebagainya.
  • Penggunaan alat pelindung diri (APD), dapat berupa safety helmet, wearpack, safety glass, hand glove, ear muff, safety shoes dan lain sebagainya. 

Kandidat safety officer harus memahami opsi-opsi pengendalian risiko, sehingga tidak berpatok hanya pada penggunaan alat pelindung diri. Dengan mengetahui langkah-langkah pengendalian risiko, safety officer tidak akan lagi dipandang terlalu kaku.

5. Jelaskan tentang izin kerja (work permit), sebutkan beberapa jenisnya!

Izin kerja atau work permit merupakan langkah pengendalian risiko (risk control) pada level administratif. Fungsinya untuk mengkoordinasikan pekerjaan agar tidak terjadi aktivitas kerja yang saling bertentangan sehingga menimbulkan insiden. 

Berdasarkan jenisnya, work permit dibagi menjadi hot work permit dan cold work permit. Hot work permit atau izin kerja panas biasanya diterapkan pada pekerjaan pengelasan, flame cutting, grinding, firing, dan aktivitas lain yang menimbulkan atau melibatkan percikan api. Sementara cold work permit digunakan untuk aktivitas seperti bekerja di ruang terbatas (Confined space entry permit), Working at heigth permit, X-ray permit.

6. Apa yang anda ketahui tentang syarat K3 bekerja di ketinggian?

Bekerja di ketinggian adalah aktivitas yang dilakukan oleh orang atau tenaga kerja pada tempat yang memiliki perbedaan level dan memiliki potensi jatuh yang menyebabkan cedera atau kerugian. Bekerja di ketinggian biasa dilakukan di atas permukaan tanah atau pun permukaan air. 

Agar aman bekerja di ketinggian, perlu diperhatikan kesiapan personel, pastikan dalam kondisi fit, tidak fobia ketinggian dan memahami praktek kerja aman. Pastikan akses untuk ketinggian dalam keadaan layak dan diperhitungkan kekuatannya. Untuk aktivitas di permukaan terbuka, karyawan wajib menggunakan alat pelindung jatuh (full body harness atau work restrain) dll.

7. Jelaskan syarat-syarat K3 kerja panas (hot work)!

Pertama, identifikasi potensi-potensi bahaya kebakaran dan ledakan di sekitar lokasi pekerjaan. Amankan material yang mudah terbakar, pindahkan agar tidak terjangkau percikan api, jika tidak memungkinkan maka tutup dengan bahan yang tahan api. Bisa menggunakan fire blanket. Perlu juga menugaskan penjaga api (fire watcher) dan pastikan tidak ada sisa nyala api sebelum meninggalkan lokasi kerja. 

Hot work atau kerja panas perlu dipersiapkan mengingat risiko yang bisa dimbulkannya. Disarankan menggunakan hot work permit sebelum memulai pekerjaan. Ini dimaksudkan untuk pengontrolan dan pengawasan setiap pekerjaan panas di tempat kerja. 

8. Terangkan syarat K3 bekerja di ruang terbatas (Confined Space Entry)!

Syarat K3 bekerja di ruang terbatas, yang pertama adalah pastikan personel telah terlatih dan memahami risiko bekerja di ruang terbatas. Untuk persyaratan personel ini harus mengikuti pelatihan kerja di ruang terbatas. Pengecekan atmosfer ruangan menggunakan gas tester oleh petugas yang kompeten (authorized gas tester) penting untuk mengetahui keamanan ruangan. 

Penerapan permit kerja (confined space entry permit) diperlukan untuk pengawasan kerja di ruang terbatas. Umumnya, pada form CSE permit ini secara detail telah mencantumkan syarat-syarat yang perlu dipenuhi saat akan bekerja di ruang terbatas. 

9. Apa yang akan anda lakukan jika menemukan insiden di tempat kerja?

Jika dalam aktivitas kerja terjadi insiden, maka safety officer diharapkan mampu mengambil langkah-langkah:

  • Segera meminta bantuan kepada petugas first aid di section terdekat atau melapor kepada atasan,
  • Memeriksa kondisi jika ada yang cedera dengan terlebih dahulu memastikan lokasi aman,
  • Memberikan pertolongan kepada korban cedera jika memungkinkan, 
  • Memastikan prosedur darurat insiden dijalankan oleh petugas masing-masing,
  • Memastikan lokasi kejadian dan bukti-bukti untuk kepentingan investigasi tidak berubah atau hilang, 

10. Bagaimana sikap anda terhadap karyawan yang sengaja mengabaikan K3?

Kemampuan komunikasi seorang safety officer sangat diperlukan untuk melakukan promosi K3. Kandidat safety officer diharapkan mampu menggambarkan langkah-langkah persuasif yang perlu dilakukan terhadap karyawan yang menolak program K3 di perusahaan. 

Kandidat safety officer harus mampu melakukan pendekatan dengan menanyakan kendala yang menjadi alasan karyawan menolak program K3, apa yang menjadi harapan tenaga kerja terkait program K3 perusahaan, saran-saran yang mungkin ingin mereka sampaikan, dan memberikan pemahaman bahwa program K3 adalah keputusan manajemen perusahaan.

11. Apa tantangan terbesar bekerja sebagai safety officer, dan bagaimana anda menyikapinya?

Tidak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan ini. Ada kemungkinan banyak tantangan dalam penerapa K3 di perusahaan. Tetapi pada umumnya, tantangan terbesar berasal dari sikap pimpinan perusahaan yang mengabaikan program-program K3 di perusahaan. 

Cara menyikapi pimpinan yang bersikap menolak program K3 bisa dengan sesering mungkin melakukan pendekatan, bahkan pendekatan secara personal. Meminta saran-saran perbaikan juga bisa perlahan-lahan menumbuhkan partisipasi dari pimpinan. 

Kesimpulan

Semua daftar pertanyaan di atas adalah merupakan poin-poin yang biasa saya ajukan saat melakukan wawancara kerja. Tentu saja bukan pertanyaan yang mutlak digunakan dalam setiap wawancara kerja. Tergantung kepada tujuan user hendak menggali informasi apa yang diperlukan dari kandidatnya.  

Semoga daftar pertanyaan tersebut bisa memberikan gambaran dan jawabannya bisa dipersiapkan bagi rekan-rekan yang baru akan memulai karir di bidang K3 atau sebagai safety officer. Mungkin di antara rekan-rekan pembaca ada yang memiliki daftar pertanyaan yang lain, boleh tambahkan di kolom komentar. Salam….

Leave a Comment